- Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, bursa saham dan rupiah ambruk
- Wall street kompak menguat ditopang saham teknologi
- Perkembangan perang, MSCI dan data ekonomi dalam negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali babak belur pada perdagangan Senin (10/5/2026). Bursa saham melemah dan rupiah ambruk.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin kemarin (10/5/2026) melemah 0,92% ke 6905,62. IHSG sudah ambruk 3,74% dalam dua hari terakhir.
Sepanjang perdagangan, tercatat 251 saham menguat, 442 saham melemah, dan 125 saham stagnan. Aktivitas transaksi terbilang ramai dengan volume mencapai 41,5 miliar saham, nilai transaksi sebesar Rp20,5 triliun, serta frekuensi perdagangan 2,8 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp12.283 triliun.
Asing masih mencatat net sell sebesar Rp 751,2 miliar rupiah.
Mayoritas indeks sektoral bergerak di zona merah, hanya sektor infrastruktur yang mampu bertahan di area positif.
Di tengah tekanan indeks, sejumlah saham justru mencatatkan lonjakan signifikan. Saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) melesat 34,67% ke Rp202, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) naik 34,62% ke Rp140, dan PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) menguat 34,16% ke Rp216.
Namun tekanan juga cukup dalam pada beberapa saham, dengan PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) terkoreksi 15% ke Rp340, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) turun 14,91% ke Rp388, serta PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP) melemah 14,90% ke Rp2.970.
Dari pasar mata uang,nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan pertama pekan ini di zona merah atau terdepresiasi 0,26% ke posisi Rp17.405/US$.
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan kemarin terjadi di tengah penguatan dolar AS. Permintaan terhadap dolar kembali meningkat seiring naiknya kebutuhan terhadap aset safe haven.
Sentimen tersebut dipicu oleh belum adanya titik terang dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama 10 pekan.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 6,638% pada Senin kemarin. Posisi ini adalah yang terendah sejak 21 April 2026.
Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN tengah naik karena dibeli investor.
source on Google












































