Ramai-Ramai Bank Sentral Borong Emas Lagi, Ada China

3 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

11 May 2026 14:35

Jakarta, CNBC Indonesia- Bank sentral dunia masih gemar membeli emas di tengah bergejolaknya harga logam mulia tersebut.

Pasar masih menahan posisi di aset aman sambil menunggu kepastian arah konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Pada hari ini, Senin (11/5/2026) pukul 12.50 WIB, harga emas ada di US$ 4659,55 per troy ons atau ambruk 1,13%.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan akhir pekan lalu. Harga emas pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (8//5/2026) ditutup di posisi US$ 4714,42 per troy ons. Harganya menguat 0,62%.

Harga penutupan ini adalah yang tertinggi sejak 22 April 2026 atau lebih dari dua minggu lebih.

Dalam sepekan, harga emas menguat 2,18% pekan ini. Kenaikan ini sekaligus mengakhiri tren buruk pelemahan dalam dua pekan sebelumnya.

Harga emas sempat ambruk karena tingginya harga minyak. Lonjakan harga dikhawatirkan mengerek inflasi sehingga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) sulit memangkas suku bunga.

Namun, pelemahan harga emas sedikit tertahan oleh masih tingginya permintaan bank sentral.

Laporan World Gold Council (WGC) memperlihatkan total permintaan emas dunia sepanjang kuartal I-2026 mencapai 1.231 ton atau naik 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi nilai, lonjakannya jauh lebih besar. Nilai permintaan emas global melonjak 74% menjadi US$193 miliar, tertinggi sepanjang sejarah.

Permintaan terbesar datang dari pembelian emas batangan dan koin. Volumenya mencapai 474 ton atau naik 42% secara tahunan. Investor Asia menjadi pendorong utama setelah agresif masuk ke produk investasi berbasis emas saat volatilitas pasar global meningkat.

Permintaan ETF emas juga masih tumbuh. Sepanjang kuartal I-2026, pembelian ETF emas bertambah 62 ton. Angka ini memang lebih rendah dibanding kuartal I-2025 yang mencapai 230 ton karena sempat terjadi arus keluar dana besar dari ETF berbasis AS pada Maret lalu.

Di sisi lain, lonjakan harga membuat konsumsi perhiasan emas tertekan. Volume permintaan perhiasan turun 23% dibandingkan tahun lalu. Namun nilai belanja perhiasan masih naik 31%. Kondisi ini memperlihatkan konsumen tetap membeli emas meski harganya mahal.

Permintaan dari sektor teknologi ikut bertambah. Penggunaan emas untuk industri teknologi naik 1% menjadi 82 ton. Kenaikan banyak ditopang ekspansi infrastruktur artificial intelligence (AI) yang meningkatkan kebutuhan komponen elektronik berbasis emas.

Bank sentral dunia juga masih aktif menambah cadangan logam mulia. Sepanjang kuartal I-2026, pembelian bersih bank sentral mencapai 244 ton atau naik 3% dibandingkan tahun lalu, meski aktivitas penjualan juga mulai meningkat di beberapa negara.

China menjadi salah satu negara yang paling konsisten menambah cadangan emas tahun ini. Hingga Maret 2026, cadangan emas China mencapai 2.313,5 ton atau sekitar 9,1% dari total devisanya. Posisi tersebut membuat China menjadi pemilik emas terbesar keenam dunia, mendekati Rusia yang memiliki 2.304,7 ton.

Amerika Serikat masih menjadi pemilik emas terbesar global dengan cadangan mencapai 8.133,5 ton. Porsinya bahkan mencapai 83,3% dari total cadangan devisa negara tersebut. Jerman berada di posisi kedua dengan 3.350,3 ton, disusul IMF sebesar 2.814 ton, Italia 2.451,8 ton, dan Prancis 2.437 ton.

Dari sisi pembelian terbaru, Polandia menjadi negara paling agresif menambah emas bank sentral pada 2026. Hingga Februari, negara tersebut membeli 11,2 ton emas. Uzbekistan menyusul dengan pembelian 8,7 ton dan Kazakhstan 6 ton.

China membeli 5 ton emas pada periode yang sama. Guatemala menambah 2,5 ton, sementara Republik Ceko membeli 1,7 ton. India, Singapura, Mesir, Serbia, dan Kyrgyzstan juga tercatat masih menambah cadangan emas meski dalam jumlah lebih kecil.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research