Mata Uang Asia Ramai-Ramai Kebakaran: Ringgit - Rupiah Ambruk

8 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 May 2026 09:53

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026). Tekanan terjadi seiring indeks dolar AS kembali menguat.

Mengacu data Refinitiv per pukul 09.35 WIB, tekanan terhadap mata uang Asia terlihat cukup dalam. Dari 11 mata uang yang dipantau, 9 berada di zona merah dan hanya 2 yang mampu menguat terhadap dolar AS.

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan cukup dalam pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,55% ke level Rp17.500/US$.

Level tersebut menjadi batas psikologis baru yang tertembus oleh rupiah dan juga menjadi level terlemah baru rupiah sepanjang masa secara intraday.

Tekanan terdalam di Asia dicatatkan peso Filipina yang melemah 0,83% ke PHP 61,416/US$. Won Korea juga terkoreksi 0,77% ke KRW 1.485,5/US$, disusul rupiah yang melemah 0,55% ke Rp17.500/US$.

Yen Jepang turut berada di zona merah dengan pelemahan 0,31% ke JPY 157,64/US$. Baht Thailand melemah 0,28% ke THB 32,34/US$, sementara ringgit Malaysia turun 0,23% ke MYR 3,929/US$.

Dolar Taiwan juga melemah 0,20% ke TWD 31,413/US$, diikuti dolar Singapura yang turun 0,17% ke SGD 1,2704/US$. Dong Vietnam ikut terkoreksi tipis 0,03% ke VND 26.329/US$.

Di sisi lain, hanya rupee India dan yuan China yang mampu bertahan di zona hijau. Rupee India menguat tipis 0,01% ke INR 95,3/US$, sementara yuan China naik 0,03% ke CNY 6,7929/US$.

Pergerakan mata uang Asia hari ini masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di pasar global.

Indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.35 WIB terpantau menguat 0,17% ke level 98,117. Penguatan dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meragukan keberlanjutan gencatan senjata AS-Iran. Sentimen ini muncul setelah Trump menolak tawaran damai terbaru dari Teheran.

Kondisi tersebut kembali mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Saat ketidakpastian geopolitik meningkat, pelaku pasar cenderung mencari perlindungan ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Laporan juga menyebut Trump diperkirakan akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali operasi militer. Selain itu, AS juga disebut kembali mempertimbangkan rencana pengawalan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Konflik yang masih berlanjut turut menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini memperbesar risiko inflasi, karena kenaikan harga energi dapat merembet ke biaya produksi, transportasi, hingga harga barang dan jasa.

Risiko inflasi yang meningkat pada akhirnya memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi perlu dipertahankan lebih lama untuk menahan tekanan harga. Ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi menjadi sentimen positif bagi dolar AS, tetapi negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk Asia.

Kini, pelaku pasar menanti rilis data inflasi konsumen AS periode April. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk melihat seberapa besar dampak perang Iran terhadap ekonomi AS, sekaligus arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve.

Selain itu, pasar juga menanti pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini. Hubungan dagang dan isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence diperkirakan menjadi agenda utama dalam pertemuan tersebut.

Bagi mata uang Asia, penguatan dolar AS masih menjadi tekanan utama. Ketika DXY menguat, ruang penguatan mata uang kawasan cenderung menyempit karena investor lebih memilih memegang dolar AS.

Dengan sentimen tersebut, mata uang Asia masih berisiko bergerak tertekan dalam jangka pendek. Namun, arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, data inflasi AS, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research