Dunia Menanti Trump dan Xi Jinping, Siapa "Bestie" Terdekat RI?

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 May 2026 16:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini. Pertemuan ini cukup krusial karena berlangsung di tengah hubungan AS-China yang masih panas, terutama terkait dagang, teknologi, Taiwan, hingga perang Iran.

Ini akan menjadi pertemuan tatap muka keenam antara Trump dan Xi sejak Trump pertama kali menjabat sebagai Presiden AS.

Keduanya terakhir kali bertemu pada Oktober 2025 di Busan, Korea Selatan, di sela agenda APEC. Pertemuan itu menjadi tatap muka pertama mereka setelah terakhir bertemu pada 2019 di Osaka, Jepang.

Kunjungan Trump ke China kali ini juga menjadi yang pertama sejak 2017. Saat itu, Trump datang ke Beijing dalam masa jabatan pertamanya sebagai Presiden AS.

Pertemuan Trump dan Xi penting karena AS dan China adalah dua ekonomi terbesar dunia. Setiap perubahan hubungan keduanya bisa ikut memengaruhi perdagangan global, rantai pasok, harga komoditas, arus investasi, hingga pasar keuangan.

Selain itu, pertemuan ini juga penting untuk dicermati bagi Indonesia. Sebab, AS dan China sama-sama punya peran besar bagi ekonomi RI, meski bentuk hubungannya berbeda.

China Masih Jadi Pasar Ekspor Terbesar RI

Dari sisi ekspor, China masih menjadi mitra yang jauh lebih besar bagi Indonesia dibandingkan Amerika Serikat.

Berdasarkan data ekspor Indonesia ke dua negara tersebut, nilai ekspor RI ke China selalu berada di atas ekspor ke AS sepanjang 2021 hingga kuartal I-2026.

Pada 2021, ekspor Indonesia ke China tercatat sebesar US$53,77 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan ekspor ke AS yang sebesar US$25,79 miliar.

Dominasi China berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2022, ekspor RI ke China naik menjadi US$65,92 miliar, sedangkan ekspor ke AS sebesar US$28,19 miliar.

Memasuki 2023, ekspor ke China masih sangat besar, yakni US$65,03 miliar, sementara ekspor ke AS turun ke US$23,27 miliar. Pada 2024, ekspor ke China tercatat US$62,73 miliar, sedangkan ekspor ke AS sebesar US$26,53 miliar.

Kondisi serupa kembali terlihat pada 2025. Ekspor Indonesia ke China mencapai US$67,03 miliar, lebih dari dua kali lipat ekspor ke AS yang sebesar US$30,95 miliar.

Jika dibandingkan dengan 2021, ekspor Indonesia ke China pada 2025 tumbuh sekitar 24,7%. Sementara itu, ekspor ke AS naik sekitar 20,0% pada periode yang sama.

Dominasi China juga terlihat jika hubungan dagang Indonesia dengan AS dan China ditarik lebih jauh ke belakang. Nilai perdagangan Indonesia dengan AS pada 2000 tercatat sebesar US$12,78 miliar, lalu naik menjadi US$38,29 miliar pada 2024, atau tumbuh sekitar 200%.

Namun, lonjakan perdagangan Indonesia dengan China jauh lebih besar. Pada 2000, nilai perdagangan Indonesia-China masih sebesar US$7,46 miliar. Angkanya kemudian melesat menjadi US$147,99 miliar pada 2024, atau melonjak sekitar 1.882,65%.

Investasi China Makin Jauh Tinggalkan AS

Dari sisi investasi langsung atau penanaman modal asing (PMA), China juga terlihat semakin dominan dibandingkan Amerika Serikat.

Berdasarkan data realisasi investasi dari BKPM, investasi dari AS sempat lebih besar dibandingkan China pada 2010 hingga 2014. Pada 2010, realisasi investasi dari AS tercatat sebesar US$0,93 miliar, sementara China baru sebesar US$0,57 miliar.

Namun, nilai investasi mulai berubah sejak 2015. Pada tahun tersebut, investasi China untuk pertama kalinya sedikit melampaui AS, yakni sebesar US$0,94 miliar, dibandingkan AS sebesar US$0,89 miliar.

Setelah itu, laju investasi China terus melesat. Pada 2016, realisasi investasi China ke Indonesia mencapai US$2,25 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan AS yang sebesar US$1,16 miliar.

Dominasi China semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 dan 2024, Investasi China ke Indonesia masing-masing mencapai US$6,50 miliar dan US$8,10 miliar. Pada periode yang sama, investasi AS tercatat sebesar US$3,28 miliar pada 2023 dan US$3,70 miliar pada 2024.

Dengan demikian, pada 2024, nilai investasi China ke Indonesia sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan AS.

Data BKPM juga menunjukkan bahwa China tetap menjadi salah satu sumber investasi terbesar Indonesia pada 2025. Sepanjang Januari-Desember 2025, China menempati posisi ketiga negara asal PMA terbesar dengan realisasi investasi sebesar US$7,5 miliar.

Sementara itu, AS tidak masuk dalam daftar lima besar negara asal PMA pada 2025. Posisi lima besar ditempati oleh Singapura, Hong Kong, China, Malaysia, dan Jepang.

Namun, AS kembali masuk ke lima besar pada kuartal pertama di tahun ini. Realisasi investasi dari AS tercatat sebesar US$1,3 miliar, menempati posisi keempat. China tetap berada di atas AS dengan realisasi investasi sebesar US$2,2 miliar, di posisi ketiga.

Artinya, dari sisi investasi, China masih lebih besar bagi Indonesia dibandingkan AS. Dominasi China tidak hanya terlihat dari nilai investasi tahunan, tetapi juga dari konsistensinya masuk dalam jajaran negara asal PMA terbesar Indonesia.

Dari Sisi Utang, AS Masih Lebih Besar

Berbeda dengan ekspor dan investasi yang lebih condong ke China, dari sisi utang luar negeri, posisi Indonesia terhadap AS masih lebih besar dibandingkan China.

Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Bank Indonesia, posisi utang luar negeri Indonesia menurut negara asal kreditur dari AS pada Februari 2026 tercatat sebesar US$27,80 miliar.

Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan utang dari China yang sebesar US$25,57 miliar pada periode yang sama.

Namun, jarak antara keduanya kini semakin tipis. Pada awal Januari 2015, posisi utang luar negeri Indonesia dari AS sebesar US$11,21 miliar, sementara dari China sebesar US$8,54 miliar.

Artinya, dalam kurun sekitar 11 tahun, utang Indonesia dari AS naik sekitar 147,9%. Sementara itu, utang dari China melonjak lebih tinggi, yakni sekitar 199,4%.

Kenaikan yang lebih cepat dari China membuat posisi utang luar negeri Indonesia terhadap Negeri Tirai Bambu terus mendekati AS. Bahkan, China sempat beberapa kali mencatat posisi lebih besar dibandingkan AS, terutama pada periode 2015 hingga 2018, sebelum posisi utang dari AS kembali meningkat tajam setelahnya.

Dengan demikian, jika indikator yang digunakan adalah utang luar negeri, maka AS masih menjadi pihak yang lebih besar bagi Indonesia dibandingkan China.

Namun, tren jangka panjang menunjukkan bahwa eksposur terhadap China terus meningkat dan semakin mendekati posisi AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research