Setelah Trump Bersabda, Mampukah IHSG dan Rupiah Melanjutkan Pesta?

2 days ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada perdagangan kemarin. IHSG melesat dan rupiah menguat terhadap dolar AS
  • Wall Street  menguat berjamaah
  • Perkembangan tarif dagang AS, isi pidato kenegaraan Trump, serta rilis klaim awal pengangguran AS malam ini berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berhasil ditutup menguat pada perdagangan kemarin, Rabu (25/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, nilai tukar rupiah berhasil terapresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Surat Berharga Negara (SBN) dibeli investor.

Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu melanjutkan tren positif pada perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.

IHSG pada perdagangan kemarin Rabu berhasil menguat 0,50% atau naik 41,39 poin ke posisi 8.322,23. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di rentang 8.259,75 - 8.373,48 dengan pembukaan di 8.318,15.

Sebanyak 336 saham naik, 335 turun, dan 146 stagnan. Nilai transaksi pun mencapai Rp29,88 triliun yang melibatkan 52,29 miliar saham dalam 2,84 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali naik hingga mencapai Rp14.940 triliun.

Investor asing terpantau melakukan kembali melakukan aksi beli dengan total net buy sebesar Rp2,74 triliun

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau. Penguatan terbesar dipimpin sektor kesehatan yang naik 2,14% dan sektor konsumer siklikal yang menguat 1,73%, disusul sektor industri naik 0,88% serta sektor keuangan naik 0,61%.

Dari sisi emiten, penguatan IHSG banyak ditopang oleh saham perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan kontribusi 15,72 indeks poin. Disusul PT Bank Central Asia (BBCA) yang berkontribusi 9,47 indeks poin. Selain itu, emiten kertas PT Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) berhasil menyumbang 8,47 indeks poin.

Namun laju penguatan IHSG tertahan oleh tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Barito Renewables Energy (BREN) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi 6,48 indeks poin.

Diikuti PT Bank Mandiri (BMRI) yang menahan laju dengan kontribusi 5,82 indeks poin, serta PT Chandra Asri Pacific (TPIA) dengan kontribusi 5,70 indeks poin.

Beralih ke pasar mata uang, nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin Rabu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.780/US$ atau terapresiasi 0,21%. Penguatan ini menjadi pembalikan arah setelah pada pembukaan perdagangan pagi nya rupiah sempat dibuka melemah tipis 0,03% di posisi Rp16.820/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak volatil dalam rentang Rp16.845-Rp16.780/US$.

Penguatan rupiah kemarin sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Dolar terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump tidak memberi sinyal perubahan arah kebijakan tarif dalam pidato kenegaraan atau yang disebut State of the Union.

Di saat yang sama, AS mulai menerapkan tarif global sementara sebesar 10% sejak Selasa kemarin, dan pasar menilai masih terbuka ruang kenaikan menjadi 15% menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif resiprokal Trump sebelumnya.

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati komentar sejumlah pejabat bank sentral AS yang menilai suku bunga masih layak dipertahankan di tengah pasar tenaga kerja yang membaik namun risiko inflasi belum sepenuhnya reda.

Meski demikian, pasar tetap memproyeksikan peluang pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, sehingga tekanan terhadap dolar belum sepenuhnya hilang.

Koreksi dolar inilah yang pada akhirnya membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, hingga mampu ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin.

Beralih ke pasar obligasi, SBN yang memiliki tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan 0,43% menjadi 6,410%.

Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menunjukkan investor cenderung tengah masuk ke pasar SBN.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research