REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah anak-anak riang bermain sepak bola di Jalan Menteng Jaya, RW 08, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (6/8/2026) sore. Pemandangan itu hampir selalu terlihat setiap sore di tempat itu. Keterbatasan ruang bermain membuat anak-anak itu mau tidak mau bertanding sepak bola di jalanan.
Sesekali, permainan sepak bola yang gawangnya ditandai menggunakan sandal itu harus terhenti. Pasalnya, jalanan itu juga menjadi akses bagi sepeda motor berlalu-lalang. Setelah motor lewat, anak-anak kembali beraksi dengan bola plastik di kakinya seperti tengah bermain di atas rumput hijau.
"Penginnya mah main di lapangan, Bang," kata Dzaky, salah satu anak yang bermain bola di aspal jalan itu kepada Republika.
Namun keinginan itu hanya sekadar harapan. Pasalnya, tidak ada lagi lahan yang bisa digunakan untuk anak-anak bermain di kawasan itu. Alhasil, mereka terpaksa bermain di jalanan aspal.
"Maen di sini enak enggak enak. Kalau jatuh sakit, kena aspal. Ganggu jalan juga. Tapi di sini enggak ganti-gantian," bocah berusia 14 tahun itu.
Dzaky mengakui, terdapat beberapa lapangan yang ada di sekitar lingkungannya itu. Namun, lapangan itu biasa digunakan oleh anak-anak yang berbeda kelompok dengannya. Alhasil, ia dan teman-temannya kerap segan untuk bermain di lapangan tersebut.
Lapangan besar juga tersedia di Jalan Borobudur, Kelurahan Pegangsaan, Menteng. Namun, butuh waktu sekitar 30 menit bagi anak-anak berjalan kaki untuk menuju lapangan tersebut.
"Harapannya ya bisa ada lapangan di sini, bisa main bareng. Jadi anak-anak enggak harus main di jalan. Ini kan aspal, bukan buat main juga," kata Dzaky.
Jalanan yang dijadikan tempat untuk anak-anak bermain sepak bola itu berada persis di dekat rel kereta api relasi Manggarai-Tanah Abang. Hanya pagar dengan tinggi sekitar 2 meter yang membatasi lingkungan warga dengan area KAI, yang di dalamnya terdapat lahan kosong tidak digunakan PT KAI. Namun, lahan itu menjadi area yang dilarang untuk digunakan menjadi tempat bermain anak-anak.
Salah seorang pengurus RW 08, Rahmat (67 tahun), menyatakan bahwa warga sudah berulang kali meminta izin kepada KAI untuk menggunakan lahan kosong yang tak digunakan tersebut. Namun, berkali-kali juga BUMN itu tidak memberikan izin kepada warga karena alasan keamanan.
"Ya sebenarnya mah pengin warga tuh ada lapangan. Itu ada lahan di depan, tapi gak diizinin sama KAI. Kata KAI, itu soalnya jalurnya rawan, rawan pengamanan. Katanya dekat rel, banyak sinyal gitu, jalur padat," kata dia saat ditemui Republika, Kamis sore.
Laki-laki yang sejak lahir sudah tinggal di kawasan itu menyatakan bahwa warga tidak meminta dana kepada KAI untuk membuat lapangan itu. Warga hanya ingin memanfaatkan lahan yang tidak digunakan tersebut.
Menurut dia, alasan utama KAI melarang warga tidak menggunakan lahan mereka adalah faktor keamanan. Padahal, warga disebut pasti akan memperhatikan faktor keamanan jika diberikan izin menggunakan lahan tersebut. Salah satunya dengan membuat jaring pengaman agar bola tidak bisa masuk ke area perlintasan kereta.
"Kita akan buat, buat jaring, pagar supaya bolanya gak menyeberang, ya kan? Supaya mereka juga nggak bisa masuk ke rel, tapi yang namanya KAI yang punya kewenangan melarang, ya udah kita gak berani lah," kata Rahmat.
Ia menilai, keberadaan ruang terbuka memang sudah sejak lama menjadi persoalan di lingkungannya, khususnya RW 08 Menteng. Pasalnya, wilayah yang terbagi menjadi 16 RT dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 jiwa itu merupakan salah satu kawasan penduduk di Jakarta Pusat, di mana rata-rata warganya berkerja sebagai pedagang kecil. Namun, tidak ada satu pun area terbuka yang bisa dimanfaatkan anak-anak bermain sepak bola.
Karena itu, merupakan hal yang biasa anak-anak bermain sepakbola di jalanan. Warga pun tidak bisa melarang, sebab tak ada lagi lahan yang bisa dimanfaatkan. Dengan kondisi ekonomi warga yang rata-rata merupakan kelas menengah bawah, adalah suatu hal yang sulit untuk anak-anak menyewa lapangan untuk main bola.
"Makanya dengan adanya Liga Aspal kemarin udah aji mumpung, anak-anak main semua. Tapi itu kan enggak setiap hari. Sekarang, mereka main lagi di jalan," kata Rahmat.
Dengan kondisi keterbatasan itu, ia menilai, sulit untuk melakukan pembinaan kepada anak muda. Alhasil, tidak jarang anak-anak di lingkungannya mendapatkan stigma dari masyarakat sekitar.
"Contoh lah, mereka tawuran. Ini kan biang tawuran, Mas, di sini. Tapi gimana kita ngelarang-ngelarang, solusinya gak ada. Yang ada saya diprotes," kata dia.
Karena itu, ia benar-benar berharap KAI bisa mengizinkan warga bisa memanfaatkan lahan kosong milik mereka. Setidaknya, KAI bisa mendengar penjelasan warga terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Menurut Rahmat, selama ini KAI tidak pernah melakukan dialog dengan warga mengenai masalah itu. Padahal, warga hanya ingin didengar pendapatnya.
"Yang saya sayangkan kita tuh gak pernah diundang duduk bareng gitu loh. Ada Lurah, ada Camat, ada pihak manajemen KAI, ada tokoh masyarakat, ada warga, ada karang taruna, saya pengen itu," kata dia.

7 hours ago
5

















































