REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI – Indonesia mendorong kerja sama ekonomi dengan China tidak berhenti pada peningkatan perdagangan dan investasi, tetapi turut memperkuat penguasaan teknologi serta kapasitas industri nasional. Dorongan tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, pada pertengahan Juli.
Senior Advisor on Global Technology Cooperation Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Umum Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN), James Karnadi, turut mendampingi Airlangga dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026.
Pertemuan tersebut membahas penguatan hubungan perdagangan dan investasi, kerja sama industri, ekonomi digital, serta pengembangan rantai pasok antara Indonesia dan China. Kedua pihak juga membahas perkembangan program Two Countries, Twin Parks, termasuk peluang memperkuat konektivitas kawasan industri Indonesia dengan pusat produksi dan teknologi di China.
James mengatakan, kerja sama investasi perlu memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian domestik, terutama melalui transfer teknologi, pengembangan talenta, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kapasitas industri.
“Indonesia menyambut kemitraan yang terbuka dan saling menguntungkan. Namun, setiap investasi strategis juga harus memperkuat kemampuan produksi, penguasaan teknologi, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi harus berkembang sebagai pusat industri dan inovasi,” ujar James dalam siaran pers, Rabu (12/8/2026).
Menurut James, arah diplomasi ekonomi pemerintah perlu diterjemahkan ke dalam kerja sama yang menghasilkan manfaat konkret bagi perekonomian nasional. Ia juga menilai dunia usaha, generasi muda, dan diaspora Indonesia perlu dilibatkan dalam menindaklanjuti kesepakatan tingkat tinggi menjadi proyek bisnis, investasi produktif, dan pengembangan talenta.
“Diplomasi ekonomi tidak berhenti di meja pertemuan. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan kita menerjemahkan kesepakatan politik menjadi proyek nyata, kesempatan kerja, akses pasar, dan peningkatan kemampuan industri nasional,” tegasnya.
China menjadi salah satu mitra ekonomi utama Indonesia. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar 167,48 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia tumbuh 16,7 persen.
Jika digabungkan dengan Hong Kong, total investasi China dan Hong Kong di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 18 miliar dolar AS.
Selain perdagangan dan investasi, pertemuan tersebut membahas kerja sama ekonomi digital, rantai pasok, serta pengembangan kawasan industri. Kedua pihak juga mengevaluasi implementasi nota kesepahaman investasi senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS, termasuk peluang penguatan kawasan industri di Batam.
Di tengah persaingan teknologi global, James menilai Indonesia perlu mempertahankan ruang untuk bekerja sama dengan berbagai negara sekaligus memastikan kepentingan nasional tetap menjadi pijakan dalam setiap kemitraan.
“Indonesia dapat bekerja sama dengan semua pihak tanpa kehilangan kemandirian dalam menentukan arah pembangunan. Posisi kita harus jelas: terbuka terhadap kolaborasi, tetapi tetap berdaulat atas teknologi, data, sumber daya, dan masa depan industri nasional,” kata James.

4 hours ago
2

















































