REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Angka-angka itu berbicara lebih keras dari rudal mana pun.
Sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran, menghantam fasilitas-fasilitas vital, merenggut ribuan nyawa, dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dunia memang sibuk menghitung kehancuran di Teheran. Namun kehancuran yang paling strategis justru tidak terjadi di daratan Iran. Ia terjadi di atas air.
Sekitar 1.900 kapal komersial tertahan. Sebagian besar menjatuhkan jangkar di perairan terbuka, menunggu entah apa. Selat Hormuz, jalur sempit yang tidak lebih lebar dari 54 kilometer di titik tersempitnya namun menanggung beban 20 persen pasokan minyak dunia dan sepertiga perdagangan gas alam cair global, mendadak menjadi ruang yang paling sepi sekaligus paling menentukan di muka bumi.
Iran tidak perlu menembakkan satu rudal pun ke pasar keuangan global. Cukup dengan membiarkan kapal-kapal itu berdiam di tempat.
Peta Kawan dan Lawan yang Ditulis di Atas Air
Yang membuat blokade ini lebih menarik dari sekadar tindakan militer adalah cara Iran mengelolanya: bukan dengan menutup selat secara total, melainkan dengan memilah. Teheran menciptakan sebuah arsitektur selektif yang, jika dibaca dengan cermat, adalah peta geopolitik dunia yang paling jujur yang pernah ada.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berkata dengan tenang namun tegas kepada dunia: "Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz." Kemudian ia menambahkan kalimat yang tidak bisa lebih lugas dari itu: Teheran tidak punya alasan untuk mengizinkan "kapal-kapal musuh" melewati selat tersebut.
Dengan satu pernyataan, Iran tidak hanya memblokade jalur minyak. Ia sedang mengumumkan kepada dunia: inilah daftar negara yang kami percaya, dan inilah daftar negara yang harus membayar harga atas ketidaknetralan mereka.
Daftar itu terasa seperti cermin yang dihadapkan ke wajah tatanan global yang selama ini diklaim sebagai "berbasis aturan." China dan Rusia, dua kekuatan yang selama bertahun-tahun dicitrakan Barat sebagai ancaman terhadap tatanan internasional, justru menjadi yang pertama mendapat jaminan perlintasan.
Sementara sekutu-sekutu lama Washington di Eropa dan Asia yang terbiasa menikmati perlindungan payung keamanan Amerika kini berdiri di antrean panjang, melobi Teheran satu per satu dengan topi di tangan.
sumber : Antara

3 hours ago
1











































