Santriwati penyandang tunarungu beraktivitas di Pesantren Tahfiz Difabel, Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (22/10/2025). Pondok Pesantren Tahfiz Difabel tersebut didirikan pada 2022 dengan jumlah santriwati saat ini sekitar 40 orang. Para santriwati dibimbing untuk belajar materi keagaamaan dan menghafal Alquran dengan metode bahasa isyarat. Salah satu santriwati Poppy (17) merasa terbantu dengan adanya pesantren tersebut, selain untuk memahami Alquran dan materi keagaamaan ia juga berharap dapat meraih cita-citanya sebagai seorang dokter dan pengajar bagi kelompok disabilitas tunarungu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pimpinan pesantren menilai Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) tidak membatasi ruang berekspresi, melainkan memacu kreativitas anak di luar ketergantungan media sosial.
Pimpinan Pondok Modern Al Barokah Nganjuk Muhammad Rizqy Nawwari mengatakan tujuan PP Tunas sangat baik untuk mencegah anak menggunakan gawai secara berlebihan, yang sejalan dengan sudut pandang Islam dalam menjaga akal (Hifzhul Aql), agama (Hifzhul Din), dan jiwa (Hifzhul Nafs).
“Pertama untuk wadah berekspresi, saya kira untuk umur tersebut masih sangat banyak wadah berekspresi lain selain media sosial,” kata Nawwari, Ahad (29/3/2026).
Ia mencontohkan, di pesantren anak-anak justru didorong untuk berinteraksi sosial secara langsung agar tidak menjadi antisosial akibat gawai. Wadah ekspresi dialihkan ke kegiatan ekstrakurikuler yang padat seperti menulis, diskusi, fotografi, hingga multimedia.
Bagi anak yang memiliki potensi di ranah digital, kata Nawwari, pesantren juga tetap dapat memberikan ruang tanpa harus membiarkan mereka memegang gawai secara bebas, yakni dengan menyalurkan karya video atau desain melalui akun media resmi milik pondok.
“Jadi tidak serta-merta bahwa kalau media sosial itu dibatasi maka anak-anak terbatas kreasi atau karyanya. Masih banyak media lain yang bisa digunakan,” ujarnya.
Senada, pandangan bahwa pembatasan gawai akan mematikan kreativitas anak juga ditepis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis Ponorogo Eksa Miyasah Pamilu.
sumber : Antara

3 hours ago
1











































