REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat dan Uni Eropa resmi memperdalam kerja sama strategis dalam mengamankan rantai pasok mineral kritis, sebuah langkah yang dipandang sebagai upaya langsung untuk menandingi dominasi China dalam industri teknologi global. Kesepakatan ini diumumkan dalam beberapa hari terakhir dan menandai eskalasi baru dalam rivalitas geopolitik berbasis sumber daya.
Langkah tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi Barat yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada China, terutama dalam sektor-sektor vital seperti semikonduktor, energi hijau, dan kecerdasan buatan.
Dalam laporan Reuters, Amerika Serikat dan Uni Eropa disebut telah menyepakati rencana aksi bersama untuk memperkuat koordinasi kebijakan perdagangan serta investasi dalam sektor mineral penting.
Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, mulai dari eksplorasi, produksi, hingga pemrosesan dan daur ulang mineral kritis seperti rare earth, lithium, dan kobalt. Semua komponen tersebut merupakan fondasi utama bagi industri teknologi masa depan.
Reuters melaporkan bahwa langkah ini juga diarahkan untuk menghadapi apa yang disebut sebagai “distorsi pasar” yang selama ini terjadi akibat praktik non-pasar dalam rantai pasok global.
“China menggunakan dominasinya sebagai leverage geo-ekonomi,” demikian dikutip Reuters dari pejabat Barat, yang menyoroti bagaimana kontrol Beijing terhadap ekspor dan harga mineral dapat berdampak luas pada industri global.
Dominasi China dalam sektor ini memang signifikan. Negara tersebut menguasai sebagian besar kapasitas pemrosesan mineral langka dunia, menjadikannya pemain kunci dalam rantai pasok teknologi global.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di Barat, terutama ketika mineral kritis menjadi komponen esensial dalam produksi chip, baterai kendaraan listrik, hingga sistem persenjataan modern.
Karena itu, langkah Amerika Serikat dan Uni Eropa dinilai bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan bagian dari strategi geopolitik jangka panjang untuk menjaga keunggulan teknologi.
Koordinasi ini juga membuka jalan bagi kemungkinan terbentuknya perjanjian multilateral yang lebih luas di masa depan, yang akan mengikat negara-negara mitra dalam satu kerangka kerja yang lebih terstruktur.
Dalam laporan terpisah, Reuters menyebut kedua pihak berkomitmen untuk menyelaraskan kebijakan perdagangan guna menciptakan pasar yang lebih transparan dan berkelanjutan.

6 hours ago
2












































