Pemerintah Tekan Inflasi, Rupiah Menguat Tinggalkan Level Rp 18.000 per Dolar AS

2 days ago 6

Rupiah menguat 82 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 17.986 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat dan meninggalkan level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Sebelumnya, selama sepekan, mata uang Garuda bertahan di atas level tersebut. Pengamat menilai penguatan rupiah terjadi seiring upaya pemerintah mengendalikan inflasi.

Mengutip Bloomberg, rupiah menguat 82 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 17.986 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 18.068 per dolar AS.

"(Sentimen internal) Pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis.

Ia mengatakan sejumlah langkah mitigasi dilakukan pemerintah untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak (volatile food), serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang.

"Pemerintah juga akan melakukan penanganan terhadap komponen volatile food agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan kenaikan harga kemasan yang turut berdampak pada produk makanan," jelasnya.

Di samping itu, Bank Indonesia (BI) mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal tersebut menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) mengenai peringkat utang dan outlook Indonesia. Independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings.

"S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75 persen," ujarnya.

Lebih lanjut, independensi BI didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan. Alhasil, otoritas moneter dapat mengambil kebijakan yang positif bagi perekonomian Indonesia. BI menyatakan akan terus berkomitmen memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna memperkuat stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research