Pasar Energi Global di Ambang Bencana, Dunia Mulai Kehabisan Pasokan

3 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

23 April 2026 15:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar energi global dinilai semakin dekat ke jurang krisis yang lebih dalam setelah perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuat pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk terus terganggu. Meski dampaknya sejauh ini belum sepenuhnya terasa di negara-negara Barat, tekanan sesungguhnya disebut sudah mulai menumpuk dan bisa berubah menjadi bencana bila Selat Hormuz tak kunjung dibuka kembali.

Optimisme pasar sempat muncul pada 17 April saat Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Selat Hormuz "sepenuhnya terbuka". Pernyataan itu langsung mendorong harga minyak Brent turun 10% ke US$90 per barel.

Namun hanya beberapa jam kemudian, Iran membalikkan sikap dan menyerang sebuah kapal tanker India. Pada hari perdagangan berikutnya, harga Brent hanya naik sekitar 5%.

Sampai sekarang, harga Brent masih berada sekitar US$20 di bawah puncaknya pada akhir Maret, meski blokade AS terhadap minyak Iran membuat lebih banyak pasokan tertahan di kawasan Teluk.

Lima puluh hari sejak perang Iran pecah, dunia telah kehilangan 550 juta barel minyak mentah dari Teluk, setara hampir 2% dari total produksi global tahun lalu. Setiap bulan Selat Hormuz tetap tertutup, dunia juga kehilangan sekitar 7 juta ton liquefied natural gas (LNG), atau setara 2% dari pasokan tahunan global.

Di negara-negara Barat, yang menjadi pusat utama perdagangan kontrak berjangka, tekanan sejauh ini masih terlihat terbatas. Harga bensin memang sedikit naik, tetapi sebagian besar rumah tangga masih mampu berkendara.

Truk masih berjalan, pesawat masih terbang, dan stok bahan bakar juga masih mendekati level sebelum perang. Namun, kondisi ini dinilai menyesatkan.

Pada 20 April lalu, kapal-kapal tanker terakhir yang berhasil melintasi Selat Hormuz sebelum perang dimulai akhirnya tiba di tujuan, termasuk di Malaysia dan California.

Artinya, kini hampir tidak ada lagi cadangan penyangga yang melindungi dunia dari guncangan pasokan, di saat permintaan musiman mulai meningkat seiring masuknya periode liburan.

Melansir dari The Economist yang menghimpun sejumlah indikator untuk mengukur seberapa dekat dunia menuju bencana energi.

Hasilnya menunjukkan kerusakan besar sebenarnya sudah terjadi. Bahkan, bila Selat Hormuz tidak dibuka kembali, biaya energi bisa melonjak lebih tinggi dan memicu gangguan yang membuat sistem pasokan bahan bakar lumpuh.

Pembukaan selat saat ini masih bisa mencegah bencana total, tetapi tambahan tekanan disebut sudah tidak terhindarkan.

Tiga Tekanan Besar

Ada tiga faktor utama yang kini mendorong pasar energi global ke tepi jurang. Pertama, kargo minyak yang tersedia untuk dibeli semakin menipis.

Kedua, kilang mulai memangkas produksi bahan bakar. Ketiga, permintaan masih bertahan tinggi secara tidak wajar, terutama di Eropa.

Dari sisi perdagangan, salah satu alasan guncangan pasokan terbesar dalam sejarah belum memicu kepanikan global adalah karena jumlah minyak yang sudah telanjur berada di laut saat perang pecah sangat besar, nyaris mendekati rekor. Ketika kapal perang AS mulai bergerak ke Teluk pada Februari, negara-negara di kawasan tersebut sempat meningkatkan ekspor.

Stok Minyak Global di Laut Kian MenipisFoto: The Economist

Namun setelah pengiriman terakhir tiba, stok minyak yang masih berada di laut itu kini sudah habis. Hal yang sama juga terjadi pada sebagian besar kargo minyak Iran dan Rusia yang sebelumnya sempat tertahan di laut, tetapi akhirnya menemukan pembeli setelah AS melonggarkan sanksi terhadap kedua negara.

Volume minyak yang berada di laut pun turun dengan kecepatan sangat tinggi. Untuk bahan bakar pesawat dan bensin, volumenya kini jauh di bawah pola historis, bahkan kemungkinan sudah mendekati batas minimum agar perdagangan laut tetap bisa berjalan normal.

Asia Paling Terjepit

Kondisi ini membuat Asia berada dalam posisi paling sulit. Sebelum perang, kawasan ini menerima sekitar empat perlima ekspor dari Teluk. Kini, persediaan di sejumlah negara Asia mulai menipis.

Korea Selatan dijadwalkan mulai mengurangi pelepasan cadangan strategisnya dalam beberapa hari ke depan. Sementara cadangan Jepang diperkirakan habis pada Mei.

Menurut Kayrros, perusahaan yang memperkirakan persediaan melalui citra satelit, stok minyak mentah Asia di luar China turun sebanyak 67 juta barel atau 11%, dalam sebulan hingga 19 April.

Kekurangan bahan baku juga memaksa kilang-kilang Asia memangkas pengolahan lebih dari 3 juta barel per hari atau sekitar 10% dari kapasitas gabungan mereka. Menurut Neil Crosby dari Sparta Commodities, pemangkasan itu bisa naik menjadi 5 juta barel per hari pada Mei dan bahkan 10 juta barel per hari pada Juli bila Selat Hormuz tetap tertutup.

China sebenarnya bisa membantu dengan melepas sebagian dari cadangan minyak mentahnya yang mencapai 1,3 miliar barel. Namun, negara Tira Bambu itu justru menghentikan ekspor produk olahan minyaknya.

Seorang trader yang memahami strategi energi China menilai Beijing tidak akan membuka keran pasokan sebelum ada gencatan senjata yang benar-benar bertahan lama.

Situasi ini memperparah kelangkaan yang sebelumnya sudah muncul akibat hilangnya ekspor bahan bakar jadi dari Teluk yang selama ini juga menjadi salah satu penopang Asia.

Harga Bahan Bakar Melonjak

Harga bahan bakar olahan kini sudah sangat tinggi. Di pasar spot Asia, harga bensin mendekati US$120 per barel, solar mencapai US$175 per barel, dan bahan bakar pesawat menembus US$200 per barel. Sebelum perang, masing-masing masih berada di kisaran US$80, US$93, dan US$94 per barel.

Permintaan mulai menyesuaikan, sebagian lewat kebijakan pemerintah. Tujuh negara telah menerapkan kewajiban kerja dari rumah (work from home), sementara sedikitnya lima negara mulai membatasi distribusi bahan bakar kendaraan, di samping penutupan sekolah dan langkah penghematan lainnya.

Harga yang mahal juga mulai memukul para pelaku usaha. Dari pertambangan kecil hingga sektor perikanan, banyak bisnis terpaksa mengurangi jam operasional karena stok solar tidak memadai. Sejumlah pabrik plastik bahkan menghentikan sebagian unit produksinya karena tidak mampu membeli nafta, yang merupakan salah satu produk turunan minyak.

Gabungan pembatasan pemerintah dan penghematan mandiri itu diperkirakan membuat permintaan minyak mentah Asia turun hampir 3 juta barel per hari pada April dibanding Februari.

Eropa Belum Merasakan Pukulan Penuh

Berbeda dari Asia, Eropa sejauh ini masih berhasil menghindari penurunan permintaan yang besar.

Pemerintah di kawasan itu terus menjaga daya beli masyarakat. Dari 27 negara Uni Eropa, sebanyak 16 negara menggunakan dana publik atau memangkas pajak bahan bakar untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga. Karena itu, kilang-kilang minyak di Eropa belum banyak memangkas produksi.

Namun, seperti di Asia, kilang Eropa juga harus membeli minyak mentah dengan harga jauh lebih tinggi daripada yang tercermin dalam kontrak berjangka Brent. Patokan yang dinilai lebih mencerminkan kondisi riil adalah Dated Brent, yakni harga untuk pengiriman fisik dalam beberapa pekan ke depan.

Dilansir dari The Economist, selisih antara harga Dated Brent dan Brent futures, yang biasanya hanya sekitar US$1-2, kini melebar tajam di sepanjang April. Menurut Platts, kondisi ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan jangka pendek.

Meski selisih itu kemudian menyempit, levelnya masih tetap lebih tinggi dari normal dan belum mencerminkan ongkos kirim yang sangat mahal maupun biaya tambahan lainnya.

Dengan harga bahan baku mendekati US$130-150 per barel, margin kilang minyak di Eropa kini sudah masuk zona rugi, menurut Benedict George dari Argus Media.

Selisih Dated Brent dan Front-Month MelebarFoto: The Economist

Kondisi backwardation yang ekstrem, ketika harga spot jauh lebih tinggi dibanding futures, makin menekan margin mereka. Kilang harus membeli minyak mentah sangat mahal sekarang, tetapi menjual produk olahan di harga futures yang lebih rendah.

Cepat atau lambat, mereka dinilai akan terpaksa memangkas produksi.

Risiko Belum Selesai

Jika Eropa terus mensubsidi konsumsi energi, ketidakseimbangan pasar bisa makin besar. Harga produk energi berpotensi terus naik, apalagi AS biasanya mengalami lonjakan permintaan saat musim liburan musim panas. Persaingan mendapatkan LNG juga diperkirakan meningkat ketika Eropa mulai kembali mengisi cadangan gas untuk musim dingin.

Di saat yang sama, stok energi terus menyusut cepat. Cadangan bahan bakar pesawat di Eropa saat ini masih cukup untuk sekitar 50 hari konsumsi, atau setara level normal. Namun simulasi Michelle Brouhard dari Kpler dikutip dari The Economist menunjukkan stok Eropa akan turun tajam bila aliran energi dari Hormuz tidak kembali normal pada Juni. Di wilayah importir lain, stok bahkan bisa habis lebih cepat.

Stok Avtur di Asia dan Eropa Kian MenyusutFoto: The Economist

Prospek ini bisa makin buruk bila AS, demi menekan harga energi domestik, mengikuti langkah China dengan melarang ekspor produk olahan minyak. Padahal, ekspor produk olahan AS sudah naik hampir 50% sejak perang dimulai.

Pasar futures mungkin masih memandang kondisi ini belum separah ancaman yang ada di lapangan. Namun, bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali hari ini, produksi minyak Teluk, pengiriman kapal, dan operasi kilang tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.

Saad Rahim dari Trafigura memperkirakan kehilangan kumulatif minyak Teluk sebesar 1,5 miliar barel, atau setara 5% dari produksi tahunan dunia, kini hampir tidak bisa dihindari. Jika selat itu tetap tidak dibuka, kehilangan pasokan bisa dengan mudah menjadi dua kali lebih besar.

Terakhir kali permintaan minyak dunia turun 10% dalam waktu singkat terjadi saat lockdown Covid-19 pada 2020. Guncangan itu juga membuat produk domestik bruto (PDB) dunia terkontraksi lebih dari 3%. Kini, waktu untuk menghindari kejatuhan serupa disebut semakin sempit.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research