Panen Kopi Brasil Pecah Rekor, Vietnam Menggila: Ngopi Lebih Murah?

11 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

25 May 2026 14:25

Jakarta, CNBC Indonesia- Brasil diperkirakan akan memanen kopi terbesar dan siap mengirim jutaan kantong tambahan ke pasar global mulai pertengahan tahun ini.

Negara penghasil kopi terbesar dunia itu diperkirakan akan mencetak panen tertinggi sepanjang sejarah pada musim 2026/2027. Volume ekspor pun diproyeksikan memecahkan rekor baru mulai Juli mendatang.

Di tengah ekspektasi suplai melimpah, pasar tetap gelisah. Fokus pelaku industri kini bergeser ke perkembangan fenomena cuaca El Nino yang mulai dipantau ketat karena berpotensi mengganggu musim tanam berikutnya.

Direktur EISA Brasil, anak usaha trader komoditas global ECOM, Carlos Santana mengatakan ekspor kopi hijau Brasil berpotensi mencapai sekitar 50 juta kantong berukuran 60 kilogram pada musim baru. Angka itu melampaui rekor sebelumnya sebesar 46,3 juta kantong yang tercatat pada 2024 menurut data CECAFE.

"Pasar sedang inverted. Harga saat ini lebih tinggi dibanding kontrak masa depan, sehingga petani punya insentif untuk menjual lebih cepat," ujar Santana kepada Reuters di sela konferensi kopi di Santos, Brasil.

Kondisi inverted market membuat pelaku kebun cenderung melepas stok lebih agresif. Pedagang melihat arus ekspor mulai meningkat pada Juli atau Agustus ketika panen Brasil masuk fase lebih aktif. Hingga Mei, EISA memperkirakan sekitar 5% panen sudah dikumpulkan.

Lembaga tersebut sebelumnya memproyeksikan produksi kopi Brasil musim 2026/2027 mencapai 75,8 juta kantong. Angka ini jauh di atas beberapa tahun terakhir dan memperkuat pandangan bahwa pasar kopi global tengah bergerak menuju fase surplus.

Gelombang revisi produksi juga datang dari berbagai lembaga lain. Marex memperkirakan produksi kopi Brasil mencapai 75,9 juta kantong. StoneX menaksir 75,3 juta kantong, sementara Coffee Trading Academy melihat panen naik 12% secara tahunan menjadi 71,4 juta kantong.

Kenaikan produksi Brasil datang ketika Vietnam juga meningkatkan suplai global. Negara produsen robusta terbesar dunia itu mencatat ekspor kopi Januari-April 2026 naik 15,8% secara tahunan menjadi 810 ribu ton. Produksi Vietnam musim 2025/2026 diperkirakan mencapai 29,4 juta kantong, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Tekanan suplai membuat harga kopi dunia sempat terkoreksi tajam dalam satu bulan terakhir. Kontrak arabika bahkan sempat menyentuh level terendah 1,5 tahun pada awal pekan ini sebelum akhirnya rebound.

Namun penurunan harga belum berlangsung lurus. Pasar mulai kembali membeli kontrak kopi setelah risiko El Nino masuk ke radar perdagangan.

Lembaga cuaca Amerika Serikat NOAA memperkirakan probabilitas kemunculan El Nino mencapai 82% pada periode Mei-Juli dan berlanjut hingga akhir tahun. Peluang munculnya "Super El Nino" bahkan diperkirakan mencapai 67%.

Kekhawatiran utama berada pada fase pembungaan kopi Brasil yang biasanya terjadi pada September hingga Oktober. Curah hujan yang terlambat akibat El Nino dapat mengganggu perkembangan bunga kopi dan mempengaruhi potensi panen musim berikutnya.

Di sisi lain, cuaca yang lebih hangat juga mengurangi risiko frost atau embun beku yang selama ini menjadi ancaman utama perkebunan kopi Brasil. Karena itu pasar masih menimbang apakah dampak El Nino akan lebih banyak membantu atau merusak produksi.

Santana mengatakan arah cuaca nantinya akan menentukan strategi jual petani. Jika El Nino mulai terlihat merusak tanaman, produsen kemungkinan menahan penjualan dan memilih menyimpan stok lebih lama.

Pasar kopi global saat ini sebenarnya masih berada dalam kondisi persediaan rendah setelah beberapa tahun gangguan produksi di berbagai negara penghasil utama. Brasil diharapkan menjadi penyeimbang utama untuk mengisi kembali stok negara konsumen yang sempat terkuras akibat lonjakan harga.

Data USDA Foreign Agricultural Service memperkirakan produksi kopi dunia musim 2025/2026 mencapai rekor 178,8 juta kantong. Produksi robusta melonjak 10,9%, sementara arabika turun 4,7%.

Meski suplai global meningkat, stok akhir dunia justru diperkirakan turun 5,4% menjadi 20,1 juta kantong. Artinya, pasar kopi masih belum benar-benar longgar.

Faktor geopolitik ikut memperumit arah harga. Gangguan jalur pelayaran global akibat penutupan Selat Hormuz meningkatkan biaya pengiriman, asuransi, pupuk, dan bahan bakar. Kenaikan ongkos logistik tersebut mulai masuk ke struktur biaya importir dan perusahaan roasting kopi.

Kombinasi surplus produksi Brasil, kenaikan ekspor Vietnam, ancaman El Nino, serta tekanan logistik global membuat pasar kopi bergerak dalam dua arus besar sekaligus. Suplai terlihat membesar di atas kertas, tetapi sensitivitas terhadap cuaca dan distribusi masih menjaga volatilitas harga tetap tinggi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research