Mengapa Berinfak Saat Ekonomi Sulit?

7 hours ago 7

Image Admin

Agama | 2026-07-08 09:08:50

 

Muhammad Akmansyah, Pemerhati Pendidikan Islam, Spiritualitas Islam, dan Kehidupan Sosial

REPUBLIKA.CO.ID. JAKARTA - Beberapa waktu terakhir, kehidupan terasa semakin berat bagi banyak orang. Harga beras naik, cabai dan bawang sulit ditebak harganya, ongkos transportasi bertambah, sementara penghasilan sebagian masyarakat tidak banyak berubah. Di banyak rumah tangga, daftar belanja mulai disusun lebih ketat daripada biasanya. Pedagang mengeluhkan pembeli yang semakin sepi. Di sisi lain, banyak keluarga memilih menunda membeli kebutuhan yang sebelumnya dianggap biasa.

Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat bukan sekadar persepsi. Kenaikan harga bahan pangan dan biaya distribusi membuat daya beli melemah, sementara kebutuhan pokok terus menyerap porsi terbesar pengeluaran rumah tangga.

Dalam kondisi seperti ini, hampir semua orang berusaha lebih hemat. Pengeluaran diperiksa kembali. Belanja yang tidak mendesak ditunda. Kebiasaan makan di luar dikurangi. Bahkan sebagian orang mulai menghentikan kebiasaan berinfak dengan alasan ingin mengamankan keuangan keluarga.

Alasan itu terdengar masuk akal. Ketika penghasilan terasa pas-pasan, siapa yang tidak khawatir jika uang yang dimiliki semakin berkurang? Namun, benarkah kesulitan ekonomi menjadi alasan untuk berhenti berbagi?

Al-Qur'an justru mengajak kita melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda. Persoalannya bukan semata-mata sedikit atau banyaknya harta, melainkan bagaimana seseorang memandang dan memperlakukan harta yang dimilikinya.

Ketika Kesulitan Mengubah Cara Pandang

Setiap orang tentu ingin hidup berkecukupan. Tidak ada yang berharap harga kebutuhan pokok terus naik atau penghasilannya menurun. Namun kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika usaha berkembang, tetapi ada pula masa ketika keadaan terasa sempit.

Dalam kondisi seperti itu, manusia biasanya menjadi lebih berhati-hati. Sikap ini sebenarnya baik, selama tetap berada dalam batas yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehati-hatian berubah menjadi rasa takut yang berlebihan, sampai setiap pengeluaran dianggap beban dan setiap bantuan terasa mengurangi simpanan yang dimiliki. Perlahan, kepedulian pun ikut memudar.

Kotak infak yang dulu sering diisi, kini dilewati begitu saja. Permintaan bantuan dari tetangga dijawab dengan alasan belum mampu, padahal mungkin yang dibutuhkan tidaklah besar.

Ironisnya, justru saat kita menahan pemberian, semakin banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Kenaikan harga paling berat dirasakan oleh mereka yang penghasilannya kecil, seperti buruh harian, pedagang kecil, pekerja lepas, dan lansia yang hidup sendiri. Saat ekonomi melemah, kebutuhan terhadap kepedulian justru semakin besar.

Pelajaran dari Al-Qur'an

Al-Qur'an punya cara menjawab kondisi ini. Ketika menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa, Allah berfirman bahwa mereka adalah orang-orang yang berinfak pada waktu lapang maupun sempit.

Ayat tersebut turun bukan untuk menggambarkan kemurahan hati orang kaya semata, melainkan membentuk karakter mukmin yang tetap dermawan dalam segala keadaan.

Allah tidak membatasi infak hanya bagi orang kaya, dan tidak membatasi ibadah ini hanya bagi orang yang hidup berkecukupan. Al-Qur'an menyandingkan dua situasi yang berbeda, yaitu saat lapang dan saat sempit.

Artinya, kebiasaan berbagi tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta. Yang menjadi ukuran adalah ketulusan hati.

Para ulama menjelaskan bahwa “lapang dan sempit” mencakup seluruh keadaan hidup manusia. Seseorang tetap terdorong membantu orang lain ketika rezekinya luas, dan tetap menjaga solidaritasnya ketika penghasilannya terbatas.

Infak menunjukkan bahwa seseorang lebih percaya kepada janji Allah daripada rasa takut kehilangan apa yang dimilikinya.

Berinfak Tidak Menunggu Kelapangan

Banyak orang berkata, “Kalau nanti usaha saya sudah maju, saya akan lebih banyak bersedekah.”

Kalimat itu terdengar baik. Namun kenyataannya, rasa cukup sering bergeser mengikuti situasi. Ketika penghasilan naik, kebutuhan juga bertambah, keinginan makin banyak, dan seseorang tetap merasa belum saatnya berbagi.

Jika kebiasaan memberi selalu ditunda, bisa jadi kesempatan itu tidak pernah benar-benar datang. Itulah jebakan rasa “belum cukup”.

Rasulullah saw. mengajarkan bahwa nilai sebuah sedekah tidak semata-mata ditentukan oleh besar kecilnya jumlah yang diberikan. Ada orang yang memberi sedikit, tetapi nilainya sangat besar di sisi Allah karena ia memberi dari harta yang memang sangat terbatas. Sebaliknya, ada yang memberi dalam jumlah besar, tetapi tidak terasa sebagai pengorbanan karena diambil dari kelebihan hartanya.

Yang dinilai Allah bukan sekadar jumlahnya. Allah melihat keikhlasan, kesungguhan, dan keyakinan seorang hamba untuk tetap berbagi ketika berada dalam kesulitan.

Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk mulai berinfak. Yang diperlukan hanyalah kemauan menyisihkan sebagian rezeki sesuai kemampuan. Boleh jadi jumlahnya kecil menurut ukuran manusia, tetapi di sisi Allah nilainya jauh lebih besar karena lahir dari hati yang tetap percaya kepada-Nya di tengah keterbatasan.

Berbagi di Tengah Tekanan Ekonomi

Dalam pandangan manusia, mengeluarkan uang berarti mengurangi apa yang dimiliki. Karena itu, ketika kondisi ekonomi tidak menentu, keinginan pertama yang muncul adalah menyimpan sebanyak mungkin harta. Kita merasa lebih aman jika tabungan bertambah dan pengeluaran berkurang.

Islam mengajak umatnya melihat harta dari sudut yang berbeda: harta adalah amanah yang harus digunakan di jalan yang benar, dan nilainya diukur dari manfaat yang dihasilkan, bukan sekadar jumlah yang tersimpan.

Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, sesungguhnya ia sedang menanam kebaikan. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat. Namun, orang yang menerima pertolongan akan merasakannya saat itu juga, sedangkan orang yang memberi sering kali baru menyadari hikmahnya di kemudian hari.

Tidak sedikit orang yang penghasilannya biasa saja, tetapi hidupnya tenang: kebutuhan keluarga tercukupi, anak-anak tumbuh sehat, pekerjaan berjalan lancar. Sebaliknya, ada pula yang berpenghasilan besar tetapi selalu merasa kurang. Ada pula orang yang hartanya terus bertambah, tetapi rasa tenangnya justru semakin berkurang. Tidak semua rezeki hadir dalam bentuk angka. Kesehatan keluarga, ketenangan hati, hubungan yang harmonis, dan kemudahan dalam berbagai urusan juga merupakan bagian dari rezeki yang sering kali luput dari perhitungan manusia.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Banyak Muslim meyakini bahwa berbagi sering kali menghadirkan kemudahan yang tidak pernah mereka perkirakan sebelumnya. Islam mengajarkan agar pengalaman seperti ini tidak dipandang sebagai kebetulan semata.

Pesan ini berbicara tentang keberkahan dan pertolongan Allah, bukan semata-mata tentang bertambahnya jumlah harta secara langsung.

Membangun Kepedulian di Tengah Kesulitan

Saat ekonomi melemah, tantangan masyarakat bukan cuma harga yang terus naik, tapi juga menjaga agar rasa peduli tidak ikut memudar.

Bayangkan jika setiap orang memilih menyimpan seluruh hartanya karena takut akan masa depan. Siapa yang akan membantu tetangga yang kehilangan mata pencaharian, atau menolong anak yatim yang kesulitan biaya sekolah? Siapa yang akan meringankan beban keluarga yang sedang tertimpa musibah?

Sebaliknya, bayangkan sebuah lingkungan yang warganya tetap saling membantu meskipun masing-masing sedang menghadapi kesulitan. Ada yang menyumbangkan beras atau membagikan makanan, ada yang membantu biaya berobat, dan ada yang sekadar meluangkan waktu untuk mendampingi mereka yang sedang kesulitan.

Kepedulian seperti inilah yang membuat sebuah masyarakat mampu bertahan menghadapi masa-masa sulit. Sejak awal, Islam menanamkan semangat kepedulian sosial melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Ketika orang yang mampu membantu yang membutuhkan, beban hidup tidak lagi dipikul sendirian; ada tangan-tangan lain yang ikut mengangkatnya.

Jangan Menunggu Nominal Besar

Ada anggapan bahwa infak baru berarti jika jumlahnya besar. Akibatnya, banyak orang merasa malu memberi karena menganggap pemberiannya terlalu sedikit. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan demikian.

Seseorang yang menyisihkan sebagian kecil penghasilannya setiap pekan bisa lebih dicintai Allah daripada orang yang memberi dalam jumlah besar tetapi hanya sekali. Yang menjadi ukuran bukan besarnya nominal, melainkan ketulusan hati. Kebiasaan inilah yang membentuk pribadi dermawan.

Sering kali orang yang terbiasa memberi ketika hartanya sedikit akan tetap ringan tangan ketika Allah melapangkan rezekinya. Sebaliknya, mereka yang selalu menunda dengan alasan belum cukup sering kali tetap merasa kurang, meskipun penghasilannya terus bertambah.

Setiap orang selalu memiliki ruang untuk berbagi, sekecil apa pun kemampuan yang dimilikinya. Mulailah dari apa yang ada hari ini. Kalau hanya mampu membelikan satu porsi makan untuk orang yang membutuhkan, lakukan itu. Kalau yang bisa disisihkan cuma recehan untuk kotak infak, itu pun sudah cukup. Bantuan tenaga, pikiran, atau waktu juga tetap bernilai di sisi Allah.

Menjaga Keseimbangan

Tentu saja, Islam tidak mengajarkan seseorang mengabaikan kebutuhan keluarganya demi berinfak. Menafkahi keluarga adalah kewajiban yang harus didahulukan, dan melunasi utang juga tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Para ulama mengingatkan agar seseorang tidak memaksakan diri bersedekah hingga membuat dirinya atau keluarganya terlantar.

Yang diajarkan Islam adalah keseimbangan. Berhemat memang perlu, begitu juga mengatur pengeluaran. Namun jangan sampai sikap hemat berubah menjadi kikir, dan jangan sampai kehati-hatian mematikan kepedulian.

Apa pun keadaan ekonomi kita, selalu ada bentuk kebaikan yang masih bisa dilakukan. Justru dalam keadaan terbatas itulah keikhlasan seseorang benar-benar diuji.

Penutup

Kesulitan ekonomi adalah kenyataan yang sedang dihadapi banyak orang. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan melemahnya daya beli membuat setiap keluarga harus lebih cermat mengelola pengeluaran. Keadaan ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Namun masa sulit juga tidak boleh menghilangkan salah satu nilai utama dalam ajaran Islam, yaitu kepedulian terhadap sesama.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah mereka yang tetap berinfak, baik ketika hidup dalam kelapangan maupun ketika menghadapi kesempitan. Pesan ini menunjukkan bahwa berbagi adalah kebiasaan orang yang percaya kepada Allah, bukan cuma kebiasaan orang kaya.

Di tengah kenaikan harga dan beratnya beban hidup, boleh jadi kita tidak lagi mampu memberi sebanyak dahulu. Tidak mengapa. Yang terpenting adalah jangan sampai hati berhenti memberi.

Sering kali yang mengubah kehidupan seseorang bukan besarnya infak, melainkan keikhlasan yang menyertainya. Ketika tangan tetap terbuka di saat sempit, saat itulah seorang mukmin membuktikan bahwa harapannya kepada Allah jauh lebih besar daripada rasa takutnya kepada kekurangan.

Tentu saja, kepedulian sosial tidak menggantikan pentingnya kebijakan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat. Namun di tengah keterbatasan yang ada, setiap individu tetap dapat mengambil peran melalui kepedulian terhadap sesama.

Kita memang tidak mampu mengendalikan inflasi atau menurunkan harga kebutuhan pokok. Namun kita masih bisa memastikan setidaknya ada satu orang atau satu keluarga yang hari ini terbantu karena kepedulian kita. Pada akhirnya, ukuran sebuah masyarakat bukan hanya terlihat dari seberapa besar kekayaannya, tetapi juga dari seberapa kuat warganya saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan.

Mulailah hari ini. Tidak perlu menunggu gajian. Tidak perlu menunggu merasa cukup. Niatkan, lalu sisihkan sesuai kemampuan. Sebab ketika tangan tetap terbuka di tengah keterbatasan, saat itulah seorang mukmin membuktikan bahwa harapannya kepada Allah lebih besar daripada rasa takutnya kepada kekurangan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research