REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Program Pangan Dunia PBB (WFP) membutuhkan sekitar 200 juta dolar AS untuk membantu 8,8 juta orang di 22 negara yang paling terdampak El Nino tahun ini. Dana tersebut dibutuhkan untuk melindungi mata pencaharian, menyediakan benih tahan iklim, serta mendukung langkah-langkah pengendalian banjir yang mengancam sektor pertanian.
Negara-negara Afrika seperti Kamerun, Ethiopia, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mozambik, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, Uganda, dan Zimbabwe termasuk yang paling berisiko terdampak El Nino. Pakar mengatakan dampak El Nino di Afrika sangat bervariasi.
"Bagi Afrika, ini bukan hanya tentang iklim, tetapi juga menimbulkan berbagai dampak," kata peneliti Climate Risk and Human Security Project di Institute for Security Studies, Kgaugelo Mkumbeni, seperti dikutip dari DW, Rabu (8/7/2026).
Mkumbeni mengatakan berdasarkan pengalaman sebelumnya, El Nino mengakibatkan kondisi yang lebih kering dan panas di Afrika bagian selatan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, kelangkaan air, dan melemahkan ketahanan pangan. Situasi di Afrika Timur lebih rumit karena dampak El Nino di kawasan itu lebih bervariasi, bergantung pada musim.
Dikutip dari situs resminya, pada awal bulan ini Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan fenomena El Nino yang tengah berkembang di Samudra Pasifik kemungkinan besar tidak akan berlangsung singkat. Dalam laporan El Nino/La Nina Update yang disusun bersama International Research Institute for Climate and Society (IRI), WMO mengungkapkan peluang El Nino bertahan hingga November 2026 mendekati atau bahkan di atas 90 persen.
Meski belum diketahui secara pasti kapan dan seberapa kuat puncak El Nino tahun ini, sebagian besar model prakiraan cuaca sepakat El Nino kali ini setidaknya akan berada pada kategori moderat, bahkan berpotensi menguat hingga level kuat sebelum mereda.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menanggapi temuan tersebut dengan nada waspada. Dalam pernyataan videonya, Guterres mengatakan sains telah menegaskan El Nino akan tiba dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90 persen sehingga dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak.
Guterres menyebut kondisi El Nino akan menjadi bahan bakar tambahan bagi dunia yang sudah memanas, membuat dampak bencana menghantam lebih keras, menjalar lebih jauh, dan melintasi batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan. Ia menyerukan agar respons yang diambil dunia setara dengan skala krisis yang dihadapi, yakni dengan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil, mempercepat transisi menuju energi terbarukan, melindungi kelompok paling rentan, serta memastikan sistem peringatan dini tersedia bagi semua orang.
Secara ilmiah, WMO mencatat pada akhir April hingga pertengahan Mei suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuatorial tengah-timur telah mendekati ambang batas El Nino berdasarkan observasi dari berbagai platform pemantauan. Anomali suhu permukaan yang meningkat itu didorong oleh kondisi bawah permukaan laut yang jauh lebih hangat dari biasanya, dengan suhu yang melampaui enam derajat Celsius di atas rata-rata.
Cadangan panas yang sangat besar itulah yang, menurut WMO, menjadi salah satu alasan mengapa fenomena ini diperkirakan tidak akan cepat berlalu karena energi panas yang tersimpan di lapisan bawah permukaan laut membutuhkan waktu lama untuk terlepas sepenuhnya ke atmosfer.
Indeks Osilasi Selatan, komponen atmosfer dari fenomena El Nino, juga menunjukkan kecenderungan yang konsisten dengan berkembangnya kondisi El Nino secara berkelanjutan.

7 hours ago
6










































