Mata Uang Asia Kebakaran Hebat: Rupiah Bukan yang Terburuk

9 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 May 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (11/5/2026). Tekanan terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global, setelah permintaan terhadap aset aman kembali meningkat.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, tekanan melanda hampir seluruh mata uang Asia. Sebanyak 8 dari 10 mata uang kawasan melemah, sementara 2 lainnya masih berhasil menguat terhadap dolar AS.

Rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang melemah pagi ini. Mata uang Garuda turun 0,23% dan berada di posisi Rp17.400/US$.

Tekanan terdalam dicatatkan baht Thailand yang berada di level THB 32,36/US$ setelah melemah 0,81%. Won Korea juga terkoreksi 0,72% ke KRW 1.472,1/US$, sementara peso Filipina melemah 0,69% ke PHP 60,898/US$.

Yen Jepang ikut tertekan ke posisi JPY 157,04/US$ atau melemah 0,25%. Dolar Taiwan melemah 0,20% ke TWD 31,365/US$, disusul ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,15% ke MYR 3,924/US$.

Dolar Singapura juga berada di zona merah dengan pelemahan 0,13% ke SGD 1,268/US$.

Di sisi lain, dong Vietnam menjadi mata uang dengan penguatan terbesar pagi ini. Dong berada di level VND 26.275/US$ setelah menguat 0,12%. Yuan China juga masih mampu menguat tipis 0,07% ke CNY 6,7954/US$.

Pergerakan mata uang Asia hari ini masih dipengaruhi oleh arah dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.15 WIB terpantau menguat 0,14% ke level 98,038.

Penguatan dolar AS terjadi setelah pasar kembali mencari aset aman di tengah belum adanya titik terang penyelesaian konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama 10 pekan.

Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal damainya dan menyebutnya "TOTALLY UNACCEPTABLE" atau tidak dapat diterima. Iran dilaporkan menawarkan pemindahan sebagian stok uranium yang telah diolah ke negara ketiga, tetapi tetap menolak membongkar infrastruktur nuklirnya.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali berhati-hati. Permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman pun meningkat, sehingga menekan mata uang negara lain, termasuk Asia.

Dari sisi ekonomi, dolar AS juga mendapat dukungan dari data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Data yang dirilis Jumat menunjukkan nonfarm payrolls AS naik 115.000 pada April, jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 62.000.

Data tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), berpotensi mempertahankan suku bunga lebih lama pada tahun ini. Suku bunga AS yang tinggi biasanya membuat dolar AS lebih menarik bagi investor global.

Kini, pelaku pasar menanti rilis data inflasi AS periode April. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk melihat sejauh mana kenaikan harga minyak mulai merembet ke tekanan harga yang lebih luas di ekonomi AS.

Bagi mata uang Asia, penguatan dolar AS menjadi sentimen negatif. Ketika DXY menguat, tekanan terhadap mata uang kawasan cenderung meningkat karena investor lebih memilih memegang dolar AS.

Dengan sentimen tersebut, mata uang Asia masih berisiko bergerak tertekan dalam jangka pendek. Namun, arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, data inflasi AS, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research