Makin Banyak Anak Muda Inggris Jadi Kaum Rebahan: Gak Kerja dan Sekolah

16 hours ago 4

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

04 May 2026 18:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena sulitnya anak muda mendapatkan pekerjaan sering kali dianggap sebagai masalah khas negara berkembang.

Namun, laporan terbaru dari Resolution Foundation menunjukkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di Inggris. Jumlah anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, maupun tidak menjalani pelatihan di Inggris kini mendekati 1 juta orang, tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Situasi ini menegaskan bahwa tantangan transisi generasi muda ke dunia kerja kini menjadi isu global, bukan sekadar lokal.

Inggris Tertinggal di Antara Negara Maju

Di antara negara-negara kaya Eropa, Inggris mencatat tingkat NEET (Not in Education, Employment, or Training) tertinggi ketiga. Angkanya bahkan lebih tinggi dibanding Jerman dan Denmark, serta lebih dari tiga kali lipat dibanding Belanda. 

Kelompok NEET adalah mereka yang tidak sedang sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan apa pun.

Meskipun beberapa negara Eropa seperti Italia dan Lithuania mencatat angka yang lebih tinggi, posisi Inggris menjadi sorotan karena posisinya yang tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju dengan tingkat kesejahteraan serupa.

Dalam periode 2019 hingga 2025, tingkat NEET di kalangan usia 18-24 tahun meningkat dari 13% menjadi 15%, mencerminkan memburuknya kondisi partisipasi pemuda dalam pendidikan dan pasar kerja.

Masalah Sistemik yang Belum Terselesaikan

Kenaikan jumlah pemuda yang tidak bekerja di Inggris merupakan hasil dari kombinasi berbagai macam faktor, mulai dari ekonomi hingga kesehatan.

Lindsay Judge menambahkan selain berinvestasi pada kesehatan mental pemuda dan pendidikan vokasi, mengubah pandangan pemuda terhadap sistem tunjangan merupakan cara negara-negara seperti Belanda menjaga tingkat NEET yang rendah, bahkan sepertiga dari Inggris.

Pemerintah Siapkan Dana Triliunan, Tapi Cukupkah?

Pemerintah Inggris mengakui bahwa terlalu banyak anak muda "terkunci" dari akses terhadap pekerjaan dan pendidikan.

Untuk mengatasi hal ini, mereka menyiapkan program besar senilai £2,5 miliar guna menciptakan hingga satu juta peluang kerja dan pelatihan bagi generasi muda. Selain itu, tambahan £3,5 miliar dialokasikan untuk mendukung kelompok usia kerja yang mengalami masalah kesehatan atau disabilitas.

Di saat yang sama, Alan Milburn-mantan menteri kesehatan Partai Buruh-tengah ditugaskan untuk meninjau hambatan struktural yang menghalangi anak muda masuk ke dunia kerja. Pemerintah juga berupaya menggeser pendekatan dari sekadar "welfare state" menjadi "working state", yang lebih menekankan partisipasi aktif dalam ekonomi.

Namun, kritik tetap bermunculan. Sejumlah pihak menilai kebijakan yang ada masih terlalu fokus pada efisiensi anggaran dibandingkan peningkatan dukungan nyata bagi pencari kerja muda.

Tanpa perbaikan pada aspek kesehatan mental, pendidikan, dan sistem dukungan kerja, upaya tersebut dikhawatirkan belum cukup untuk mengatasi akar persoalan.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research