Adu Kuat Manufaktur ASEAN: Malaysia Gak Ada Lawan, RI Jatuh

17 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

04 May 2026 17:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur sejumlah negara ASEAN mulai menunjukkan pelemahan pada April 2026. Tekanan perang di Timur Tengah mulai terasa lebih nyata ke sektor industri, terutama melalui kenaikan biaya bahan baku, energi, pengiriman, hingga gangguan rantai pasok.

Berdasarkan laporan S&P Global untuk periode April 2026, dari lima negara ASEAN yang sudah merilis data PMI Manufaktur, hanya tiga negara yang masih bertahan di zona ekspansi, yakni Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Sementara Indonesia dan Filipina masuk ke zona kontraksi.

Sebagai catatan, Purchasing Managers' Index atau PMI manufaktur merupakan indikator yang digunakan untuk melihat kondisi aktivitas industri. Angka di atas 50 menandakan sektor manufaktur masih berekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Malaysia Paling Kuat, Produksi Tumbuh Kencang

Malaysia menjadi negara dengan kinerja manufaktur paling kuat pada April 2026 di antara beberapa negara ASEAN yang datanya sudah dirilis. PMI Manufaktur Malaysia naik ke level 51,6 dari 50,7 pada Maret.

Kenaikan ini menunjukkan sektor manufaktur Malaysia masih mampu melanjutkan pemulihan, bahkan dengan laju yang lebih kuat. Produksi meningkat untuk bulan kedua beruntun dan mencatat pertumbuhan paling cepat sejak Desember 2021.

Salah satu faktor yang menopang kinerja Malaysia adalah aktivitas penumpukan stok atau stockpiling.

Perusahaan manufaktur di Malaysia meningkatkan pembelian bahan baku dan stok barang jadi untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.

Pesanan baru juga kembali tumbuh setelah dua bulan sebelumnya mengalami kontraksi. Hal ini menunjukkan permintaan domestik mulai membaik, meski permintaan dari luar negeri masih melemah.

Namun, tekanan biaya tetap menjadi perhatian. S&P Global mencatat kenaikan harga input di Malaysia ikut dipengaruhi oleh biaya bahan baku yang lebih tinggi serta gangguan rantai pasok. Bahkan, inflasi biaya output tercatat menyentuh rekor tertinggi pada April.

Myanmar, Vietnam, Filipina Mulai Kehilangan Tenaga

Sementara itu, Myanmar berada di posisi kedua dengan PMI sebesar 50,9, turun dari 51,5 pada bulan sebelumnya. Meski masih berada di zona ekspansi, laju perbaikan manufaktur Myanmar mulai melambat.

Produksi manufaktur Myanmar turun untuk pertama kalinya pada 2026 karena perusahaan menghadapi keterbatasan bahan baku, tenaga kerja, dan bahan bakar.

Vietnam menyusul dengan PMI 50,5, turun dari 51,2 pada Maret 2026. Meski masih bertahan di zona ekspansi, aktivitas manufaktur Vietnam juga mulai kehilangan tenaga.

Produksi Vietnam memang masih tumbuh, tetapi lajunya melambat ke level terendah dalam sepuluh bulan terakhir.

S&P Global mencatat pesanan baru Vietnam turun untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, sementara pesanan ekspor baru kembali turun cukup tajam untuk bulan kedua beruntun.

Di sisi lain, Filipina menjadi negara dengan PMI terendah di antara negara ASEAN lain yang sudah merilis data.

PMI Manufaktur Filipina anjlok ke level 48,3 dari 51,3 pada bulan sebelumnya, sekaligus menandai kontraksi pertama sejak November 2025.

Penurunan manufaktur Filipina terutama dipicu oleh pelemahan pesanan baru yang turun tajam pada April.

Penurunan pesanan baru tersebut menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021.

Permintaan ekspor juga memburuk, dengan pesanan baru dari luar negeri turun pada laju tercepat sejak pertengahan 2020.

Manufaktur RI Kontraksi, Tertekan Biaya dan Produksi

Indonesia menjadi salah satu negara ASEAN yang masuk ke zona kontraksi pada April 2026. PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,1 dari 50,1 pada Maret.

Penurunan ini menandai kontraksi pertama sektor manufaktur Indonesia dalam sembilan bulan terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap industri nasional mulai semakin berat pada awal kuartal II-2026.

S&P Global mencatat produksi manufaktur Indonesia turun dengan laju tercepat sejak Mei 2025. Penurunan output ini terjadi karena permintaan baru kembali melemah dan aktivitas pembelian perusahaan ikut turun.

Pesanan baru juga kembali turun. Sebagian perusahaan menyebut penurunan permintaan dipengaruhi oleh kenaikan harga dan gangguan pasokan bahan baku.

Perang di Timur Tengah turut menjadi faktor penting yang menekan manufaktur Indonesia. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi, biaya pengiriman, serta harga bahan baku impor. Akibatnya, biaya input naik ke level tertinggi sejak April 2022.

Tekanan biaya tersebut kemudian mulai diteruskan ke harga jual. S&P Global mencatat harga output manufaktur Indonesia naik dengan laju tercepat dalam 12,5 tahun terakhir.

Dengan kondisi ini, manufaktur Indonesia tidak hanya menghadapi tekanan dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi permintaan.

Kenaikan harga membuat perusahaan dan konsumen lebih berhati-hati, sementara ketidakpastian geopolitik membuat aktivitas industri semakin tertahan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research