
REPUBLIKA.CO.ID, Bangsa ini pernah memiliki seorang guru yang rumahnya lebih ditakuti penjajah daripada markas bersenjata. Bukan karena di sana tersimpan bedil atau meriam, melainkan karena dari rumah itulah lahir pikiran-pikiran yang kelak mengguncang tatanan kolonial dan mengubah nasib sebuah bangsa. Ia adalah H.O.S. Tjokroaminoto.
Dari rumah sederhananya di Peneleh, Surabaya, keluar manusia-manusia yang kemudian menempuh jalan sejarah masing-masing—Sukarno, Musso, Semaun, Alimin, dan Kartosuwiryo. Sulit mencari rumah lain dalam sejarah Indonesia yang melahirkan begitu banyak tokoh dengan spektrum ideologi seluas itu.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah sekolah politik, dapur kaderisasi, laboratorium gagasan, dan tungku tempat watak-watak pemimpin ditempa sebelum dilempar ke gelanggang sejarah.
Namun sejarah kerap memiliki kelemahan yang sama: ia terlalu mudah memuliakan mereka yang berdiri di mimbar, dan terlalu sering lupa kepada mereka yang menjaga rumah agar mimbar itu tetap bisa berdiri.
Di belakang Tjokroaminoto ada seorang perempuan yang namanya nyaris hanya lewat sebagai catatan kaki: Suharsikin. Padahal tanpa dirinya, rumah di Peneleh mungkin tak pernah menjadi kawah candradimuka bangsa.
Dialah yang menerima para pemuda yang datang menumpang belajar. Dialah yang menyiapkan makanan, mengatur rumah yang nyaris tak pernah sepi, dan menjadikan ruang keluarga sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan politik suaminya.
Namun peran Suharsikin bahkan melampaui itu. Ia bukan hanya penjaga rumah perjuangan—ia adalah penyangga ekonominya. Di tengah hidup yang jauh dari kelimpahan, ia mengelola pekerjaan membatik dari rumah. Dari tangan-tangannya yang tekun lahir lembar demi lembar kain batik yang membantu menopang kehidupan keluarga sekaligus menjaga perjuangan suaminya tetap berjalan.
Ketika Tjokro berdiri di podium menyerukan kebangkitan rakyat, Suharsikin memastikan dapur tetap mengepul. Ketika suaminya mengguncang kesadaran rakyat di luar rumah, ia menjaga agar perjuangan itu tidak ambruk dari dalam rumah.
Ia tidak berdiri di podium kongres. Ia tidak memimpin rapat akbar. Namanya tidak dicetak besar dalam buku pelajaran sejarah. Tetapi sebagaimana banyak perempuan besar yang tercecer dari halaman sejarah, ia memikul bagian perjuangan yang paling sunyi—dan karena itu paling sedikit dipuji.
Ada satu adegan yang selalu membekas dalam ingatan saya setiap kisah tentang Tjokroaminoto dihidupkan kembali. Bukan pidatonya di podium. Bukan rapat besar Sarekat Islam. Bukan pula perdebatannya dengan murid-murid ideologisnya.
Melainkan sebuah percakapan sederhana tentang kapuk putih. Kapuk yang dipanen, dibersihkan, dipisahkan seratnya, lalu diisi ke dalam bantal—pekerjaan keseharian yang bagi sejarah mungkin tampak remeh, tetapi justru di sanalah hidup nyata berlangsung.
Dalam tubuh yang telah lama digerogoti sakit, sambil mengambil segumpal kapuk putih dari bantal yang terbuka, Suharsikin berkata kepada suaminya:
“Mas pernah berkata ingin menjadi kapuk putih—menjadi bantal, menjadi selendang menjadi selimut bagi rakyatmu. Temui mereka yang menunggumu. Rumah ini juga rumah mereka. Temui rakyatmu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia terasa demikian agung.
Sebab di tengah percakapan-percakapan besar tentang nasib bangsa, di rumah seorang pemimpin pergerakan tetap ada pekerjaan rumahan yang harus diselesaikan, tetap ada kapuk yang harus dibersihkan, tetap ada kain yang harus dibatik, tetap ada cinta yang hadir bukan dalam kata-kata besar, melainkan dalam bentuk paling manusiawi: memahami, menopang, lalu merelakan.
Tak lama setelah percakapan itu, Suharsikin wafat.
Dan ketika ajal menjemputnya, Tjokroaminoto sedang berbicara di teras rumahnya—dikelilingi masyarakat Surabaya yang memadati halaman karena telah lama merindukan pidatonya.
Pada titik itu sejarah seperti sedang memperlihatkan wajahnya yang paling jujur sekaligus paling kejam: Seorang pemimpin sedang menyerahkan dirinya kepada rakyat, sementara pada saat yang sama rumahnya sendiri sedang kehilangan orang yang selama ini diam-diam memungkinkan pengabdian itu terjadi.
Di sanalah kita dipaksa memahami sesuatu yang terlalu sering luput ketika membicarakan para pendiri bangsa: Bahwa perjuangan politik tidak hanya menuntut keberanian mereka yang tampil di muka umum, tetapi juga pengorbanan orang-orang yang hidup bersama mereka.
Kita mengagumi Tjokroaminoto karena pidatonya yang membakar massa. Karena kecerdasannya membentuk kader. Karena kemampuannya melahirkan pemimpin-pemimpin besar. Tetapi terlalu sedikit yang bertanya tentang harga pribadi dari semua itu.
Tentang berapa banyak waktu keluarga yang hilang. Tentang berapa banyak ketenangan rumah tangga yang dikorbankan. Tentang berapa banyak luka yang harus dipikul orang-orang terdekat demi cita-cita yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Dan mungkin justru di situlah letak kebesaran Tjokroaminoto yang sesungguhnya—sekaligus alasan mengapa republik ini belum juga melahirkan sosok sekelas dirinya. Sebab kita hidup di zaman yang menginginkan hasil besar tanpa kesediaan menanggung harga tinggi.
Kita mendambakan pemimpin visioner, namun membangun sistem politik yang hanya menghargai popularitas. Kita merindukan negarawan, namun memelihara kebiasaan yang lebih memuja pencitraan daripada kedalaman intelektual. Kita memuji pengorbanan para pendahulu, tetapi terlalu banyak memasuki ruang kekuasaan bukan untuk mengabdi, melainkan untuk hidup lebih nyaman.
Tjokro tidak membangun karier. Ia membangun manusia.
Ia tidak sibuk mengumpulkan loyalis. Ia menyiapkan kader—bahkan mereka yang kelak memilih jalan ideologis berbeda dan menentangnya.
Karena ia memahami sesuatu yang kini nyaris hilang dari politik modern: Bahwa pemimpin besar diukur bukan dari berapa lama ia berkuasa, melainkan dari berapa banyak manusia bermutu yang lahir setelah dirinya.
Maka pertanyaan bagi republik ini bukan lagi semata: Di mana Tjokro baru?
Pertanyaan yang lebih jujur adalah: Apakah bangsa ini masih memiliki ekosistem untuk melahirkan seorang Tjokroaminoto?
Masih adakah rumah yang dibuka untuk mendidik generasi, bukan hanya untuk kenyamanan keluarga?
Masih adakah pasangan yang rela hidup sederhana demi cita-cita besar?
Masih adakah pemimpin yang lebih ingin membentuk penerus daripada mewariskan dinasti?
Kapuk putih di tangan Ibu Suharsikin—dan malam-malam panjang ketika ia membatik demi menjaga rumah perjuangan tetap hidup—barangkali adalah simbol paling jujur tentang bagaimana republik ini sesungguhnya dibangun.
Bahwa sejarah besar tidak hanya lahir dari pidato-pidato membakar dan rapat-rapat akbar, melainkan juga dari tangan-tangan yang bekerja dalam senyap; dari perempuan-perempuan yang menjaga rumah agar cita-cita tidak padam; dari pengorbanan yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Dan mungkin selama kita belum belajar menghormati pengorbanan sunyi semacam itu—selama kita masih memandang politik sebagai jalan naik kelas sosial, bukan jalan pengabdian—
selama kita lebih sibuk memburu jabatan daripada membentuk generasi—maka nama Tjokroaminoto akan terus tinggal sebagai monumen sejarah: dikagumi, dikutip, dikenang—namun tidak sungguh-sungguh diteladani.
Padahal republik ini tidak kekurangan orang pandai. Ia hanya kekurangan manusia, yang bersedia hidup bagi sesuatu, yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan dari rumah sederhana di Peneleh itu—melalui tangan seorang guru bangsa
dan seorang perempuan yang membatik serta membersihkan kapuk putih di sudut rumahnya—
Indonesia pernah membuktikan bahwa manusia-manusia semacam itu benar-benar pernah ada.

7 hours ago
4













































