Jejak Kebaya Kartini: Busana Perlawanan yang Mendunia

4 hours ago 1

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

21 April 2026 11:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebaya menjadi identik dengan sosok Raden Ajeng Kartini karena dalam berbagai dokumentasi sejarah, Kartini kerap mengenakan kebaya sebagai busana sehari-hari.

Sebagai perempuan bangsawan Jawa yang terdidik, kebaya yang dikenakannya tidak hanya merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga mencerminkan posisi sosial dan pemikirannya yang progresif pada masa itu. Dari sinilah kebaya kemudian berkembang menjadi simbol visual perempuan Indonesia yang mandiri dan berpendidikan.

Seiring waktu, kebaya tidak hanya dikenakan dalam peringatan seremonial, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari ekspresi budaya, termasuk dalam berbagai ajang peragaan busana.

Lukisan R.A. Kartini bersama R.A. Kardinah dan R.A. Roekmini. (Dok. museumkartinirembang)Foto: Lukisan R.A. Kartini bersama R.A. Kardinah dan R.A. Roekmini. (Dok. museumkartinirembang)
Lukisan R.A. Kartini bersama R.A. Kardinah dan R.A. Roekmini. (Dok. museumkartinirembang)

Di balik tampilannya yang anggun, kebaya menyimpan makna historis yang erat kaitannya dengan peran perempuan dalam masyarakat Indonesia.

Asal Usul Kebaya

Kata kebaya berasal dari bahasa Arab yakni abaya yang berarti pakaian. Abaya di Arab umumnya berbentuk seperti jubah dengan corak satu warna. Sementara kebaya diyakini datang di Cina yang menyebar ke Selat Malaka, Sumatera, Jawa, Bali hingga Sulawesi.

Kemunculan kebaya sudah ada sebelum masa penjajahan Belanda. Diperkirakan muncul sekitar abad ke-15 atau 16 masehi.

Dalam sejarahnya, kebaya tidak hanya digunakan oleh perempuan Jawa sebagai pakaian sehari-hari, namun kebaya juga digunakan oleh Belanda yang menetap di pulau Jawa.

Bagi perempuan, kebaya menjadi penanda perbedaan kelas dan status antara priyayi dan rakyat biasa yang dicapai melalui bahan tekstil untuk kebaya dan kain bawahannya.

Selain itu, perbedaan kebaya antara perempuan pribumi dan perempuan Belanda di pulau Jawa, terletak dari model kebayanya. Warna kebaya untuk perempuan non pribumi adalah putih dan berenda dengan kain batik yang diproduksi dengan motif pengaruh budaya Eropa sedangkan model kebaya perempuan pribumi tidak mengenakan renda dan bewarna selain putih, dipadu kain batik sesuai pakem tradisional.

Filosofi Kebaya

Ada beberapa filosofi kebaya berdasarkan cara penggunaannya seperti memiliki model sederhana, membentuk badan hingga diikat dengan stagen. Selengkapnya 4 filosofis kebaya dan maknanya:

  1. Model sederhana dipadukan dengan bawahan jarik/kain panjang bermakna melambangkan sifat dan tampilan perempuan yang lemah gemulai.

  2. Lilitan kain yang ketat membuat perempuan bergerak dengan lembut dan kehalusan. Hal itu bermakna perempuan haruslah lemah lembut dalam tutur kata dan halus dalam bertindak.

  3. Potongan kebaya mengikuti bentuk tubuh berarti perempuan harus bisa selalu menyesuaikan diri dengan keadaan dan mandiri.

  4. Stagen atau ikat pinggang kebaya menyimbolkan usus yang panjang dalam filosofi jawa dan bermakna memiliki kesabaran tinggi.

Saat ini kebaya resmi ditetapkan sebagai world's intangible cultural heritage alias warisan budaya takbenda dunia oleh UNESCO. Badan PBB tersebut menetapkan bahwa kebaya adalah warisan budaya takbenda dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura.

"Di Asia Tenggara, kebaya adalah atasan dengan bukaan di bagian depan yang sering dihiasi dengan sulaman rumit dan dikenakan dengan pengikat seperti bros atau kancing," tulis keterangan resmi UNESCO, dikutip CNBC Indonesia pada Kamis (5/12/2024).

Ciri Khas Kebaya Kartini

Kebaya Kartini adalah jenis kebaya tradisional Jawa yang dipopulerkan oleh R.A. Kartini, mencerminkan kesederhanaan, intelektualitas, dan keanggunan perempuan Jawa.

Kebaya Kartini memiliki karakteristik yang membedakannya dari jenis kebaya lain. Modelnya cenderung sederhana dengan potongan lurus mengikuti bentuk tubuh tanpa banyak ornamen tambahan seperti renda mencolok.

Bagian depan umumnya menggunakan bukaan vertikal dengan peniti atau kancing tersembunyi, serta dipadukan dengan kain batik panjang (jarik). Warna yang digunakan biasanya lembut dan tidak terlalu mencolok, mencerminkan kesederhanaan sekaligus keanggunan perempuan Jawa.

Selain itu, kebaya Kartini sering dilengkapi dengan sanggul sebagai tatanan rambut, yang semakin memperkuat identitas perempuan Jawa klasik.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research