Ini Negara Arab Paling Tekor Gara-Gara Perang Iran, Rugi Rp 17 T/Hari

10 hours ago 6

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

22 March 2026 15:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak ekonomi dari konflik yang tengah berlangsung di kawasan Teluk mencatat eskalasi yang signifikan, dengan kerugian harian menembus angka US$ 2 miliar atau sekitar Rp 33, 94 triliun (US$1=Rp 16.970).

Ketegangan geopolitik ini telah berujung pada penutupan efektif Selat Hormuz, sebuah rute maritim yang sangat krusial, sehingga mengganggu kelancaran aliran energi global secara masif. Penutupan jalur ini memberikan pukulan berat bagi stabilitas perekonomian regional maupun internasional.

Kawasan Teluk yang secara historis memproduksi sekitar 30 juta barel per hari (bph), mewakili kurang lebih sepertiga dari total pasokan minyak dunia. Sementara itu, berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), Selat Hormuz melayani sekitar 20% dari total perdagangan minyak global dan memfasilitasi seperempat dari seluruh pengiriman energi jalur laut.

Terhambatnya akses ini membuat volume ekspor dari produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain, dan Irak mengalami kontraksi ekstrem.

Anjloknya Ekspor dan Guncangan Pasokan

Volume ekspor minyak dari kawasan Teluk tercatat merosot hingga hampir 60%. Angka pengiriman turun drastis dari 25,1 juta bph menjadi hanya 9,7 juta bph terhitung sejak awal konflik.

Berkurangnya pasokan minyak mentah di pasar global yang mencapai sekitar 15 juta bph ini diklasifikasikan oleh para ahli sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Dampak finansial dari gangguan operasional ini sangat substansial. Dalam kurun waktu dua pekan terakhir, negara-negara produsen di kawasan Teluk diperkirakan telah kehilangan potensi pendapatan minyak hingga US$ 25 miliar.

Perlu dicatat bahwa angka tersebut baru bersumber dari penjualan minyak mentah, dan belum mencakup kerugian tambahan dari sektor gas alam cair (LNG) serta produk petrokimia yang juga terhenti distribusinya.

Lonjakan Harga Minyak dan Intervensi IEA

Kekhawatiran yang meluas terkait terhentinya aliran minyak mentah dan produk minyak bumi melalui Selat Hormuz telah mendorong harga minyak global melesat melebihi US$ 100 per barel dalam waktu yang sangat singkat.

Merespons krisis ini, negara-negara anggota IEA telah menyepakati langkah darurat dengan melepas 400 juta barel dari cadangan strategis mereka.

Tujuan utama dari pelepasan cadangan darurat ini adalah untuk menstabilkan pasar energi global dan menjamin ketersediaan pasokan dalam jangka pendek.

Meskipun demikian, para analis pasar energi menilai bahwa langkah intervensi tersebut hanya akan memitigasi volatilitas pasar sementara waktu, namun tidak memiliki kekuatan fundamental yang cukup untuk menurunkan harga minyak secara signifikan apabila jalur distribusi utama tetap tertutup.

Rincian Defisit Pendapatan Harian Negara Teluk

Presiden TESPAM, Oguzhan Akyener, memaparkan bahwa akumulasi kerugian harian negara-negara Teluk diperkirakan mencapai US$ 2,3 miliar. Arab Saudi memimpin daftar dengan beban kerugian paling besar, yakni mendekati US$ 1 miliar per hari. atau Rp 16,97 triliun.

Kondisi ini sangat menekan perekonomian kerajaan, mengingat pendapatan minyak berkontribusi pada sekitar 60% dari total penerimaan negara.

Di tempat lain, Uni Emirat Arab diestimasikan menanggung kerugian sekitar US$ 350 juta setiap harinya. Qatar, yang bergantung pada ekspor gas, menghadapi potensi kehilangan pendapatan sekitar US$ 300 juta seiring melambatnya pengiriman kapal-kapal LNG secara signifikan.

Kuwait turut merugi sekitar US$ 200 juta per hari, sementara Bahrain menanggung beban harian sekitar US$ 40 juta. Oman juga mencatat penurunan krusial karena tingginya ketergantungan negara tersebut pada komoditas migas.

Irak menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah secara proporsional. Produksi minyak nasional Irak anjlok dari 4,2 juta bph menjadi hanya 1,2 juta bph.

Lebih dari 90% ekspor energi Irak sangat bergantung pada kelancaran logistik di Selat Hormuz, sehingga gangguan ini memicu kerugian negara sekitar US$ 300 juta setiap harinya.

Infrastruktur Alternatif yang Terbatas

Hingga saat ini, Selat Hormuz tetap berstatus sebagai titik sumbat strategis tanpa banyak opsi pengganti yang memadai untuk menghubungkan Teluk Persia dengan konsumen global. Beberapa negara produsen mulai memaksimalkan jalur alternatif guna memitigasi kerugian ekonomi, terutama melalui jaringan pipa darat.

Arab Saudi saat ini mengoperasikan secara penuh jaringan pipa minyak mentah Timur-Barat (East-West crude oil pipeline) yang memiliki kapasitas maksimal sekitar 5 juta bph. Sementara itu, Uni Emirat Arab mengandalkan jaringan pipa minyak mentah Abu Dhabi yang bermuara di Fujairah.

Kendati upaya mitigasi ini terus dilakukan, para analis memperingatkan bahwa kapasitas rute pipa alternatif tersebut masih terlalu kecil untuk mengimbangi skala gangguan pasokan yang terjadi.

Selama kendala di Selat Hormuz belum teratasi, volatilitas tingkat tinggi di pasar energi global diproyeksikan akan terus berlanjut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research