Reli Gila Berakhir Brutal: Awas! Perak Mengirim Sinyal Bahaya ke Dunia

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak hancur lebur pekan ini. Harga perak bahkan bergerak ke level terendah sepanjang 2026.

Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$ 67,76 per troy ons atau jatuh 7,05% pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (20/3/2026).
Pelemahan ini memperpanjang derita perak menjadi empat hari beruntun dengan ambruk 16,1%. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 19 Desember 2025. 

Dalam satu pekan kemarin, harga perak ambruk 15,9%. Artinya, perak sudah melemah selama tiga pekan beruntun. Sejak perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) meletus pada 28 Februari 2026, perak sudah jatuh 27,8%.

Harga perak saat ini berada di bawah tekanan di pasar global. Pergerakan harga mencerminkan perubahan kekuatan mata uang, imbal hasil obligasi, serta ketegangan global. Dolar AS menguat sementara imbal hasil Treasury meningkat.

Pada saat yang sama, investor merespons perkembangan geopolitik dan risiko inflasi. Pelaku pasar juga melakukan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.

Kombinasi faktor-faktor ini membentuk arah pergerakan logam mulia dan memunculkan pertanyaan mengenai tren jangka pendek dan panjang.

Prediksi harga perak menunjukkan bahwa pasar kemungkinan akan tetap volatil dalam jangka pendek karena ekspektasi suku bunga dan kekuatan mata uang.

Harga bisa tetap tertekan jika imbal hasil obligasi tetap tinggi dan dolar terus menguat. Namun, dalam jangka panjang, perak berpotensi mendapat dukungan dari risiko inflasi, permintaan bank sentral, serta ketidakpastian ekonomi global. Perubahan kebijakan moneter atau pelonggaran suku bunga dapat membantu emas dan perak bergerak naik dari level saat ini.

Para analis menyebut logam mulia menghadapi tekanan akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga dan penguatan dolar. Sentimen investor masih cenderung berhati-hati.

Perak juga mengalami aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya. Indikator teknikal menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought), yang memicu aksi jual.

Dolar AS yang kuat mengurangi permintaan terhadap perak karena logam ini menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga menurunkan permintaan global dan mendorong harga turun.

Indeks dolar bergerak ke 99,65 pada perdagangan Jumat, dari 99,23 pda perdagangan Kamis pekan ini.

Ketegangan geopolitik memang dapat mendukung kenaikan harga, tetapi dampaknya bisa terbatas jika suku bunga naik dan dolar menguat, karena faktor-faktor ini sering kali lebih dominan dibandingkan permintaan aset safe haven.

Logam mulia emas memang juga tengah turun. Namun, perak turun lebih cepat. Kesenjangan ini bukan kebetulan, dan memberi sinyal penting kepada investor tentang apa yang sebenarnya mendorong aksi jual logam mulia saat ini.

Emas juga mengalami koreksi tajam yakni 10,6% pekan lalu. Dalam sebulan ini, perak sudah ambruk 23% sementara emas hanya 14%, atau tidak sedalam perak. Rasio emas terhadap perak melebar signifikan, menandakan bahwa perak menerima tekanan tambahan di luar pelemahan umum logam mulia.

Perak bukan hanya aset safe haven, tetapi juga logam industri dan identitas ganda ini justru menjadi kelemahannya saat ini.

Sekitar 60% permintaan perak berasal dari sektor industry seperti panel surya, baterai kendaraan listrik, elektronik, dan peralatan medis. Ketika kondisi makro menjadi lebih ketat dan pertumbuhan melambat, permintaan industri ikut melemah, bersamaan dengan turunnya permintaan investasi.

"Pasar global mengalami aksi jual luas karena investor mencari aset yang paling cepat bisa dijual. Kita mungkin sedang melihat fase berikutnya, di mana aset safe haven pun dijual untuk mendanai pembelian aset lain yang dianggap sudah turun terlalu dalam." tutur Paul Surguy, Managing Director di Kingswood Group, kepada The Street.

Ini menjelaskan situasi saat ini dengan tepat. Perak dijual bukan karena prospek jangka panjangnya berubah, tetapi karena sebelumnya terjadi posisi spekulatif besar selama reli 2025 yang kini sedang dibongkar (unwinding).

Dari Reli Ekstrem ke Pembalikan Brutal

Awal cerita dimulai pada Januari 2026.
Perak melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa di $121,60 per troy ons pada 29 Januari, didorong oleh kombinasi permintaan safe haven, pelemahan dolar, dan pembelian spekulatif besar. Sepanjang 2025, harga perak bahkan naik 135%.

Namun pada 30 Januari, semuanya berbalik drastis.
Perak anjlok 33% dalam satu hari yang menjadi penurunan harian terbesar dalam sejarah setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya. Warsh dikenal sebagai "hawk" inflasi.

Pasar langsung mengubah ekspektasi suku bunga, dolar menguat tajam, dan posisi leveraged di logam mulia runtuh.

Sejak itu, perak mencoba stabil di kisaran US$75-US$80. Namun penurunan pada 18-19 Maret menjadi gelombang pelemahan baru, dipicu sikap hawkish The Fed dan dolar yang tetap kuat.

Identitas Ganda Perak: Kekuatan Sekaligus Kelemahan

Dalam jangka panjang, perak didukung oleh perannya di sektor industri. Produksi panel surya, kendaraan listrik, infrastruktur 5G, dan pusat data AI membutuhkan perak dalam jumlah besar.

Silver Institute bahkan memperkirakan defisit pasokan struktural selama enam tahun berturut-turut hingga 2026, di mana permintaan melebihi produksi tambang.

Namun dalam jangka pendek, justru faktor ini menjadi kelemahan.
Ketika ekonomi melambat atau suku bunga tinggi, permintaan industri ikut turun. Hal ini berbeda dengan emas yang didukung pembelian bank sentral yang lebih stabil.

Saat ini, perak menghadapi dua tekanan sekaligus yakni kebijakan moneter ketat melemahkan minat investasi serta ketidakpastian ekonomi menekan permintaan industri.

Pemulihan perak bergantung pada faktor makro yang sama yang menekannya yakni melandainya inflasi, pelemahan dolar, serta menguatnya permintaan dari industri.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research