Industri Pengolahan Dongkrak Ekspor, Surplus Perdagangan RI Tetap Terjaga

9 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kinerja industri pengolahan mulai menunjukkan peran kuat dalam menopang ekspor Indonesia di awal 2026. Di tengah ketidakpastian global, sektor ini menjadi penyangga utama surplus neraca perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Januari - Februari 2026 masih surplus sebesar 2,23 miliar dolar AS. Capaian ini melanjutkan tren surplus yang telah berlangsung sejak pertengahan 2020.

“Hingga Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar 2,23 miliar dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam jumpa pers Berita Resmi Statistik, Rabu (1/4/2026).

Kinerja ekspor Indonesia tumbuh 2,19 persen secara tahunan pada periode tersebut. Peningkatan ini terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 6,69 persen dengan nilai ekspor mencapai 37,06 miliar dolar AS.

Menguatnya ekspor industri memperlihatkan pergeseran struktur ekspor Indonesia yang tidak lagi semata bergantung pada komoditas mentah. Produk bernilai tambah seperti besi dan baja, nikel dan turunannya, hingga mesin dan perlengkapan elektrik menjadi kontributor penting.

Secara keseluruhan, surplus perdagangan masih ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat kelebihan 5,42 miliar dolar AS. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 3,19 miliar dolar AS.

Tiga negara utama tujuan ekspor Indonesia masih didominasi Cina, Amerika Serikat, dan India, dengan kontribusi hampir 44 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Ekspor ke Cina didominasi komoditas besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral. Sementara ke Amerika Serikat, ekspor banyak berasal dari produk manufaktur seperti mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian.

Di sisi lain, impor Indonesia juga mengalami peningkatan. Nilai impor kumulatif mencapai 42,09 miliar dolar AS atau naik 14,44 persen secara tahunan, terutama didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal.

Meski demikian, penguatan sektor industri dalam ekspor memberi harapan terhadap keberlanjutan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah dalam perekonomian nasional.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research