Harga Minyak Dunia Ambles Lagi, Ini Dia Pemicunya

10 hours ago 4

Review Sepekan

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

31 May 2026 07:37

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah terpantau merana sepanjang pekan ini, di tengah menurunnya kekhawatiran investor setelah adanya potensi berlanjut dari gencatan senjata perang Iran vs Amerika Serikat (AS).

Menurut data Refinitiv pada Jumat (29/5/2026), harga minyak jenis Brent berada di US$92,05 per barel, ambruk 1,77%. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ambles 1,73% ke US$87,36 per barel.

Sepanjang pekan ini, minyak Brent terpantau ambruk hingga 11,1% dan minyak WTI ambrol 9,57% secara point-to-point.

Penurunan ini menandakan kelegaan di pasar energi karena ketegangan geopolitik mereda, membalikkan volatilitas harga minyak mentah selama beberapa minggu yang terkait dengan konflik Timur Tengah. Gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran awalnya dimulai pada 8 April 2026, menyusul eskalasi militer yang intens di kawasan tersebut.

Pasar awalnya bereaksi dengan hati-hati, tetapi perjanjian tersebut terbukti tahan lama melalui beberapa siklus perpanjangan. Kesepakatan sementara yang diumumkan pada 28 Mei lalu mengusulkan perpanjangan gencatan senjata tambahan selama 60 hari, sebuah komitmen substansial dibandingkan dengan perpanjangan dua pekan sebelumnya.

Gencatan senjata awal menghentikan serangan langsung terhadap infrastruktur regional. Perjanjian yang diperpanjang menandakan komitmen kedua belah pihak untuk mengurangi kekhawatiran akan gangguan rantai pasokan.

Secara historis menunjukkan bahwa perpanjangan gencatan senjata mengurangi volatilitas minyak mentah, seperti yang terjadi pada de-eskalasi regional sebelumnya. Namun, para pedagang tetap berhati-hati mengingat sifat negosiasi yang rapuh dan laporan pelanggaran kecil yang terus berlanjut.

Sementara itu, Citigroup atau Citi menilai pasar minyak mulai menemukan pijakan yang lebih stabil karena investor mulai mengurangi kekhawatiran skenario terburuk gangguan pasokan energi.

Kendati demikian, ketidakpastian terkait waktu tercapainya kesepakatan masih membuat bank sentral global waspada terhadap risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.

Citi juga memperingatkan kenaikan harga minyak berkepanjangan mulai menimbulkan tekanan inflasi yang lebih luas. Kondisi itu dinilai dapat mendorong sejumlah bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat atau hawkish.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research