- Pasar keuangan Indonesia kompak berakhir di zona hijau, saham dan rupiah sama-sama menguat
- Wall Street mencatatkan penguatan signifikan
- Perkembangan perang dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak merekah pada akhir perdagangan Rabu(6/5/2026). Bursa saham dan rupiah sama-sama menguat.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kembali berakhir di zona hijau pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.092 pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Indeks saham menguat 35,36 poin atau naik 0,50 persen dari perdagangan sebelumnya.
Besar transaksi sebesar Rp17,71 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 37,07 miliar saham. Sebanyak 341 saham menguat, 290 terkoreksi, dan 186 stagnan.
Asing masih mencatat net sell sebesar Rp 482,06 miliar pada perdagangan kemarin.
Terpantau, delapan dari 11 sektor indeks menguat, dipimpin oleh sektor transportasi yang naik 2,02 persen. Sementara itu tiga sektor lainnya melemah, dipimpin oleh sektor keuangan yang minus 0,9 persen.
Adapun IHSG naik seiring dengan Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan atau year on year (yoy).
Laju pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan 5,39% pada kuartal IV-2026 maupun pada periode yang sama tahun sebelumnya atau kuartal I-2025 sebesar 4,87% yoy.
Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (6/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.380/US$ atau terapresiasi 0,17%. Penguatan ini sekaligus memutus tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung selama lima hari perdagangan beruntun.
Sejak awal perdagangan, rupiah sudah bergerak di zona hijau. Mata uang Garuda dibuka menguat 0,34% ke level Rp17.350/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turut menjadi sentimen positif bagi rupiah. Per pukul 15.00 WIB, DXY terpantau melemah 0,34% ke level 98,111.
Bank Indonesia (BI) yang menilai nilai tukar rupiah saat ini sudah berada dalam kondisi undervalued, atau lebih lemah dari nilai yang seharusnya jika mengacu pada fundamental ekonomi domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kondisi fundamental Indonesia sebenarnya masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%, inflasi yang tetap rendah, cadangan devisa yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang masih tinggi.
Menurut Perry, kombinasi faktor tersebut seharusnya menjadi dasar bahwa rupiah dapat bergerak lebih stabil dan berpeluang menguat ke depan. Namun, ia mengakui rupiah masih menghadapi tekanan jangka pendek hingga sempat menembus level Rp17.400/US$.
"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," kata Perry.
Dari sisi global, tekanan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak yang masih tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang meningkat, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury yield yang berada di level tinggi sekitar 4,47%. Selain itu, dolar AS juga masih cenderung kuat sehingga memicu keluarnya modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 6,7% pada perdagangan kemarin, dari 6,822% pada perdagangan sebelumnya.
Melemahnya imbal hasil ini menandai adanya kenaikan permintaan pada SBN sehingga harga naik dan imbal hasil turun.
Addsource on Google















































