Harga Emas Gak ke Mana-Mana, Bandar Bosan dengan Janji-Janji Trump

17 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas nyaris tidak akan bergerak di tengah pelemahan harga minyak akibat ketidakpastian penyelesaian perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi turut menopang harga emas.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (21/5/2026) ditutup di posisi US$4544 per troy ons atau menguat tipis 0,01%. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya setelah harganya juga naik 1,4% pada Rabu.

Harga emas melemah tipis pada hari ini. Pada Jumat (22/5/2026) pukul 06.45 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4532,89 per barel atau melemah 0,24%.

Harga minyak bergerak volatil dan cenderung turun karena prospek penyelesaian konflik dengan Iran masih belum jelas. Presiden AS Donald Trump mengatakan awal pekan ini bahwa ia membatalkan serangan udara yang sebelumnya sudah direncanakan terhadap Iran demi memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi, atas permintaan sekutu Arab Teluk AS. Namun, Iran dan AS disebut hanya membuat sedikit kemajuan menuju kesepakatan sejak keduanya menyetujui gencatan senjata rapuh bulan lalu

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% dan ditutup di US$96,35 per barel. Harga minyak Brent juga melemah lebih dari 2% ke US$102,58 per barel.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun dan obligasi 30 tahun juga akhirnya kembali turun, masing-masing melemah kurang dari 1 basis poin ke 4,564% dan turun lebih dari 2 basis poin ke 5,09%.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan turunnya harga minyak dan melemahnya dolar dari level tertinggi enam minggu seharusnya mendukung emas dalam jangka pendek. Namun, pasar masih berhati-hati karena kesepakatan sebelumnya kerap gagal tercapai.

"Turunnya harga minyak dan pelemahan dolar AS dari level tertinggi enam minggu seharusnya menjadi sentimen positif bagi emas dalam jangka pendek, dan harga emas pun mulai menguat. Namun, saya memperkirakan perdagangan masih akan cenderung berhati-hati pada awalnya. Kita sudah beberapa kali melihat kesepakatan gagal tercapai," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

Logam mulia tersebut telah turun lebih dari 14% sejak perang dimulai pada akhir Februari. Konflik itu mengganggu lalu lintas maritim di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi.

"Kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Karena itu, kondisi tersebut masih menjadi sentimen negatif bagi emas dalam jangka pendek," tutur analis UBS, Giovanni Staunovo.

Meski dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya tertekan saat suku bunga tinggi.

Pelaku pasar kini melihat peluang 58% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin tahun ini, naik dari 48% sehari sebelumnya menurut CME FedWatch Tool.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research