Asia Gak Kompak Hadapi Dolar AS: Won - Rupiah Paling Ambruk

14 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

22 May 2026 09:48

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung beragam pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Tekanan masih membayangi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, di tengah sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah inflasi dan suku bunga AS.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.25 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara empat lainnya menguat.

Rupiah tercatat melemah 0,37% ke posisi Rp17.705/US$. Posisi tersebut membuat mata uang Garuda kembali berada di atas level psikologis Rp17.700/US$.

Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan melemah 0,42% ke posisi KRW 1.509,66/US$, menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di kawasan pada pagi ini.

Baht Thailand juga melemah 0,21%, dolar Singapura turun 0,10%, yen Jepang terkoreksi 0,06%, dan ringgit Malaysia melemah tipis 0,05% ke posisi MYR3,962/US$.

Namun, tidak semua mata uang Asia bergerak di zona merah. Dong Vietnam menguat 0,15%, dolar Taiwan naik 0,06%, yuan China menguat 0,04% ke posisi CNY6,7997/US$, dan peso Filipina naik tipis 0,01%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di posisi 99,259 pada waktu yang sama. Meski tidak banyak bergerak, posisi DXY masih berada di area tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Sentimen pasar global masih dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran.

Teheran menyebut proposal terbaru dari AS telah sedikit mempersempit perbedaan pandangan antara kedua pihak.

Namun, komentar Pemimpin Tertinggi Iran terkait stok uranium negara tersebut, serta perbedaan sikap mengenai tarif atau pungutan di Selat Hormuz, masih membayangi harapan tercapainya kesepakatan.

Kondisi ini penting bagi pasar keuangan karena konflik AS-Iran berkaitan erat dengan harga minyak dan risiko inflasi global. Jika ketegangan kembali meningkat, harga energi berpotensi tetap tinggi dan dapat menambah tekanan inflasi, termasuk di AS.

Di saat yang sama, risalah rapat terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga tambahan masih bisa diperlukan apabila inflasi tetap bertahan di atas target 2%.

Meski demikian, pelaku pasar secara umum masih memperkirakan suku bunga The Fed akan dipertahankan hingga akhir tahun. Namun, ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga mulai muncul kembali, dengan pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 40% untuk kenaikan 25 basis poin pada Desember.

Kombinasi ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi, dan arah suku bunga AS membuat ruang penguatan masih terbatas.

Rupiah pun masih rentan berada di bawah tekanan, terutama selama sentimen global belum benar-benar membaik.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research