REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN — Tren konsumsi berkelanjutan mendorong pelaku usaha untuk tidak lagi melihat material sisa sebagai sekadar limbah. Pemanfaatan bahan bekas menjadi produk baru bernilai guna mulai dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Salah satunya dilakukan Toko Serba Tuku (TOSERBAKU), lini bisnis Toko Kopi TUKU. Sejak 2020, TOSERBAKU bersama UMKM di Gunung Sindur mengembangkan program pengolahan kantong krimer berbahan plastik multilayer menjadi berbagai produk upcycle.
Berdasarkan Sustainability Report 2025 MAKA Group, program tersebut telah mengolah 5,53 ton kantong krimer menjadi lebih dari 25 jenis produk. Material sisa tersebut antara lain diolah menjadi totebag, pouch, coaster, furnitur, hingga cendera mata untuk toko.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi sirkular dengan memperpanjang masa guna material yang sebelumnya berpotensi berakhir sebagai limbah. Program itu juga berkontribusi terhadap capaian MAKA Group dalam mengalihkan 92 persen limbah dari pembuangan akhir.
VP Growth & Expansion TUKU Diana Frances mengatakan, pemanfaatan material daur ulang dan upcycle tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi bisnis.
"Ramah bukan hanya identitas kreatif, tetapi arah strategis bagi TOSERBAKU. Kami melihat potensi besar dalam produk daur ulang dan upcycle sebagai lini yang relevan dengan kebutuhan konsumen," kata Diana.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kegiatan bisnis memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus komunitas yang terlibat.
TOSERBAKU menargetkan lini produk berbasis prinsip tersebut menjadi salah satu pendorong pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun mendatang. Perusahaan juga akan mengembangkan eksperimen material baru bersama pengrajin dan inovator lokal, termasuk pemanfaatan material sisa operasional dan bahan daur ulang.
Selain pengembangan produk, TOSERBAKU berencana memperluas edukasi publik mengenai pemilahan material dan konsumsi secara bijak. Kolaborasi dengan kreator serta pelaku usaha lokal juga akan dikembangkan untuk menggabungkan fungsi, kreativitas, dan prinsip keberlanjutan.
Langkah tersebut sejalan dengan perkembangan TOSERBAKU yang memasuki tahun keempat pada 2026. Sejak hadir pada 2022, TOSERBAKU dikembangkan sebagai toko ritel yang menyediakan produk kebutuhan sehari-hari, cendera mata, biji kopi, serta minuman siap konsumsi yang menyesuaikan kebutuhan konsumen.
Memasuki tahun keempat, TOSERBAKU menempatkan konsep "Ramah" sebagai landasan dalam pengembangan produk dan kolaborasi. Konsep tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan kreativitas, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam pengembangan bisnis.

17 hours ago
5
















































