Amalia Zahira, CNBC Indonesia
20 April 2026 15:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara yang tergabung dalam BRICS semakin agresif menambah cadangan emas dalam beberapa tahun terakhir.
BRICS adalah kelompok negara berkembang besar yang bekerja sama dalam bidang ekonomi, politik, dan geopolitik. Nama ini berasal dari huruf awal negara anggotanya.
BRICS berasal dari singkatan nama negara yang awal bergabung yakni Brazil, Russia, India, China, dan
South Africa.
Di tengah lonjakan harga emas global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, langkah ini tidak sekadar mencerminkan strategi investasi, melainkan sinyal pergeseran mendasar dalam cara negara-negara besar memandang sistem keuangan global.
Blok BRICS yang kini mencakup 10 negara dengan kontribusi sekitar 40% terhadap ekonomi dunia dan hampir 50% populasi global, mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman dan netral, yakni emas.
Upaya Lepas dari Dominasi Dolar AS
Salah satu pendorong utama pembelian emas oleh negara BRICS adalah tren de-dolarisasi. Selama beberapa dekade, dolar AS mendominasi cadangan devisa global. Namun, porsinya terus menurun, dari sekitar 71% pada 1999 menjadi hanya sekitar 57% saat ini.
Alih-alih beralih ke mata uang lain seperti euro atau yuan, banyak negara memilih emas karena sifatnya yang tidak terikat pada kebijakan atau otoritas negara tertentu. Emas menjadi alternatif cadangan yang bebas dari risiko politik dan intervensi eksternal.
Langkah ini menunjukkan perubahan cara pandang negara berkembang terhadap stabilitas sistem moneter global yang selama ini sangat bergantung pada dolar.
Pelajaran dari Sanksi Rusia: Cadangan Bisa "Dibekukan"
Peristiwa pembekuan sekitar US$300 miliar cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat pada 2022 menjadi titik balik penting.
Kejadian ini menyadarkan banyak negara bahwa cadangan dalam bentuk dolar yang disimpan di luar negeri tidak sepenuhnya aman. Sebaliknya, emas yang disimpan secara fisik di dalam negeri tidak dapat dibekukan atau disita oleh pihak asing.
Dari perspektif manajemen risiko, emas kini dipandang sebagai aset strategis yang memberikan kedaulatan penuh bagi negara atas cadangannya. #f3e5c4
Berapa Banyak Emas yang Dikuasai BRICS+?
Secara keseluruhan, BRICS+ memiliki cadangan emas hingga lebih dari 6000 ton.
Lonjakan cadangan ini bukan terjadi secara instan, melainkan hasil dari tren pembelian agresif yang berlangsung konsisten. Bahkan, negara-negara BRICS tercatat mendominasi akumulasi emas bank sentral dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Antisipasi Inflasi Global dan Sistem Keuangan Baru
Selain faktor geopolitik, lonjakan utang global juga mendorong negara-negara BRICS meningkatkan kepemilikan emas. Utang pemerintah Amerika Serikat yang telah melampaui US$39 triliun meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pelemahan nilai dolar dalam jangka panjang.
Emas, yang tidak dapat dicetak seperti mata uang fiat, menjadi instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang.
Di sisi lain, terdapat upaya awal untuk membangun sistem keuangan alternatif berbasis emas dan mata uang BRICS. Meskipun masih dalam tahap awal, inisiatif ini mencerminkan arah baru menuju sistem keuangan global yang lebih multipolar, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS.
(mae/mae)
Addsource on Google















































