Sutradara asal Israel, Rachel Szor (kiri) dan Yuval Abraham (kanan), tiba untuk pemutaran perdana film Naza di Festival Film Venesia ke-83 di Venesia, Italia, pada 10 September 2026. Film tersebut ditampilkan dalam kompetisi resmi Venezia 83 di festival yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 12 September 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film dokumenter Palestina, NAZA, mendapat standing ovation selama 25 menit saat pemutaran perdananya di Festival Film Venesia 2026. Film ini menyoroti penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Al) oleh militer Israel untuk menargetkan warga Palestina di Gaza.
Berdurasi 80 menit, film ini disutradarai oleh sineas Israel yang vokal membela hak Palestina, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Mereka sebelumnya memenangkan Oscar pada tahun 2025 untuk No Other Land, film dokumenter tentang serangan kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki, yang digarap bersama sutradara asal Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal.
Film NAZA merupakan hasil investigasi yang berlangsung selama hampir tiga tahun. Film ini dibangun berdasarkan kesaksian sejumlah sumber militer dan intelijen Israel yang berbicara dengan syarat identitas mereka dirahasiakan. Suara dan wajah narasumber diubah secara digital, dan pengambilan gambar dilakukan pada malam hari di atap gedung di Tel Aviv.
Abraham menjelaskan bahwa ia ingin menghadirkan kesaksian langsung dari para tentara dan perwira mengenai tindakan yang mereka lakukan di Gaza. "Tujuannya sangat sederhana. Kami ingin mendengar, sedetail mungkin, seperti apa sistem pembunuhan di Gaza dan bagaimana sistem tersebut beroperasi," kata Abraham dilansir laman Al Jazeera, Jumat (11/9/2026).
Judul film ini diambil dari istilah eufemisme intelijen berbahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil Gaza yang akan meninggal dalam suatu serangan udara. Menurut narasumber, sistem berbasis Al yang dikenal sebagai "Lavender" memanfaatkan jaringan telekomunikasi Gaza termasuk panggilan telepon, pergerakan, dan berbagai nteraksi, untuk mengidentifikasi target pembunuhan.
Salah satu narasumber menggambarkan proses tersebut dilakukan dalam skala massal seperti sebuah pabrik. Narasumber lain yang terlibat dalam identifikasi target mengatakan proses itu seperti video game.
"Prosesnya seperti permainan video, karena semuanya dilakukan dari jarak jauh dan terasa sangat menyenangkan," kata narasumber militer Israel perihal teknologi Al yang dirancang untuk membunuh warga Gaza.
Beberapa narasumber juga berbicara mengenai penghancuran rumah warga sipil, pengabaian terhadap hukum kemanusiaan, serta suasana umum yang penuh kebencian terhadap warga Palestina. Para sumber militer yang diwawancarai mengatakan tidak dapat disangkal bahwa personel intelijen mengetahui kondisi rumah-rumah yang dijadikan sasaran.

4 hours ago
4

















































