Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
23 April 2026 16:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Jerman mulai serius dalam memperkuat militernya di tengah situasi keamanan Eropa yang makin penuh ketidakpastian.
Dilansir dari The Economist, petinggi militer tertinggi Jerman, Jenderal Carsten Breuer, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Jerman atau Bundeswehr kini sedang dipersiapkan agar benar-benar siap menghadapi perang.
Dalam wawancaranya dengan The Economist, Breuer bercerita bahwa dalam sebuah penerbangan menuju Düsseldorf belum lama ini, dia sempat dihampiri seorang penumpang yang ingin mengucapkan terima kasih atas pengabdiannya bersama pasukan Jerman.
Menurutnya, pemandangan seperti itu dulu mungkin lebih mudah dibayangkan terjadi di Amerika Serikat. Kini, hal tersebut menjadi tanda bahwa Bundeswehr mulai mendapat penghormatan baru dari masyarakat Jerman.
Perubahan itu juga terlihat dari sosok Breuer sendiri.
Jika para pendahulunya sebagai inspektur jenderal militer Jerman cenderung tidak dikenal publik, Breuer justru kini menjadi wajah yang cukup familiar karena rutin muncul di televisi dan surat kabar.
Hal ini sejalan dengan upaya Jerman menjalani persenjataan ulang besar-besaran yang disebut sebagai perubahan sekali dalam satu generasi.
Bundeswehr Siap Perang
Breuer mengatakan, salah satu prioritas utamanya adalah menjelaskan kepada publik mengapa kekuatan militer Jerman perlu dibangun kembali.
"Sekarang memang waktunya untuk terbuka kepada publik soal apa yang sedang kami lakukan," ujarnya dikutip dari The Economist.
Wawancara itu dilakukan bertepatan dengan terbitnya strategi militer pertama dalam sejarah Republik Federal Jerman, bersamaan dengan dokumen profil kapabilitas Bundeswehr. Keduanya menjadi penanda terbaru dari transformasi militer Jerman, yang sempat dinilai sangat lemah setelah bertahun-tahun kurang mendapat perhatian.
Setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, kepala angkatan darat Jerman saat itu bahkan menyebut kondisi tentaranya kurang lebih seperti bertangan kosong. Kini, Kanselir Friedrich Merz berjanji Bundeswehr akan menjadi angkatan darat konvensional terkuat di Eropa.
Foto: The Economist
Sebagian besar isi strategi itu masih dirahasiakan. Namun, dokumen tersebut menjelaskan arah perang modern yang akan menjadi dasar pembangunan militer Jerman ke depan.
Medan perang masa kini dinilai semakin transparan, sehingga penguasaan data menjadi sangat penting. Selain itu, perang modern juga ditandai oleh penggunaan sistem tanpa awak berbiaya murah yang diproduksi secara massal, serta aksi agresif yang dilakukan tanpa sampai memicu perang terbuka.
Strategi itu juga menetapkan target kemampuan militer agar Bundeswehr memiliki keunggulan teknologi pada 2039, termasuk kemampuan serangan presisi jarak jauh. Untuk membiayainya, Jerman akan menambah utang dalam jumlah besar.
Jerman Bangun Kekuatan Militer
Pada 2029, Jerman berjanji memenuhi target belanja pertahanan NATO sebesar 3,5% dari produk domestik bruto (PDB). Anggaran pertahanannya bahkan diperkirakan bisa melampaui €160 miliar atau sekitar US$188 miliar atau sekitar Rp3.252 triliun (asumsi kurs Rp17.300/US$1).
Jika itu terealisasi, Jerman akan melampaui Inggris dan Prancis dalam belanja pertahanan.
Lebih dari sekadar menambah anggaran, strategi ini menunjukkan perubahan arah besar di Jerman. Negara yang dulu justru mengurangi kekuatan militernya sambil lebih sering berbicara soal kerja sama Eropa, kini mulai mengambil peran kepemimpinan yang lebih tegas di antara negara-negara sekutunya.
"Kami tidak melakukan ini hanya untuk diri kami sendiri. Kami melakukannya demi Eropa," kata Breuer.
Langkah ini memang memunculkan perhatian, terutama dari Prancis. Ada kekhawatiran bahwa persenjataan ulang Eropa justru akan dipimpin oleh negara yang dinilai masih mencari bentuk dalam budaya strategisnya dan masih berhati-hati dalam mengerahkan pasukan ke medan tempur.
Meski begitu, Breuer mengatakan sebagian besar sekutu justru menyambut baik perubahan arah Jerman. Bahkan, pejabat Pentagon disebut-sebut senang dengan langkah Berlin tersebut.
Meski demikian, pertanyaan penting tetap muncul, yakni apakah uang sebesar itu akan dibelanjakan dengan tepat.
Sejumlah pengkritik khawatir terlalu banyak dana akan habis untuk tank, jet tempur, dan sistem persenjataan lama, sementara anggaran untuk riset, pengembangan, dan teknologi generasi baru justru kurang mendapat porsi. Padahal, perang di Ukraina menunjukkan bahwa inovasi teknologi bisa sangat menentukan.
Breuer mengakui sebagian belanja saat ini memang dipakai untuk menutup kekurangan akibat pengabaian selama bertahun-tahun. Namun, menurutnya hal itu tetap diperlukan sebagai fondasi untuk membangun sistem persenjataan yang lebih modern.
"Anda menyebutnya sistem lama, saya menyebutnya penutup kekurangan," ujarnya.
Soal Ukraina, Breuer menilai perang itu sebaiknya dipandang sebagai guru, bukan blueprint yang harus disalin mentah-mentah. Ambisinya adalah membawa kecepatan inovasi ala masa perang Ukraina ke Jerman dalam kondisi damai.
Era Baru Pertahanan Jerman
Tantangan berikutnya adalah membenahi sistem pengadaan militer Jerman yang selama ini terkenal lambat dan rumit.
Aturan hukum yang terlalu berat kerap membuat proses pembelian berlarut-larut dan berujung pada pembengkakan biaya. Saat Breuer mengambil alih pada 2023, dia mengatakan sistem pengadaan saat itu nyaris seperti dirancang untuk hampir tidak membeli apa-apa.
Menurutnya, aturan baru mulai memperbaiki keadaan. Dia mencontohkan pembelian loitering munitions atau amunisi jelajah yang disebutnya berlangsung dengan "kecepatan kilat", dari Maret hingga Desember tahun lalu.
Selain itu, Jerman juga menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan personel. Untuk memenuhi kewajiban kepada NATO pada 2035, negara itu membutuhkan sekitar 260.000 tentara aktif, naik dari sekitar 185.000 saat ini. Di saat yang sama, Jerman juga ingin membangun pasukan cadangan 200.000 orang.
Foto: The Economist
Pemerintah Jerman telah menyiapkan aturan baru yang mewajibkan pria berusia 18 tahun mengisi kuesioner untuk menilai kesiapan mereka bergabung dengan militer. Namun, banyak pihak menilai Jerman pada akhirnya tetap harus mempertimbangkan kembali wajib militer, yang ditangguhkan sejak 2011.
Isu ini berpotensi menjadi ujian politik pertama yang serius bagi agenda penguatan militer Jerman.
Survei dari Bundeswehr Centre of Military History and Social Sciences menunjukkan warga Jerman yang mendukung wajib militer bagi anak muda sedikit lebih banyak dibanding yang menolak, meski dukungan itu justru tidak datang dari kalangan muda sendiri.
Dalam strategi militernya, Jerman juga memperingatkan bahwa Rusia sedang menciptakan kondisi yang bisa memicu perang melawan NATO. Di sisi lain, ada kekhawatiran lain yang tidak disampaikan terlalu terbuka, yakni soal peran Amerika Serikat.
Menariknya, China sama sekali tidak disebut dalam dokumen tersebut.
Breuer menyebut ada "dilema strategis" bagi negara-negara Eropa. Mereka tahu harus mulai mengambil tanggung jawab lebih besar, tetapi di saat yang sama belum siap sepenuhnya menggantikan kemampuan militer AS.
"Harus ada peta jalan," katanya.
Di tengah sikap Donald Trump yang kerap memberi sinyal ingin menjauh dari NATO, para pengkritik khawatir Bundeswehr yang sejak awal berdiri pada 1955 dirancang sebagai tentara aliansi akan kesulitan jika Amerika benar-benar mundur secara mendadak.
Breuer mengatakan itu memang bukan skenario utama, tetapi seorang pemimpin militer tetap harus memikirkan berbagai kemungkinan, termasuk skenario terburuk.
Bahkan dalam skenario utama sekalipun, strategi ini menuntut Jerman memiliki pendekatan yang lebih mandiri dalam pengerahan pasukan. Pertanyaannya, apakah Jerman benar-benar sudah siap perang atau kriegstüchtig, seperti istilah yang digunakan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius?
Dua usulan Eropa terbaru menunjukkan keraguan itu belum sepenuhnya hilang.
Yang pertama adalah coalition of the willing untuk mengawasi kemungkinan gencatan senjata di Ukraina. Yang kedua adalah misi angkatan laut di Selat Hormuz. Kedua inisiatif ini lebih banyak digerakkan oleh Inggris dan Prancis, sementara peran Jerman masih belum jelas.
Breuer menegaskan fokus utama Jerman tetap pada pertahanan kolektif dan pertahanan wilayah dalam negeri. Sementara itu, operasi tanggap krisis masih menjadi prioritas kedua.
"Ini mungkin berbeda dari Inggris, Amerika Serikat, dan mungkin juga Prancis. Tetapi kriegstüchtigkeit adalah soal menunjukkan bahwa efek penangkalan itu benar-benar bekerja," ujarnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google















































