Emas Kehilangan Mahkota, "Nyawanya" Dihabisi: Harga Ambruk Brutal

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas masih babak belur pada perdagangan hari ini.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan hari ini, Senin (23/3/2026) pukul 06.59 WIB, harga emas diperdagangkan di uS$ 4462,49 per troy ons atau ambruk 0,56%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (20/3/2026) harga emas ditutup di posisi US$ 4494,02 per troy ons. Harganya ambruk 3,32%.

Pelemahan ini juga memperpanjang derita emas dengan ambruk 13,43% dalam delapan hari beruntun.

Pada pekan lalu, harga emas ambruk 10,58%. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak pekan yang berakhir di 4 Maret 1983 atau 43 tahun lalu.

Penurunan tajam emas saat ini mencerminkan pergeseran dari sentimen pasar yang didorong geopolitik menjadi sentimen yang didorong faktor makro.
Penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi kini mendominasi sentimen. Perubahan ekspektasi makro mengalahkan perannya sebagai aset safe haven tradisional.

Indeks dolar ditutup di 99,56 dan pada Jumat pekan lalu ada di posisi 99,64.

Penurunan ini berlangsung sangat cepat sehingga mengejutkan banyak investor.

Geopolitik Tak Lagi Menopang Harga, Emas Kehilangan Status Abadinya Sebagai Safe Haven

Sejak akhir Februari, ketika ketegangan meningkat akibat serangan Amerika Seirkat (AS)-Israel terhadap Iran, harga emas telah turun lebih dari 15%. Ini merupakan pembalikan signifikan dari pola sebelumnya, di mana ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong permintaan emas.

Alih-alih menjadi safe haven, emas kini justru bereaksi negatif terhadap lingkungan makro yang terbentuk dari perkembangan geopolitik tersebut.

Emas justru bergerak seperti aset berisiko, turun bersama saham saat volatilitas meningkat.

Salah satu faktor utama di balik penurunan ini adalah penguatan dolar AS. Kenaikan harga minyak meningkatkan permintaan global terhadap dolar, karena energi diperdagangkan dalam USD. Hal ini mendorong dolar naik dan menekan harga emas.

Di saat yang sama, Jerome Powell memberi sinyal sikap lebih hawkish dari The Federal Reserve, dengan memperingatkan bahwa inflasi bisa kembali meningkat. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada Mei anjlok tajam dari 60% menjadi hanya 16%.

Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas, sehingga mempercepat aksi jual.

Meski terjadi penurunan tajam, fundamental jangka panjang emas masih didukung oleh permintaan kuat dari bank sentral.

Bank Sentral China (PBOC) telah memperpanjang tren pembelian emas selama 16 bulan berturut-turut, sebagai bagian dari upaya diversifikasi cadangan.

Cadangan emas China kini mencapai 74,22 juta troy ounce senilai hampir US$387 miliar.

Akumulasi berkelanjutan ini menjadi "lantai struktural" bagi harga emas, bahkan di tengah volatilitas tinggi.

Tren pelemahan ini kemungkinan akan semakin kuat di awal pekan ini setelah perkembangan geopolitik selama akhir pekan. Presiden AS Donald Trump mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran dalam 48 jam jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya.

Iran merespons dengan memperingatkan akan menutup selat tersebut dan menargetkan energi serta infrastruktur terkait AS di kawasan Teluk jika ancaman itu direalisasikan, meningkatkan risiko guncangan pasokan yang jauh lebih besar.

Risiko amplifikasi muncul dari potensi eskalasi berikutnya jika ancaman tersebut benar-benar dilakukan.

Sangat mungkin Iran akan membalas dengan menyerang infrastruktur energi dan sosial utama di kawasan Teluk, yang berpotensi menyebabkan gangguan produksi yang luas dan berkepanjangan. Hal ini bahkan lebih penting dibanding Selat Hormuz itu sendiri, karena jika pasokan terganggu langsung, jalur pengiriman menjadi faktor sekunder.

Pasar sudah merasakan sensitivitas terhadap jenis guncangan ini, terlihat dari kerusakan fasilitas gas besar di Qatar pekan lalu yang memicu penyesuaian tajam pada suku bunga jangka pendek global, meningkatkan ekspektasi inflasi dan mendorong imbal hasil lebih tinggi di kurva jangka panjang. Gangguan serupa atau lebih besar terhadap pasokan berisiko memperkuat tekanan berbasis yield yang sebelumnya menekan harga emas dan perak.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research