REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan menteri agama (menag) RI Lukman Hakim Saifuddin mengaku punya kenangan khusus tentang sosok almarhum Prof Amal Fathullah Zarkasyi. Suatu kali, tutur dia, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, itu memintanya untuk secara khusus mengawal isu keragaman pesantren.
"Pak Lukman, tolong antum kawal betul keragaman pesantren kita. Jangan sampai pemerintah menyeragamkannya," ujar Lukman Hakim Saifuddin saat dihubungi Republika pada Sabtu (3/1/2026), menirukan pesan yang pernah disampaikan Prof Amal Fathullah kepadanya.
Pesan tersebut disampaikan Prof Amal dalam pertemuan Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM). Saat itu pada awal tahun 2019, diskursus yang hangat ialah pembahasan materi Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Pesantren.
"Ustadz Amal, begitu aku dan umumnya alumni Gontor menyapanya, memang amat peduli dengan isi RUU itu. Selaku Ketua FKPM, beliau kerap meneleponku menanyakan perkembangan pembahasan RUU tersebut," kenang Lukman.
Beberapa tahun sebelumnya, tutur Lukman, Prof Amal aktif mengkritik keberadaan Peraturan Menteri Agama Nomor 3/2012 tentang Pendidikan Keagamaan Islam. Bersama para pimpinan pondok pesantren muadalah, sang guru besar pertama Universitas Darussalam (Unida) Gontor tersebut mengomandoi "penolakan" keberadaan PMA itu.
Regulasi yang lahir pada 2012 itu dinilai telah menyeragamkan dan menjadikan sentralisasi pendidikan pesantren. Prof Amal saat itu menilai, pemerintah terkesan hendak mengawasi, mengontrol, dan mengendalikan keberadaan pesantren dengan cara mematikan keragaman aspirasi masyarakat untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren.
"Syukurlah, pemerintah lalu mengoreksi diri. Lahirlah PMA Nomor 13/2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang mengakomodasi keberadaan pondok pesantren salaf, muallimin, ma'had aly, dan lainnya, serta memberikan proteksi, rekognisi, dan fasilitasi. PMA inilah yang kemudian menjadi cikal bakal substansi materi dalam UU 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang mana Ustaz Amal punya kontribusi besar dalam mengawal rumusan pasal dan ayatnya," ujar Lukman memaparkan.
Prof Amal pun menjadi salah satu anggota Delegasi Amirul Haj 2014. Saat itu, turut membersamainya ialah ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof Din Syamsuddin, Prof Yunahar Ilyas, KH Malik Madani, Habib Ali bin Muhammad al-Jufri, dan KH Imam Aziz. Para anggota delegasi saling berbagi tugas selama wukuf di Arafah.
"Di Hari Wukuf itu, tanpa direncanakan Ustaz Amal bertugas menjadi penceramah kuliah subuh. Jelang waktu wukuf, Ustaz AM Fachir selaku dubes Indonesia untuk Saudi Arabia memberi sambutan. Disusul sambutanku selaku menteri agama RI, dan dipungkasi oleh Ustaz Din Syamsuddin selaku naib amirul haj yang menyampaikan khutbah wukuf," ucap Lukman.
"Seusai khutbah wukuf itu, Ustaz Amal lalu berbisik kepadaku 'Sejak subuh tadi, kita seperti sedang muhadlarah di Ma'had.' Mencerna bisikannya, aku baru sadar dan geli sendiri. Ternyata, kami berempat yang bergantian berdiri di podium, semuanya adalah alumni Gontor, layaknya sedang lomba pidato saat mondok dulu," sambung alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1983 ini.
Lukman menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi pada hari ini (3/1/2026) di Solo, Jawa Tengah. Mantan menag RI ini meyakini, pirit dan perjuangan almarhum untuk agama dan bangsa, serta khususnya dunia pesantren, akan terus menjadi inspirasi generasi kini dan mendatang.
"Selamat berpulang sepenuh rela dan bahagia, Ustaz Amal. Kontribusi antum dalam ikut menjaga, merawat, dan mengembangkan eksistensi pondok pesantren di Indonesia tak akan bisa terlupakan," ucap Lukman.

1 day ago
2














































