Pengunjung melintas di pedestrian objek wisata Jam Gadang di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Sabtu (8/5/2021). Pemerintah Kota Bukittinggi akan membatasi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Jam Gadang selama liburan hari raya Idul Fitri 1442 H, agar tidak ada kerumunan di area tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand) Hefrizal Handra mengamati penyebab perlambatan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan ekonomi Sumbar mengalami tren perlambatan.
"Angka pertumbuhan ekonomi Sumbar tetap tumbuh, namun dalam perspektif historis menunjukkan tren perlambatan yang konsisten lebih dari satu dekade terakhir," kata Hefrizal Handra di Kota Padang, Sumbar, Rabu.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, pertumbuhan ekonomi di Ranah Minang pada 2025 sebesar 3,37 persen. Meskipun ekonomi daerah tumbuh, masih terlihat perlambatan dalam 10 tahun terakhir.
"Pola ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap dan konsisten. Ini menunjukkan bahwa perlambatan bukan sekadar fluktuasi jangka pendek," ujar Hefrizal yang juga Wakil Rektor II Unand.
Menurutnya, jika perlambatan hanya bersifat siklus bisnis, maka pemulihan pascapandemi Covid-19 seharusnya mampu mengembalikan pertumbuhan ke kisaran 5–6 persen.
"Pemulihan memang terjadi, tetapi tidak membawa kita kembali ke lintasan pertumbuhan sebelumnya. Artinya, persoalan yang dihadapi lebih bersifat struktural," jelas dia.
Dari sisi pengeluaran, komposisi produk domestik regional bruto (PDRB) mengalami perubahan. Pangsa konsumsi rumah tangga menurun dalam satu dekade terakhir, net ekspor meningkat, sementara investasi relatif stabil. Namun, perubahan tersebut belum sepenuhnya mendorong akselerasi, kata dia.
"Masalahnya bukan pada besarnya satu komponen pengeluaran, melainkan pada kualitas struktur produksi yang mendasarinya," ucap dia.
sumber : ANTARA

3 days ago
6













































