Amalia Zahira, CNBC Indonesia
25 April 2026 14:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi secara luas sejak pecahnya konflik Iran-Amerika pada akhir Februari 2026.
Awalnya pasar minyak hanya mengantisipasi kenaikan sementara, namun hampir dua bulan berlalu, harga di tingkat konsumen justru terus merangkak naik tanpa tanda mereda.
Kenaikan ini bukan hanya dipicu oleh ketegangan geopolitik, tetapi juga kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Asia Tenggara Paling Terpukul, Myanmar Tembus 100%
Negara-negara yang paling terdampak berasal dari Asia Tenggara. Myanmar mencatat lonjakan harga BBM tertinggi di dunia, mencapai 101% sejak 23 Februari. Kenaikan ekstrem ini dipengaruhi oleh ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar olahan serta melemahnya nilai tukar domestik.
Filipina dan Malaysia menyusul dengan kenaikan masing-masing sebesar 73% dan 68%.
Secara keseluruhan, Asia Tenggara mengisi setengah dari daftar 10 negara dengan kenaikan harga tertinggi. Hal ini menunjukkan betapa rentannya kawasan ini terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan distribusi energi.
Kenaikan Tak Merata, Negara Miskin Menanggung Beban Lebih Berat
Di luar Asia, dampaknya lebih bervariasi. Amerika Serikat mengalami kenaikan sekitar 35%, angka yang cukup sensitif secara politik mengingat komitmen pemerintah terhadap kemandirian energi.
Sementara itu, Kanada dan sebagian besar negara Eropa Barat mencatat kenaikan lebih moderat, berkisar antara 10% hingga 25%, berkat cadangan strategis dan kebijakan pajak energi.
Foto: Orang-orang mengantre untuk mengisi bensin kendaraan roda dua mereka dengan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan, tetapi pihak berwenang mengatakan tidak ada kekurangan, di tengah konflik AS-Israel yang sedang berlangsung dengan Iran, di Ahmedabad, India, 23 Maret 2026. (REUTERS/Amit Dave)
Namun, yang paling mencolok adalah ketimpangan dampak antar negara. Malawi, salah satu negara termiskin di dunia, kini harus membayar hingga US$3,84 per liter, naik 34% dari harga yang sebelumnya sudah tergolong tinggi dibandingkan pendapatan masyarakatnya.
Sebaliknya, beberapa negara produsen seperti Arab Saudi dan Aljazair justru tidak mengalami kenaikan harga sama sekali, berkat pasokan domestik yang kuat serta kontrol harga pemerintah.
Foto: Voronoi
(mae/mae)
Addsource on Google














































