Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
25 April 2026 07:08
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak liar dalam sepekan ini. Pasar masih dihadapkan pada dua sentimen besar yang saling tarik-menarik, yakni risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dan peluang dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Merujuk data Refinitiv, harga minyak mentah Brent ditutup di posisi US$105,33 per barel pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Harga tersebut naik US$0,26 atau sekitar 0,3%.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di posisi US$94,40 per barel. Harga WTI turun US$1,45 atau sekitar 1,5%.
Meski bergerak berbeda pada perdagangan Jumat, harga minyak masih mencatat kenaikan tajam secara mingguan. Dalam sepekan, Brent melesat sekitar 16%, sedangkan WTI naik hampir 13%.
Harga minyak sempat naik di awal perdagangan karena pasar kembali mencemaskan eskalasi militer di Timur Tengah. Kekhawatiran ini muncul setelah Iran merilis rekaman pasukan komando yang menaiki sebuah kapal kargo di Selat Hormuz.
Selat Hormuz masih menjadi titik paling sensitif bagi pasar energi global. Sebelum perang, jalur ini dilalui sekitar seperlima produksi minyak dunia. Namun, navigasi melalui Selat Hormuz hingga kini masih terganggu dan praktis belum kembali normal.
Data pelayaran menunjukkan hanya lima kapal, termasuk satu kapal tanker produk minyak Iran, yang bergerak melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan minyak global masih rentan terganggu.
Namun, kenaikan harga minyak kemudian tertahan setelah muncul kabar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi diperkirakan tiba di Islamabad pada Jumat malam untuk membahas usulan dimulainya kembali pembicaraan damai dengan AS.
Tekanan terhadap harga minyak semakin besar setelah Presiden AS Donald Trump disebut mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran.
Trump kemudian mengatakan Iran berencana mengajukan tawaran untuk memenuhi tuntutan AS. Pernyataan ini membuat pasar menilai masih ada peluang diplomasi, meskipun situasi di lapangan tetap sangat rapuh.
Pelaku pasar pun memilih berhati-hati menjelang akhir pekan. Sebagian investor melepas posisi beli karena perkembangan konflik AS-Iran masih sulit diprediksi. Arah harga minyak pada awal pekan depan akan sangat bergantung pada kabar terbaru dari jalur diplomasi dan kondisi Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump mengatakan Iran kemungkinan sempat menambah persenjataannya selama masa gencatan senjata dua pekan. Namun, ia juga menyebut militer AS mampu menghancurkannya dalam satu hari. Di sisi lain, Trump sempat menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu agar pembicaraan damai bisa dilanjutkan.
Kondisi ini membuat pasar minyak berada dalam situasi yang rumit. Jika diplomasi AS-Iran kembali berjalan, harga minyak berpeluang mereda karena risiko gangguan pasokan bisa berkurang. Namun, jika pembicaraan gagal dan konflik kembali memanas, harga minyak berisiko kembali melonjak.
Sejumlah pelaku pasar menilai Brent dan diesel menjadi instrumen yang paling sensitif terhadap kelanjutan perang. Jika hingga akhir April pembicaraan damai tidak menunjukkan kemajuan dan pertempuran kembali meningkat, harga minyak berpotensi mencetak level tertinggi baru tahun ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google















































