REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi Dua Lipa memperluas platform literasinya, Service95, ke ranah aksi nyata. Melalui kolaborasi terbarunya, musisi berusia 30 tahun ini mengumumkan pembukaan perpustakaan fisik permanen bernama The Manifesto Library.
Ruang ini dikhususkan khusus untuk menampung dan merayakan karya-karya kontemporer yang pernah dilarang, ditarik dari peredaran, atau disensor oleh berbagai otoritas di dunia. Dilansir laman People pada Selasa (30/6/2026),
peresmian perpustakaan ini dilakukan bertepatan dengan festival literasi baru bernama BABELL - City of Books.
Ini menjadi babak baru bagi Service95, klub buku yang mendirikan Dua Lipa tiga tahun lalu dengan visi awal menyebarkan rekomendasi bacaan dari penulis global. Kini, komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk koleksi fisik yang bertempat di toko buku bersejarah Livraria Lello di Porto, Portugal.
Bagi Dua Lipa, perpustakaan ini bukan sekadar deretan rak berisi buku, melainkan ruang aman bagi pemikiran kritis yang kerap dibatasi. "Perpustakaan ini adalah tempat bagi buku-buku yang telah hilang, bagi para penulis yang keberaniannya mengungkap struktur kekuasaan dan kendali, serta bagi para pembaca yang menolak didikte tentang buku apa yang boleh mereka baca," tulis Lipa dalam unggahan media sosial bersama antara Service95 Book Club dan Livraria Lello.
Kolaborasi ini melahirkan sebuah ruang khusus yang menguras 100 buku kontemporer pilihan. Buku-buku yang ada di dalam daftar tersebut adalah karya-karya yang secara historis pernah menantang otoritas, memicu terjadinya, dan hingga hari ini terus merangsang diskusi mengenai kebebasan berpendapat, identitas, dan memori kolektif.
Proyek ini lahir dari berasumsi bahwa ada hal besar yang hilang ketika sebuah karya tulis dibungkam secara paksa. Melalui pernyataan resminya, tim kolaborasi menyatakan, "Manifesto Library dihilangkan dari keyakinan bahwa ada hal yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah cerita yang hilang ketika sebuah buku disensor. Larangan ini, yang sering kali tidak diucapkan secara terbuka, membatasi hak untuk mengekstraksi, berimajinasi, dan memahami dunia."
Kecintaan Dua Lipa terhadap dunia literasi sudah tumbuh sejak masa kanak-kanak, di mana membaca menjadi jembatannya untuk memahami dunia secara lebih luas. Ketika ia meluncurkan Service95, ambisi utamanya adalah membangun wadah yang inklusif bagi para penulis dan pembaca. Dalam rilis pers yang menyertai pembukaan perpustakaan ini, Lipa merefleksikan kembali tujuan awal tersebut. Ia menyampaikan bahwa ambisi awalnya membangun Service95 adalah agar platform ini menjadi rumah bagi para penulis dan pembaca, di mana pun mereka berada dan apa pun situasi yang mereka hadapi.

6 hours ago
3












































