Belarus Incar CPO dan Kakao RI, Mentan Siapkan Kerja Sama Dagang

2 hours ago 1

Karyawan mengawasi proses pemasukan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke dalam mesin pengolahan minyak sawit mentah di Aceh Barat, Aceh, Rabu (1/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Belarus membuka peluang impor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah dari Indonesia. Negara Eropa tersebut menyatakan kebutuhan CPO mencapai 14 ribu ton dan siap memprioritaskan pasokan dari Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peluang itu mengemuka dalam pertemuan dengan perwakilan Belarus di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Amran menjelaskan, pembahasan kedua negara juga mencakup peningkatan ekspor kakao serta kerja sama mekanisasi pertanian. Kolaborasi itu diharapkan dapat memperluas perdagangan sekaligus memperkuat transfer teknologi di sektor pertanian.

"Kami minta CPO kita kan belum masuk sana. Kita kirim dan dia bilang kebutuhan kita 14 ribu ton, diprioritaskan kita," kata Amran.

Selain CPO, Belarus juga membutuhkan pasokan kakao dari Indonesia. Menurut Amran, kebutuhan kakao negara tersebut mencapai sekitar 10 ribu ton per bulan atau setara 120 ribu ton per tahun.

Pemerintah, kata Amran, tengah mendorong pengembangan perkebunan kakao untuk memenuhi permintaan pasar ekspor yang terus meningkat. Pada saat yang sama, Indonesia juga menjajaki kerja sama penyediaan alat dan mesin pertanian dengan Belarus.

"Yang kedua adalah yang paling banyak diminta adalah kakao, itu 10 ribu ton per bulan, 120 ribu ton per tahun. Dan ini kita dorong, sekarang kita dorong tanamannya kakao," ujarnya.

Amran mengatakan kerja sama dengan Belarus tidak hanya berfokus pada perdagangan komoditas, tetapi juga pengembangan mekanisasi pertanian. Belarus dinilai memiliki pengalaman dan kemampuan dalam penyediaan alat serta mesin pertanian.

"Itu kan dia ahli, jadi kita kolaborasi saling menguntungkan," ucap Amran.

Ia menambahkan, tindak lanjut kerja sama akan dilakukan melalui skema antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarpelaku usaha (business to business/B2B). Langkah tersebut diharapkan mempercepat realisasi ekspor CPO dan kakao serta implementasi kerja sama di sektor pertanian.

Menurut Amran, kedua komoditas tersebut menjadi fokus utama pembahasan karena memiliki potensi untuk memperkuat hubungan perdagangan pertanian antara Indonesia dan Belarus.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research