Dolar AS Ditendang di Mana-Mana, Tapi Kok Rupiah Tetap Melemah?

15 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 May 2026 10:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026). Pelemahan dolar AS di pasar global membuka ruang bagi sejumlah mata uang untuk bergerak ke zona hijau.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.40 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak delapan mata uang menguat terhadap greenback, sementara dua lainnya melemah.

Namun sayang, rupiah masih menjadi salah satu mata uang yang tertekan. Mata uang Garuda melemah 0,17% ke posisi Rp17.720/US$. Posisi ini membuat rupiah masih bertahan di atas level psikologis Rp17.700/US$.

Selain rupiah, dong Vietnam juga melemah tipis 0,05% ke posisi VND 26.354/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia. Won menguat 0,76% ke posisi KRW 1.508,51/US$.

Baht Thailand juga menguat 0,67%, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,43% ke posisi MYR3,498/US$. Peso Filipina menguat 0,35%, dolar Singapura naik 0,26%, yen Jepang menguat 0,21% ke posisi JPY 158,83/US$, yuan China naik 0,21% ke posisi CNY 6,78/US$, dan dolar Taiwan terapresiasi 0,14%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) melemah 0,24% ke posisi 99 pada waktu yang sama. Pelemahan ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan mayoritas mata uang Asia.

Dolar AS melemah pada awal perdagangan Asia hari ini seiring meningkatnya harapan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai. Optimisme tersebut ikut menekan harga minyak hingga kembali ke bawah US$100 per barel.

Kondisi ini meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi global.

Sebelumnya, lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan dolar AS, karena pasar khawatir inflasi akan kembali naik dan membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) sulit menurunkan suku bunga.

Meski begitu, tekanan terhadap dolar AS mulai mereda pada awal pekan ini. Harapan bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka membuat harga minyak turun ke bawah US$100 per barel. Kondisi ini ikut meredakan kekhawatiran inflasi dan menekan permintaan terhadap dolar AS.

Namun, harapan damai antara AS dan Iran masih rapuh. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu lalu menulis bahwa nota kesepahaman terkait kesepakatan damai dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan. Kedua negara dan mediator di Pakistan juga disebut melaporkan adanya kemajuan.

Namun, Trump kemudian menegaskan bahwa blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz tetap berlaku penuh sampai ada kesepakatan yang benar-benar dicapai, disertifikasi, dan ditandatangani. Hingga kini, belum ada respons langsung dari pemerintah Iran.

Bagi mata uang Asia, pelemahan dolar AS secara global memberi ruang penguatan yang cukup lebar. Hal ini terlihat dari mayoritas mata uang kawasan yang bergerak di zona hijau pada pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research