REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Perum Bulog menyiapkan skema pembayaran digital dalam penyerapan gabah petani sebagai bagian dari transformasi operasional perusahaan. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan keamanan transaksi, transparansi pembayaran, serta kualitas layanan Bulog di lapangan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, digitalisasi pembayaran akan menggantikan praktik transaksi tunai yang selama ini dilakukan saat pembelian gabah petani. Skema ini tengah dipersiapkan untuk diterapkan secara bertahap.
“Pembayaran khusus untuk para petani yang selama ini dibayar secara tunai di lapangan akan kami lakukan melalui proses digitalisasi,” kata Rizal saat mengikuti Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin (5/1/2026).
Menurut Rizal, terdapat tiga tujuan utama dari penerapan pembayaran digital. Pertama, meningkatkan keamanan petugas Bulog di lapangan yang selama ini harus membawa uang tunai dalam jumlah besar. Kedua, mendorong kebiasaan menabung di kalangan petani melalui sistem perbankan. Ketiga, meminimalkan potensi penyimpangan atau praktik koruptif dalam transaksi penyerapan gabah.
“Dengan digitalisasi tersebut, kami menjaga keamanan, mendorong petani lebih rajin menabung, serta mengurangi indikasi korupsi dari oknum-oknum yang ada di lapangan,” ujarnya.
Bulog memastikan skema pembayaran digital tetap sejalan dengan kebijakan harga pemerintah. Penyerapan gabah petani akan tetap mengacu pada harga gabah kering panen yang telah ditetapkan, sehingga petani memperoleh kepastian harga sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam mendukung kesiapan penyerapan gabah, Rizal menjelaskan Bulog juga memperkuat aspek logistik dan pembiayaan. Perusahaan menyiapkan kapasitas gudang hingga minimal 2 juta ton pada Februari 2026 dengan memanfaatkan gudang internal, sewa gudang, serta kerja sama pemanfaatan gudang milik TNI dan Polri.
Dari sisi pendanaan, Bulog telah mengantongi dukungan pembiayaan dari perbankan anggota Himpunan Bank Milik Negara. Skema pembiayaan tersebut disiapkan agar proses pembelian gabah petani dapat berjalan lancar selama puncak panen, tanpa kendala keterlambatan pembayaran.
Transformasi pembayaran ini menjadi bagian dari agenda besar Bulog dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan menjalankan penugasan pemerintah. Digitalisasi transaksi diharapkan memperkuat akuntabilitas penyerapan, mempercepat arus pembayaran, serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Dengan penerapan pembayaran digital, Bulog menargetkan layanan penyerapan gabah yang lebih aman, transparan, dan berkeadilan. Skema ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan petani sekaligus menopang pencapaian target penyerapan beras nasional pada 2026.

1 month ago
12













































