Bersiaplah Hadapi Kiamat Lapangan Kerja dan Gejolak Politik Akibat AI

12 hours ago 3

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

25 May 2026 13:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan perkembangan artificial intelligence (AI) sejak kemunculan ChatGPT pada 2022 memicu optimisme besar di sektor teknologi. Namun di sisi lain, muncul pula kekhawatiran baru apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia secara massal?

Para petinggi perusahaan AI selama beberapa tahun terakhir terus memperingatkan potensi jobs apocalypse atau kiamat pekerjaan akibat otomatisasi. Kekhawatiran ini semakin meluas di tengah melemahnya lowongan kerja bagi lulusan perguruan tinggi, khususnya di sektor teknologi dan pemrograman.

Survei di Amerika Serikat bahkan menunjukkan sekitar 70% masyarakat percaya AI akan membuat pencarian kerja semakin sulit, sementara hampir sepertiga pekerja khawatir pekerjaan mereka sendiri akan hilang.

Sejarah Memang Menenangkan, Tapi Kali Ini Berbeda

Sepanjang sejarah modern, teknologi memang selalu mengubah pasar tenaga kerja. Banyak pekerjaan lama hilang, tetapi pekerjaan baru juga terus muncul.

Kantor modern saat ini bahkan terlihat sangat asing bagi pekerja dari 50 tahun lalu. Revolusi industri, komputer, hingga internet sempat menimbulkan ketakutan serupa, namun pada akhirnya ekonomi tetap mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Karena itu, banyak ekonom masih percaya pekerjaan manusia akan tetap dibutuhkan meski AI berkembang pesat. Namun perkembangan AI saat ini dinilai jauh lebih cepat dibanding gelombang teknologi sebelumnya.

Model AI terbaru kini mampu menyelesaikan tugas pemrograman kompleks, membuat analisis, hingga menjalankan fungsi layaknya pekerja kantoran. Jumlah AI agents juga tumbuh sangat cepat dan belanja perusahaan untuk AI melonjak drastis dalam dua tahun terakhir.

Meski belum ada bukti kuat bahwa AI telah menghancurkan jutaan pekerjaan, kecepatan perkembangannya membuat risiko gangguan pasar kerja tidak lagi bisa dianggap sepele.

Ancaman Bukan Sekadar Pengangguran

Masalah terbesar AI mungkin bukan sekadar hilangnya pekerjaan, tetapi menurunnya kualitas pekerjaan dan melemahnya daya tawar pekerja manusia.

Jika produktivitas dan keuntungan perusahaan semakin didominasi mesin dan algoritma, maka pendapatan berpotensi terkonsentrasi pada pemilik modal, perusahaan teknologi, dan pemilik infrastruktur AI.

Sementara itu, pekerja manusia bisa menghadapi stagnasi upah, ketidakpastian kerja, hingga meningkatnya biaya hidup.

Goldman Sachs memperkirakan pusat data AI akan menyumbang sekitar 8,5% kebutuhan listrik Amerika Serikat pada 2027, naik tajam dari 4,1% pada 2025. Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga energi dan lahan akibat tingginya permintaan industri AI.

Dalam skenario ekstrem, manusia bahkan dikhawatirkan menjadi "tidak ekonomis" seperti nasib kuda setelah munculnya mobil pada awal abad ke-20.

AI Bisa Picu Gejolak Politik Baru

Dampak AI juga dinilai berpotensi memicu ketegangan sosial dan politik besar.

Pengalaman "China Shock" menjadi contoh penting. Masuknya China ke sistem perdagangan global diperkirakan menyebabkan sekitar 2 juta pekerja Amerika kehilangan pekerjaan pada periode 1999-2011.

Secara ekonomi, angka tersebut sebenarnya relatif kecil dibanding total perputaran pasar tenaga kerja AS. Namun dampak politiknya sangat besar dan ikut mendorong kebangkitan populisme hingga kemenangan Donald Trump.

Kini, ancaman AI dinilai lebih sensitif karena menyasar pekerja kantoran dan kelas menengah terdidik yang memiliki pengaruh politik lebih kuat dibanding buruh manufaktur. Bahkan pemutusan kerja dalam jumlah kecil sekalipun bisa memicu penolakan besar terhadap AI dan proyek-proyek infrastruktur teknologi seperti data center.

Ancaman Disrupsi AI Dorong Pemerintah Cari Solusi Baru

Sejumlah ekonom menilai pemerintah harus mulai menyiapkan perlindungan sosial sebelum dampak AI benar-benar terasa.

Beberapa usulan yang muncul, seperti pajak lebih tinggi terhadap keuntungan perusahaan AI, pajak warisan untuk mencegah konsentrasi kekayaan, program perlindungan pendapatan pekerja, dan pelatihan tenaga kerja.

Denmark sering dijadikan contoh karena memiliki kebijakan pasar tenaga kerja aktif, dimana pemerintah membantu pekerja mencari pekerjaan baru dan memberikan pelatihan keterampilan baru.

Selain itu, muncul pula ide yang lebih radikal seperti, universal basic income (UBI), pembagian dividen AI kepada masyarakat, hingga kepemilikan sebagian perusahaan AI oleh negara.

Meski kiamat pekerjaan akibat AI belum terjadi saat ini, banyak ekonom menilai pemerintah tidak boleh menunggu sampai krisis benar-benar datang. Sebab ketika kekuatan ekonomi sudah terlalu terkonsentrasi pada segelintir perusahaan teknologi dan pemilik modal, maka ketimpangan sosial akan semakin sulit dikendalikan.

AI memang berpotensi membawa manfaat besar bagi dunia, mulai dari peningkatan produktivitas, kemajuan kesehatan, hingga solusi perubahan iklim. Namun tanpa kebijakan yang tepat, teknologi ini juga dapat memperbesar ketimpangan dan memicu gejolak sosial baru di berbagai negara.

Negara Paling Banyak Pakai AI

Penggunaan AI di kalangan populasi usia kerja di tiap negara sangat berbeda. Berdasarkan estimasi Microsoft terhadap pengguna yang memakai AI setidaknya 90 menit per bulan. Secara global, 17,8% populasi usia kerja kini rutin menggunakan AI.

AI mungkin didominasi perusahaan-perusahaan Amerika, tetapi negara-negara yang paling aktif menggunakannya justru merupakan ekonomi yang jauh lebih kecil.

UEA memimpin dunia dengan margin yang sangat besar, dengan tingkat adopsi di atas 70%, diikuti Singapura sebesar 63%. Sementara itu, AS berada di luar 20 besar dunia meski menjadi rumah bagi banyak perusahaan AI terkemuka.

Eropa juga muncul sebagai pusat adopsi AI utama, dengan negara-negara seperti Norwegia, Irlandia, Prancis, Spanyol, dan Belanda mencatat tingkat penggunaan di atas 40%.

Peringkat tersebut menunjukkan bahwa membangun model AI terbaik dunia tidak otomatis membuat teknologi itu digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.

Ekonomi kecil seperti UEA dan Singapura bergerak lebih cepat dalam mengintegrasikan AI ke sektor bisnis, pendidikan, dan layanan pemerintah melalui strategi digital terpusat serta investasi infrastruktur besar-besaran.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research