AI Mengguncang Dunia Kerja, Jalur Baru Menuju Kaya Raya Bermunculan

3 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

26 May 2026 14:55

Jakarta, CNBC Indonesia- Di tengah euforia kecerdasan buatan yang mengubah pasar kerja white collar Amerika Serikat, model bisnis lama yang sering dianggap biasa justru kembali menarik perhatian. Dari restoran cepat saji, gym, hotel, sampai jasa rumah tangga, bisnis franchise atau waralaba perlahan kembali dipandang sebagai jalur realistis menuju kekayaan.

Melansir The Economist, Greg Flynn menjadi contoh paling mencolok. Saat lulusan Stanford Business School lain berburu kejayaan di era dotcom 1990-an, Flynn memilih membantu membuka restoran kedua milik temannya

. Keputusan itu berkembang menjadi kerajaan bisnis. Ia membeli delapan gerai Applebee's dengan dukungan pembiayaan murah untuk franchisee. Hari ini Flynn mengoperasikan lebih dari 3.000 outlet lintas merek di tiga negara dan disebut memiliki kekayaan di atas US$1 miliar.

Namanya bahkan masuk Hall of Fame International Franchise Association (IFA) pada Februari lalu. Penghargaan itu biasanya diberikan kepada pendiri merek besar seperti McDonald's atau KFC. Flynn menjadi simbol perubahan besar: franchisee kini bisa membangun kekayaan setara para pemilik merek.

Fenomena ini berkembang di Amerika Serikat dalam skala yang jauh lebih besar dibanding bayangan banyak orang.

Saat ini terdapat hampir 850 ribu unit usaha franchise di AS dengan sekitar 250 ribu pemilik. Sektor ini mempekerjakan sekitar 9 juta orang dan menyumbang sekitar 3% produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Artinya, satu dari enam bisnis yang memiliki minimal satu pegawai di AS terhubung dengan model waralaba.

Model ini merambah ke mana-mana. Dunkin', UPS Store, hingga sebagian besar hotel Marriott menggunakan sistem franchise. Dalam beberapa tahun terakhir ekspansi meluas ke studio pilates, daycare, jasa kebersihan rumah, sampai layanan perawatan hewan peliharaan.

Arus modal private equity ikut mempercepat tren tersebut karena investor melihat franchise sebagai mesin ekspansi cepat dengan risiko operasional lebih tersebar.

Perubahan arah minat generasi muda Amerika ikut memperkuat momentum itu. Selama bertahun-tahun, jalur aman menuju kelas menengah dianggap sederhana: kuliah mahal, masuk kantor, bekerja di depan laptop. Namun AI mulai mengganggu asumsi tersebut. Banyak pekerjaan administratif, pemasaran, hingga pekerjaan entry-level mulai terancam otomatisasi.

Bisnis fisik justru terlihat lebih tahan guncangan. Mengelola restoran, studio olahraga, hotel, atau jasa rumah tangga masih membutuhkan manusia di lapangan. Matt Haller, pimpinan IFA, menyebut semakin banyak anak muda mulai mempertimbangkan usaha franchise sebagai jalan hidup jangka panjang. Bahkan beberapa franchisee kini mulai menyusun rencana pewarisan bisnis kepada anak-anak mereka.

Dari sisi ekonomi, franchise menarik karena menggabungkan dua dunia sekaligus: kekuatan merek besar dan semangat kewirausahaan lokal. Pemilik merek mengatur standar operasional seperti menu, desain toko, hingga jam buka. Sementara operator lokal menyediakan modal dan menjalankan bisnis harian.

Struktur seperti ini membuat ekspansi bisa berlangsung cepat. Perusahaan tidak perlu membiayai seluruh cabang sendiri. Di sisi lain, franchisee punya insentif lebih kuat dibanding manajer toko biasa karena mereka menikmati keuntungan langsung dari kenaikan penjualan.

Pengetahuan lokal menjadi faktor penting.

Lokasi yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan uang. Dinesh Goswami, operator lebih dari 100 outlet Taco Bell dan Dunkin', pernah membuka Popeyes di Nashville pada titik yang terlihat jelas dari kejauhan. Masalahnya, akses menuju lokasi itu rumit. Pendapatan langsung jatuh 60%.

Greg Flynn juga pernah mengalami pelajaran serupa saat mengambil alih Applebee's di Seattle. Pemilik sebelumnya menerapkan pendekatan seragam seperti di Ohio. Padahal karakter pasar Seattle berbeda. Flynn kemudian memberi keleluasaan kepada manajer lokal untuk mengubah konsep restoran menjadi lebih mirip bar dibanding restoran keluarga. Pendapatan melonjak sepertiga hanya dalam waktu singkat.

Cerita seperti ini menjelaskan mengapa banyak outlet franchise justru menghasilkan performa lebih baik dibanding gerai yang langsung dimiliki perusahaan pusat. Bert Albertse, CEO Jetset Pilates, mengakui studio yang dimiliki perusahaan sendiri kalah performa dibanding milik franchisee. Operator lokal dinilai lebih agresif, lebih dekat dengan pelanggan, dan lebih cepat membaca kebutuhan pasar.

Meski terlihat menjanjikan, biaya masuk bisnis franchise sangat besar. Dokumen Franchise Disclosure Document (FDD) di AS menunjukkan biaya awal pembukaan outlet bisa mencapai puluhan ribu dolar hanya untuk lisensi. Setelah ditambah renovasi dan peralatan, restoran makanan cepat saji dapat membutuhkan investasi di atas US$1 juta. Studio kebugaran berkisar US$300 ribu hingga US$800 ribu.

Selain biaya awal, franchisee masih membayar royalti dan biaya pemasaran berkala. Untuk bisnis makanan, total potongan biasanya sekitar 5-7% dari penjualan. Di sektor kebugaran dan kecantikan bisa mencapai 10-12%.

Karena kebutuhan modal besar, banyak franchisee memakai kombinasi pinjaman bank, dana pensiun, serta bantuan keluarga. Model seperti ini lama berkembang di komunitas diaspora India di AS. Sekitar dua pertiga motel di Amerika kini dimiliki warga keturunan India, terutama dari Gujarat, yang masuk lewat franchise hotel murah sejak dekade 1980-an.

Risiko gagal tetap ada. Penelitian Francine LaFontaine dari University of Michigan menemukan tingkat bertahan franchise sebenarnya tidak berbeda jauh dibanding bisnis independen setelah beberapa tahun berjalan. Namun kekuatan merek besar memberi bantalan penting pada tahap awal usaha.

Likuiditas bisnis juga menjadi daya tarik tersendiri. Franchise yang mapan lebih mudah dijual kembali dibanding usaha independen biasa. Ada pasar pembeli yang sudah memahami model bisnis, standar operasional, dan proyeksi pendapatan outlet.

Di sisi lain, kritik terhadap model franchise terus muncul. Salah satu isu terbesar berkaitan dengan pekerja bergaji rendah. Brian Callaci dari Open Markets Institute menilai franchise membuat tanggung jawab perusahaan besar terhadap pekerja menjadi kabur. Pemilik merek mengontrol banyak aspek operasional, tetapi pekerja secara hukum berada di bawah franchisee.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research