Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
26 May 2026 13:26
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran yang sudah berlangsung hampir tiga bulan melahirkan drama besar dalam pergerakan harga minyak.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 pasar minyak memasuki fase paling liar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam rentang kurang dari tiga bulan sejak perang Iran pecah, harga Brent sempat melonjak dari kisaran US$70 per barel menuju area US$126 sebelum akhirnya berbalik tajam dalam beberapa hari terakhir.
Selasa pagi (26/5/2026), harga Brent kontrak Juli berada di US$98,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$91,77 per barel. Posisi ini memang masih jauh lebih tinggi dibanding awal konflik pada Februari. Namun arah pasar mulai berubah sejak muncul kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran membuka jalur negosiasi damai.
Pergerakan harga minyak sepanjang perang berlangsung bergerak sangat emosional.
Satu komentar dari Washington bisa memicu reli dua digit. Satu sinyal diplomasi dari Doha langsung memukul harga dalam hitungan hari.
Pada 18 Mei, Brent sempat menyentuh US$112,1 per barel. Hanya dalam waktu sepekan, harga longsor menuju US$96,14 pada 25 Mei. Koreksi tajam itu terjadi setelah pasar membaca peluang terbukanya kembali Selat Hormuz.
Meski demikian, reli penurunan mulai tertahan. Investor mulai menyadari pembicaraan damai AS-Iran masih dipenuhi persoalan besar. Mulai dari pencairan aset Iran, masa depan program nuklir Teheran, sampai posisi Israel dalam negosiasi kawasan.
Presiden AS Donald Trump bahkan meminta tim negosiasi agar tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan. Washington juga masih mempertahankan blokade kapal Iran di Selat Hormuz sampai memorandum resmi benar-benar diteken.
Pasar lalu kembali menghitung ulang risiko pasokan global.
Dalam perang kali ini, Selat Hormuz menjadi pusat seluruh kepanikan energi dunia. Jalur sempit tersebut mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak global. Ketika distribusi terganggu, pasar fisik langsung menegang. Premi risiko melonjak di seluruh rantai energi, mulai dari minyak mentah, LNG, tanker, hingga produk kilang.
Data harga memperlihatkan betapa brutalnya perubahan pasar selama konflik berlangsung. Brent melonjak 44,3% sejak perang pecah. Kenaikan itu bahkan jauh lebih tinggi dibanding fase awal perang Rusia-Ukraina yang sekitar 15,6% dalam 58 hari pertama.
Harga Brent juga mencatat beberapa ayunan ekstrem sepanjang konflik.
WTI mengalami pola yang sama. Pada 7 April, harga WTI anjlok 16,41% hanya dalam sehari. Sebaliknya, reli terbesar terjadi pada akhir April ketika pasar mulai mengantisipasi risiko gangguan pasokan Timur Tengah yang lebih luas.
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Sepanjang Maret hingga April, pasar minyak praktis bergerak berdasarkan tiga faktor utama: ancaman distribusi di Hormuz, serangan militer AS-Iran, dan arah diplomasi Washington-Teheran.
Laporan bulanan OPEC menggambarkan bagaimana pasar fisik minyak benar-benar mengalami tekanan selama konflik berlangsung. Dalam laporan April 2026, OPEC menyebut gangguan distribusi dan perubahan arus perdagangan membuat pasokan minyak prompt menjadi sangat ketat. Kilang di Asia dan Eropa berebut kargo spot akibat terganggunya aliran minyak Timur Tengah.
OPEC juga mencatat refinery intake global anjlok 5 juta barel per hari pada Maret 2026 dibanding bulan sebelumnya. Penurunan terbesar sejak April 2020. Sekitar 67% penurunan tersebut berasal dari kendala geopolitik dan perubahan arus crude oil akibat perang.
Di pasar derivatif, hedge fund ikut memperbesar tekanan harga. OPEC menyebut posisi bullish spekulan melonjak tajam sepanjang Maret karena pasar memperkirakan pasokan global akan semakin ketat.
Kondisi itu menjelaskan mengapa harga Brent sempat menembus US$126,41 per barel pada 30 April 2026.
Oxford Economics sebelumnya memperkirakan Brent berpotensi bertahan di atas US$100 per barel apabila sekitar 10 juta barel per hari distribusi minyak terganggu akibat hambatan di Selat Hormuz. Skenario tersebut sempat terlihat nyata ketika aktivitas tanker dan pengiriman kawasan Teluk mulai terganggu pada Maret-April.
Namun sejak pertengahan Mei, pasar mulai mengubah posisi.
Komentar Trump bahwa Washington dan Teheran telah "largely negotiated" memorandum perdamaian langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar energi. Investor mulai bertaruh bahwa pembukaan kembali Hormuz akan menurunkan premi risiko geopolitik.
Meski harga terkoreksi, pasar belum benar-benar tenang.
Analis MST Marquee Saul Kavonic mengatakan pasar memang mulai melihat peluang normalisasi distribusi energi. Namun kerusakan infrastruktur selama perang membuat pemulihan pasokan tidak bisa berlangsung cepat.
Premi risiko geopolitik akhirnya masih tertanam di pasar minyak.
Hal itu terlihat dari level harga saat ini. Brent memang sudah turun dari puncaknya, tetapi masih berada di kisaran US$98 per barel. Sebelum perang pecah pada Februari, Brent masih bergerak di area US$66-US$70.
Kondisi lebih panas justru terlihat di pasar LNG dan gas alam.
Harga LNG Japan Korea Marker (JKM) berada di US$18,81 per MMBtu pada 22 Mei 2026. Secara bulanan naik 14,77%, sementara dibanding tahun lalu melonjak lebih dari 50%.
German Gas juga bertahan tinggi di EUR49,79 per MWh dengan kenaikan tahunan sekitar 33,65%.
Tekanan di pasar gas muncul karena distribusi LNG kawasan Teluk belum sepenuhnya pulih. Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Asia masih agresif mencari pasokan tambahan untuk menjaga keamanan energi menjelang musim panas.
Situasi itu ikut menjaga permintaan batu bara thermal tetap tinggi.
Di tengah semua volatilitas tersebut, satu hal mulai terlihat jelas di pasar energi global: bahkan ketika diplomasi mulai dibuka, harga minyak belum sepenuhnya kembali normal. Jalur tanker memang bisa dinegosiasikan. Namun rasa takut pasar terhadap gangguan pasokan jauh lebih sulit dihapus.
Data OPEC Monthly Oil Market Report Maret dan April 2026 juga masih memperlihatkan permintaan minyak global tetap kuat di tengah perang. OPEC mempertahankan proyeksi pertumbuhan demand minyak dunia sebesar 1,4 juta barel per hari sepanjang 2026. India, China, dan negara Asia lain masih menjadi motor konsumsi energi global.
Dengan konsumsi global yang masih tinggi dan risiko geopolitik yang belum hilang, pasar minyak tampaknya masih akan bergerak panas-dingin dalam beberapa bulan ke depan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google















































