Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
29 April 2026 10:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terbaik sepanjang 2026.
Kinerja ringgit cukup menarik karena terjadi di tengah pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian. Perang di Iran masih menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Selasa (28/4/2026), ringgit telah berhasil terapresiasi hingga 2,64% dari greenback. Menjadikannya yang tertinggi di Asia dengan posisi kedua ditempati yuan China yang menguat 2,23% dari dolar AS.
Penguatan ini ditopang oleh data perdagangan Malaysia yang solid, pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga, serta aliran dana asing yang masuk ke pasar modal.
Melansir Refinitiv, ringgit Malaysia menguat pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Mata uang Negeri Jiran tersebut ditutup menguat tipis 0,03% ke level MYR 3,949/US$.
Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin (27/4/2026), ringgit Malaysia juga ditutup menguat 0,30% ke level MYR3,95/US$.
Kekuatan ringgit tidak lepas dari neraca perdagangan Malaysia yang masih cukup sehat. Berdasarkan data Department of Statistics Malaysia (DOSM), total perdagangan Malaysia pada Maret 2026 tumbuh 9,3% secara tahunan menjadi MYR273,0 miliar atau setara Rp1.188 triliun (asumsi kurs Rp4.352 /MYR.
Angka ini naik dari MYR249,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekspor dan impor yang lebih kuat.
Ekspor Malaysia naik 8,3% menjadi MYR148,8 miliar, sementara impor meningkat 10,4% menjadi MYR124,2 miliar. Kendati demikian, surplus perdagangan Malaysia sedikit menyempit 0,9% menjadi MYR24,6 miliar pada Maret 2026.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai ekonomi Malaysia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Estimasi awal menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB Malaysia pada kuartal I-2026 berada di atas 5%.
Dia juga mengatakan data perdagangan internasional terbaru menunjukkan ekspor nominal Malaysia tumbuh 12,7% pada kuartal I-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 11,0% pada kuartal sebelumnya.
"Dengan demikian, ekonomi Malaysia berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan saat ini akibat lonjakan harga minyak karena perang di Iran," kata Mohd Afzanizam, dikutip dari Bernama.
Aliran Dana Asing Bikin Ringgit Makin Kuat
ringgit juga mendapat dukungan dari aliran dana asing yang masuk ke pasar modal Malaysia.Mohd Afzanizam mengatakan arus dana asing di pasar modal cukup positif, sehingga mendorong permintaan terhadap ringgit dari investor global.
Dengan dukungan tersebut, ringgit dinilai masih memiliki bantalan yang kuat, meskipun pasar global masih dibayangi kekhawatiran terhadap perang di Iran.
Secara year to date sampai dengan penutupan perdagangan Senin (28/4/2026), ringgit Malaysia juga tercatat menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama Asia.
Penguatan terbesar ringgit terjadi terhadap rupee India, yakni sebesar 8,07%, disusul peso Filipina 7,31%, rupiah 6,76%, dan baht Thailand 6,46%.
Ringgit juga menguat terhadap won Korea sebesar 5,24%, yen Jepang 4,63%, dolar Taiwan 3,57%, dong Vietnam 2,82%, serta dolar Singapura 1,97%.
Sementara itu, penguatan ringgit terhadap yuan China relatif terbatas, yakni hanya 0,41%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google














































