Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
28 April 2026 15:40
Jakarta, CNBC Indonesia- Gerbong kereta api khusus perempuan menjadi perhatian besar dalam kecelakaan kereta antara KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL Tokyo Metro tujuan Kampung Bandan-Cikarang yang pada Selasa (27/4/2026) pukul 20:52 WIB. Pasalnya, korban terbanyak dari gerbong khusus perempuan KRL.
Korban tewas dalam kecelakaan tersebut 15 orang di mana semuanya adalah perempuan. Buntut dari insiden ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL wanita ditempatkan di tengah rangkaian.
Kenapa Ada Gerbong Pink Khusus Perempuan?
Gerbong khusus perempuan biasanya ada di ujung depan dan ujung belakang. Di sanalah gerbong khusus perempuan berada. Warna pink di pintu menjadi penanda yang mudah dikenali di tengah arus komuter yang bergerak cepat.
Kebijakan ini lahir dari persoalan kepadatan, risiko pelecehan seksual, dan kebutuhan rasa aman dalam perjalanan harian.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan lonjakan tajam penumpang kereta api. Pada 2021, jumlah penumpang tercatat 149,763 juta orang. Angka itu naik menjadi 277,1juta pada 2022, lalu 371,5 juta pada 2023.
Pada 2024 jumlahnya menembus 504,6 juta orang, dan pada 2025 kembali naik menjadi 549,8 juta orang.
Dalam empat tahun jumlah penumpang melonjak lebih dari tiga kali lipat dari fase pandemi. Ketika volume manusia naik secepat itu, ruang di dalam gerbong menjadi isu ekonomi, sosial, dan keamanan sekaligus.
Pada hari kerja, rata-rata jumlah pengguna KRL mencapai 850 ribu orang. Rekor jumlah pengguna terbanyak dalam satu hari adalah 931.082 penumpang. Itu berdasarkan data PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) pada 2016.
Selain itu, ada 826 KRL yang dioperasikan. Di tiap KRL ada gerbong khusus wanita atau kereta khusus wanita (KKW). Laman resmi KCJ menyebut KKW mulai berlaku pada 1 Oktober 2012.
Latar belakangnya sederhana, banyak pengguna perempuan merasa tidak nyaman saat harus berdesakan dengan penumpang laki-laki pada jam sibuk. Dalam sistem komuter padat, perjalanan 40 menit bisa berubah menjadi pengalaman yang menguras tenaga.
Operator lalu menyediakan ruang khusus sebagai respons operasional, bukan simbolik. Fokus utamanya adalah mengurangi potensi pelecehan dan memberi pilihan perjalanan yang dianggap lebih aman.
Alasan mengapa ditempatkan di depan dan belakang lebih teknis daripada ideologis. Posisi di dua ujung membuat penumpang mudah mengenali lokasi gerbong sejak kereta datang. Arus naik-turun penumpang juga bisa dibagi ke dua sisi rangkaian sehingga konsentrasi massa tidak hanya menumpuk di tengah.
Dari sudut operasi stasiun, pola ini membantu pengguna perempuan langsung menuju titik antrean yang konsisten setiap hari.
Dari perspektif pengaturan bukan fokus keamanan, arus penumpang, penempatan di dua sisi memberi efisiensi yang paling mudah dijalankan tanpa mengubah seluruh komposisi kereta.
Indonesia bukan pelopor pertama. Inggris sudah mengenal kompartemen perempuan sejak 1874 melalui Metropolitan Railway di era awal transportasi urban modern. Saat itu London sedang belajar menghadapi mobilitas massal perempuan di ruang publik.
Kebijakan serupa kemudian menghilang seiring perubahan norma sosial dan desain layanan. Jepang memperkenalkan gerbong khusus perempuan modern pada awal 2000-an, terutama sebagai respons terhadap kasus pelecehan di kereta yang sangat padat. Tokyo kemudian menjadikannya bagian dari tata kelola komuter jam sibuk. Negara lain seperti India, Mesir, Brasil, Meksiko, Iran, dan Thailand juga mengenal format serupa dalam variasi berbeda.
Gerbong perempuan biasanya muncul ketika kota tumbuh lebih cepat daripada kapasitas ruang geraknya.
Ketika jutaan orang harus tiba di kantor pada jam yang sama, ruang privat lenyap. Tubuh bertemu tubuh, jarak sosial runtuh, konflik kecil mudah muncul.
Dalam situasi seperti itu, operator transportasi sering memilih solusi segmentasi ruang karena lebih cepat diterapkan dibanding menambah jalur baru atau membeli armada besar yang memerlukan investasi mahal dan waktu panjang.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google













































