- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG - rupiah melemah sementara surat utang pemerintah menguat.
- Wall Street ambruk terbebani saham AI
- Pasar keuangan hari ini akan mencermati arah negosiasi AS-Iran hingga dampak kenaikan harga minyak, serta keputusan The Fed.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali ditutup beragam pada perdagangan kemarin, Selasa (28/4/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, rupiah ikut tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) turun.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatil pada hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup melemah 0,48% ke level 7.072,39 pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Pelemahan ini sekaligus membuat IHSG terkoreksi dalam tujuh hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan kemarin, sebanyak 350 saham melemah, 339 saham menguat, dan 129 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp17,51 triliun, dengan melibatkan 31,94 miliar saham dalam 2,14 juta kali transaksi.
Investor asing juga masih mencatat aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp2,35 triliun di pasar saham domestik.
Mengutip data IDX, tekanan terhadap IHSG terutama datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pemberat terbesar setelah turun 5,09% dan menyeret IHSG sebesar 8,36 poin.
Selain AMMN, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga masih menjadi beban indeks. DSSA turun 4,34% dan menekan IHSG sebesar 7,05 poin. Saham ini masih berada dalam tekanan setelah menjadi perhatian pasar terkait sentimen MSCI dan kepemilikan saham terkonsentrasi.
Emiten lain yang ikut menekan indeks adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang turun 3,48% dan menyeret IHSG 4,13 poin. PT Astra International Tbk (ASII) juga terkoreksi 1,63% dengan kontribusi 3,99 poin, disusul PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang turun 2,13% dan menekan IHSG 3,97 poin.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona merah. Koreksi terdalam terjadi pada sektor barang konsumen primer yang turun 1,61%, disusul sektor bahan baku yang melemah 1,48%. Sektor infrastruktur juga turun 0,84%, teknologi melemah 0,73%, dan energi terkoreksi 0,42%.
Namun, tidak semua sektor melemah. Sektor keuangan masih mampu menguat 0,92%, disusul sektor properti dan real estat yang naik 0,27%, serta sektor industri yang menguat tipis 0,10%.
Sejumlah saham perbankan besar juga menjadi penopang indeks. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 0,66% dan menyumbang 3,14 poin ke IHSG. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 0,68% dengan kontribusi 2,35 poin, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,42% dan menopang IHSG sebesar 2,34 poin.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (28/4/2026), di tengah penguatan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di zona merah dengan depresiasi 0,15% ke level Rp17.210/US$. Pelemahan ini sekaligus mematahkan penguatan rupiah dalam dua hari perdagangan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.185 hingga Rp17.245/US$.
Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin tidak lepas dari faktor eksternal. Pelaku pasar kembali memburu dolar AS sebagai aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Dolar AS menguat setelah pejabat AS mengatakan Presiden Donald Trump skeptis terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Trump menilai Iran belum menunjukkan itikad baik dalam perundingan, terutama terkait tuntutan utama AS agar Teheran menghentikan pengayaan nuklir dan berkomitmen tidak membuat senjata nuklir.
Ketidakpastian tersebut ikut mendorong kenaikan harga energi dunia. Harga minyak Brent kembali bergerak di atas level US$108 per barel, seiring kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Dalam kondisi seperti ini, ruang penguatan rupiah menjadi lebih terbatas. Ketika dolar AS kembali diburu sebagai aset aman, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung menghadapi tekanan lebih besar.
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun 0,51% ke level 6,779% pada penutupan perdagangan Selasa.
Sebagai catatan, imbal hasil yang turun mengindikasikan harga SBN sedang naik. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelaku pasar mulai masuk atau membeli SBN di pasar sekunder.
Addsource on Google














































