Virus Nipah Disebut Jauh Lebih Mematikan dari Covid-19

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wabah virus Nipah di India telah membuat beberapa negara waspada dengan memperketat pemeriksaan di bandara dan perbatasan. Hingga Selasa (27/1/2026) otoritas kesehatan India melaporkan dua kasus terkonfirmasi di negara bagian Benggala Barat.

Ahli mikrobiologi dan imunologi di University of Otago, Prof Gema Geoghegan, mengatakan merebaknya virus nipah di India perlu menjadi perhatian karena tingkat kematiannya yang diperkirakan mencapai 40-75 persen. Hal ini bahkan jauh lebih mematikan dibanding Covid-19.

"Virus ini jauh, jauh lebih mematikan daripada virus corona. Ini berkali-kali lipat lebih mematikan. Sekitar 50 persen dari orang yang terinfeksi virus ini, sayangnya meninggal dunia," kata Geoghegan, dilansir laman Stuff, Jumat (30/1/2026).

la menjelaskan inang alami virus ini adalah kelelawar buah. Virus pertama kali menular ke manusia melalui babi yang memakan buah terkontaminasi. Penularan ke manusia terjadi melalui daging babi yang terkontaminasi.

Namun, penularan antarmanusia sangat terbatas. Geoghegan mengatakan, manusia harus melakukan kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, seperti air liur atau urine. Virus ini tidak menular melalui udara atau pernapasan.

"Semua wabah virus Nipah sejauh ini relatif terkendali dan tidak pernah dikategorikan sebagai pandemi, karena cara penularannya antar manusia terbatas," kata dia.

Menurut Geoghegan, hingga saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk virus Nipah. Karenanya pengobatan difokuskan untuk meredakan gejala atau keluhan pasien.

Wabah Nipah dilaporkan secara berkala di India, dengan yang terbaru terjadi pada 2026 di negara bagian Kerala. Pada 2018, dari 19 kasus yang dilaporkan, 17 berakhir fatal pada 2023, dua dari enam kasus terkonfirmasi meninggal.

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 saat terjadi wabah di antara peternak babi di Malaysia, menurut WHO. Pada 1999, Singapura melaporkan wabah setelah impor babi sakit dari Malaysia, namun sejak itu tidak ada wabah baru di Malaysia atau Singapura.

Pada 2001, wabah virus Nipah terdeteksi di India dan Bangladesh. Di Bangladesh, wabah dilaporkan hampir setiap tahun sejak saat itu. Pada 2014, wabah ini juga terjadi di Filipina, namun tidak ada kasus baru sejak saat itu.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research