Trump Sibuk Perang, Warga AS Malah Pusing Mikirin Daging

5 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

16 April 2026 18:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Tahun ini, aroma brisket dan steak datang bersama tagihan yang jauh lebih mahal di Negeri Paman Sam. Harga live cattle atau sapi siap potong menembus rekor baru US$ 2,52 per pon atau US$ 5,56/kg atau sekitar Rp 95.215/kg pada 15 April 2026, level tertinggi sepanjang sejarah perdagangan modern komoditas tersebut.

Dalam sebulan terakhir harga naik 8,3%. Dalam setahun melonjak hampir 22%. Di pasar futures CME, kontrak live cattle sempat ditutup di US$ 2,51 per pon, tertinggi sejak data tersedia pada dekade 1960-an pasokan daging sapi Amerika sedang ketat.

Pergerakan Harga Live CattleFoto: Trading Economics
Pergerakan Harga Live Cattle

Melansir CNBC Internasional, populasi ternak sapi AS kini berada di titik terendah sejak 1950-an. Situasinya jauh lebih berat karena jumlah penduduk Amerika saat ini sudah sekitar dua kali lipat dibanding era tersebut. Artinya, lebih banyak mulut yang harus diberi makan dengan basis ternak yang jauh lebih kecil.

Tekanan itu terlihat pada pemotongan ternak. Estimasi Maret 2026 menunjukkan jumlah sapi yang dipotong turun menjadi sekitar 2,2 juta ekor, dari 2,5 juta ekor pada periode sama tahun lalu. Produksi daging sapi ikut menyusut sekitar 300 ribu pon menjadi 1,9 juta pon. Saat barang berkurang dan permintaan tetap jalan, harga biasanya bergerak naik. Itu yang sedang terjadi.

Bagi rumah tangga Amerika, dampaknya langsung terasa di rak supermarket. Harga rata-rata daging sapi giling untuk hamburger mencapai sekitar US$ 6,70 per pon pada Maret, naik 12% dibanding tahun lalu. Produk ini penting karena menjadi bahan utama menu harian warga AS, dari burger rumahan sampai BBQ bersama di backyard.

Restoran cepat saji ikut terjepit. Rantai besar seperti McDonald's, Chipotle, Shake Shack, hingga Cracker Barrel punya eksposur besar terhadap daging sapi. Ketika bahan baku naik, perusahaan harus memilih dua opsi yang sama-sama pahit menaikkan harga menu atau menanggung margin yang menyusut.

Kondisi makin rumit karena biaya peternakan ikut menanjak. Pupuk dan bahan bakar naik akibat konflik Amerika Serikat-Iran yang kembali memanaskan pasar energi. Bagi peternak, biaya memberi makan ternak, mengangkut hasil produksi, hingga mengelola lahan ikut terdorong ke atas. Survei American Farm Bureau Federation menunjukkan hampir 60% petani AS merasa kondisi keuangan mereka memburuk.

Ini membuat ironi politik sulit dihindari. Saat Presiden AS Donald Trump sibuk menghadapi tensi geopolitik dan perang dagang, tekanan justru mendarat di meja makan warga sendiri. Inflasi daging sapi hadir bersamaan dengan kenaikan harga tomat yang sempat melonjak 15% pada Maret. Burger, BLT, dan salad ikon pangan murah kelas menengah Amerika pelan-pelan berubah lebih mahal.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research