Trump Minta Pemilih Anggap Dirinya Ada di Surat Suara, Strategi yang Bisa Jadi Bumerang

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta para pendukungnya memperlakukan pemilu paruh waktu November mendatang seolah-olah namanya sendiri tercantum dalam surat suara. Seruan itu menunjukkan betapa besar Partai Republik masih bergantung pada kemampuan Trump menggerakkan basis pemilihnya, justru ketika popularitas sang presiden sedang berada di titik terendah.

“Berpura-puralah saya ada di surat suara,” kata Trump dalam cuplikan wawancara dengan pembawa acara Fox News Trey Gowdy yang ditayangkan Sean Hannity, Rabu (26/8/2027) waktu setempat.

Trump mengakui ada persoalan yang selama ini menghantui Partai Republik: pendukung fanatiknya belum tentu datang ke tempat pemungutan suara apabila Trump sendiri tidak sedang mencalonkan diri.

“Ada teori bahwa ketika Trump ada di surat suara, mereka menang. Ketika dia tidak ada di surat suara, orang-orang tidak datang untuk memilih,” ujar Trump.

Karena itu, ia meminta para pendukungnya tetap memberikan suara dalam pemilu paruh waktu 3 November 2026.

“Saya meminta masyarakat untuk datang dan memilih. Berpura-puralah saya ada di surat suara,” katanya.

Seruan tersebut bukan pertama kalinya disampaikan Trump. Dalam kampanye di Myrtle Beach, South Carolina, pada 21 Agustus, ia bahkan secara terbuka meminta massa membayangkan dirinya kembali menjadi kandidat.

“Yang benar-benar saya ingin Anda lakukan adalah berpura-pura, tolong, bahwa saya ada di surat suara. Datanglah dan pilih,” kata Trump ketika itu.

Namun, strategi menjadikan pemilu sela sebagai referendum tidak langsung terhadap dirinya membawa risiko besar.

Sebab, kurang dari tiga bulan menjelang pemilu, Trump memasuki periode politik yang jauh berbeda dibandingkan saat memenangkan pemilihan presiden 2024.

Popularitas Trump Jatuh ke 33 Persen

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan pada 21–24 Agustus menunjukkan tingkat penerimaan publik terhadap Trump bertahan di 33 persen, menyamai titik terendah sepanjang masa kepresidenannya.

Angka tersebut menjadi sinyal berbahaya bagi Partai Republik menjelang pemilu sela, terutama karena ketidakpuasan tidak lagi terbatas pada persoalan partisan.

Ekonomi kini menjadi isu terbesar yang disebut warga Amerika. Pada saat yang sama, perang berkepanjangan melawan Iran semakin kehilangan dukungan publik.

Hanya sekitar 31 persen warga Amerika yang mendukung operasi militer AS terhadap Iran, turun dari 37 persen pada Maret. Bahkan dukungan di antara pemilih Republik ikut melemah.

Sekitar 83 persen responden juga memperkirakan konflik dengan Iran akan berlangsung panjang. Angka itu bertolak belakang dengan ekspektasi awal bahwa operasi militer tersebut dapat diselesaikan dengan cepat.

Perang yang kini telah berjalan sekitar enam bulan itu bukan hanya menjadi persoalan kebijakan luar negeri. Dampaknya mulai terasa langsung di kantong pemilih Amerika.

Gangguan terhadap jalur energi di kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz, ikut mendorong harga minyak dan bensin naik.

Harga bensin AS bahkan telah melampaui 4 dolar AS per galon, atau sekitar satu dolar lebih mahal dibandingkan setahun sebelumnya. Situasi tersebut menjadikan isu Iran semakin sulit dipisahkan dari persoalan biaya hidup yang dihadapi masyarakat Amerika.

Trump pada Kamis dijadwalkan bertemu perusahaan penyulingan dan pengecer bahan bakar AS untuk membicarakan cara menekan harga bensin.

Pertemuan itu memperlihatkan semakin besarnya tekanan politik yang dihadapi Gedung Putih menjelang pemilu November. Partai Republik harus mempertahankan mayoritasnya di Kongres ketika pemilih semakin mengaitkan perang Iran dengan kenaikan biaya energi.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research