Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. Keputusan ini diambil di tengah besarnya perpecahan suara dalam tubuh The Fed.
The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/4/2026) setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Seperti diketahui, The Fed pada 2025 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%. Pada Januari - April 2026, The Fed menahan suku bunga acuan.
The Fed Terbelah
Rapat kemarin menjadi pertemuan terakhir Ketua Jerome Powell sebagai pimpinan. Rapat tersebut diwarnai dengan gelombang pejabat yang menentang pernyataan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut masih mungkin dilakukan.
Suara anggota FOMC terbelah dengan hasil 8-4, di mana para pejabat memiliki alasan berbeda atas pilihan mereka. Jumlah dissenting vote (suara berbeda) in adalah yang tertinggi sejak Oktober 1992 atau 34 tahun terakhir.
Gubernur Stephen Miran kembali menyampaikan dissent demi mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin, seperti yang ia lakukan sejak bergabung ke bank sentral pada September 2025.
Tiga suara "tidak" lainnya berasal dari Presiden Fed regional: Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie Logan dari Dallas. Mereka setuju suku bunga ditahan, tetapi menolak adanya bias dovish dalam pernyataan resmi.
Masalah utama ketidaksepakatan adalah kalimat berikut:
"Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap target suku bunga dana federal, Komite akan secara hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko."
Frasa tersebut mengindikasikan langkah berikutnya kemungkinan penurunan suku bunga, karena penggunaan kata "tambahan" menunjukkan aksi terakhir The Fed adalah pemangkasan.
Hammack, Kashkari, Logan, dan beberapa pejabat lain telah memperingatkan bahaya inflasi yang persisten. Harga yang lebih tinggi biasanya berarti suku bunga lebih tinggi pula.
Dalam pernyataan resminya The Fed menulis,"Inflasi masih tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini. Perkembangan di Timur Tengah turut menyebabkan tingginya ketidakpastian terhadap prospek ekonomi".
Kalimat ini memiliki perubahan dari pertemuan sebelumnya yang menyebut inflasi hanya "agak" tinggi.
Selama delapan tahun menjabat, Powell umumnya mampu menjaga konsensus kuat di dalam komite, meski The Fed berjuang menjinakkan inflasi dan menghadapi tekanan politik agresif dari Gedung Putih.
Sebagai catatan, inflasi AS melonjak menjadi 3,3% pada Maret 2026, menjadi level tertinggi sejak Mei 2024. Inflasi dikhawatirkan akan kembali naik sejalan dengan lonjakan harga minyak.
Di sisi lain mandat ganda The Fed, kekhawatiran soal pasar tenaga kerja mulai mereda. Payroll nonfarm Maret naik 178.000, lebih baik dari perkiraan, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Untuk April, ADP melaporkan pertumbuhan payroll swasta mingguan rata-rata sekitar 40.000, menunjukkan pasar kerja masih sehat meski tidak terlalu kuat.
Sebelumnya pada hari yang sama, Komite Perbankan Senat AS meloloskan nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya melalui voting garis partai. Senat penuh diperkirakan akan menyetujui, membuka jalan perubahan kepemimpinan pertama sejak Powell mengambil alih pada 2018.
Dalam konferensi persnya, Powell juga mengucapkan selamat kepada Warsh atas kemajuan proses pengangkatannya.
Dia juga memberi sinyal akan tetap berada di Dewan Gubernur untuk waktu yang belum ditentukan. Ia mengatakan masih menunggu investigasi renovasi gedung The Fed secara tuntas, transparan, dan final.
Tanggapan Market
Bursa saham AS, Wal Street, melemah menyambut keputusan The Fed. Indeks Dow Jones turun 280,12 poin atau 0,57% ke level 48.861,81, mencatat penurunan lima hari berturut-turut. S&P 500 turun tipis 0,04% ke posisi 7.135,95, sementara Nasdaq Composite naik tipis 0,04% ke 24.673,24.
"Dalam masa jabatan yang umumnya ditandai konsensus dan sedikit perbedaan suara, Ketua Powell menutup masa jabatannya dengan 4 dissent," kata Brent Schutte, CIO Northwestern Mutual, dikutip dari CNBC International.
Besarnya dissenting menunjukkan kemungkinan perpecahan serupa berlanjut ketika ketua baru yang ingin mengubah arah The Fed mengambil alih. Ini juga mencerminkan ketidakpastian prospek ekonomi jangka pendek akibat sinyal pasar tenaga kerja dan pertumbuhan yang saling bertentangan di tengah inflasi yang bertahan di atas 3% sejak akhir 2023.
Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve berakhir pada 15 Mei, tetapi masa jabatannya yang terpisah sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed yang sangat berpengaruh baru akan berakhir pada Januari 2028.
(mae/mae)
Addsource on Google














































